IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia

IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia

Ekonomi | sindonews | Minggu, 7 Juni 2026 - 20:14
share

Tekanan yang terus terjadi di pasar keuangan Indonesia tercermin dari koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mendekati 40 dari puncaknya pada Januari 2026 serta pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap Indonesia.

"Yang sedang dikoreksi pasar bukan hanya saham dan rupiah. Yang sedang dinilai ulang adalah risiko Indonesia itu sendiri. Karena itu, gejolak yang terjadi saat ini perlu dibaca lebih dalam daripada sekadar volatilitas pasar biasa," ujar Analis Ekonomi Politik Menteng Kleb sekaligus Co-Founder FINE Institute Kusfiardi dalam pernyataannya dikutip pada Minggu (7/6/2026).

Baca Juga:Heboh 'Sell Indonesia' saat Rupiah-IHSG Terpuruk, Muncul Sosok Lama Bikin Kepercayaan Runtuh

Menurut Kusfiardi, tekanan yang terjadi tidak bisa dijelaskan hanya sebagai faktor eksternal seperti penguatan dolar Amerika Serikat (AS), konflik geopolitik, maupun tingginya suku bunga global. Faktor-faktor tersebut memang menjadi pemicu, namun kedalaman koreksi yang terjadi menunjukkan adanya persoalan domestik yang lebih mendasar terutama terkait struktur pasar yang masih dangkal dan tingginya ketergantungan terhadap arus modal asing.

Ia menilai peristiwa rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026 menjadi salah satu indikator kuat mengenai besarnya pengaruh institusi keuangan global terhadap pasar Indonesia. Keluarnya sejumlah saham besar dari indeks tersebut memicu arus keluar dana asing dan mempercepat tekanan terhadap pasar saham maupun nilai tukar rupiah."MSCI memang bukan regulator Indonesia. Namun keputusan lembaga indeks global mampu memengaruhi likuiditas, biaya modal, dan persepsi risiko pasar Indonesia secara langsung. Ini menunjukkan bahwa pasar kita masih sangat sensitif terhadap keputusan aktor keuangan global," ujarnya.

Kusfiardi juga menyoroti perbedaan tingkat tekanan yang terjadi antara pasar saham dan nilai tukar. Sejak awal tahun hingga awal Juni 2026, rupiah melemah sekitar 10, sedangkan IHSG terkoreksi hampir 40 dari level tertingginya.

Menurut dia kesenjangan tersebut menunjukkan investor tidak hanya mengurangi eksposur terhadap rupiah, tetapi juga melakukan penilaian ulang terhadap aset dan risiko Indonesia secara keseluruhan. "Jika rupiah melemah 10 tetapi pasar saham jatuh hampir empat kali lebih dalam, maka ada pesan yang lebih besar daripada sekadar penguatan dolar AS. Pasar sedang melakukan penilaian ulang terhadap prospek dan risiko Indonesia," katanya.

Di tengah arus keluar modal asing, investor domestik dinilai berhasil menjadi penyangga pasar. Namun, kemampuan tersebut masih memiliki keterbatasan dan belum dapat diartikan sebagai tanda bahwa struktur pasar keuangan nasional sudah kuat.Ia menilai tekanan yang sedang berlangsung justru menunjukkan besarnya beban yang harus diserap oleh pelaku domestik. Karena itu, perhatian tidak boleh hanya tertuju pada stabilitas likuiditas, tetapi juga pada aspek yang lebih mendasar, yakni kredibilitas pasar.

Menurut Kusfiardi, pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menempuh berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valuta asing, dukungan terhadap pasar obligasi, relaksasi buyback saham, hingga penyesuaian kebijakan perdagangan.

Baca Juga:Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter

Meski demikian, pasar saat ini dinilai tidak hanya menguji ketahanan rupiah maupun level IHSG. "Pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, dan kemampuan negara menjaga stabilitas sistem keuangan. Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukan semata persoalan likuiditas, tetapi juga persoalan kepercayaan," tegasnya.

FINE Institute menilai proyeksi optimistis mengenai penguatan rupiah perlu disikapi secara hati-hati. Secara teoritis, mata uang domestik dapat menguat apabila terjadi pembalikan arus modal asing, peningkatan devisa ekspor, membaiknya sentimen global, serta pulihnya kepercayaan investor.Namun, dengan IHSG yang masih berada dalam tren koreksi tajam, rupiah yang bertahan di salah satu level terlemah dalam dua dekade terakhir, serta arus keluar modal asing yang masih berlangsung, pasar dinilai belum melihat faktor fundamental yang cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara signifikan dalam waktu dekat.

"Pasar tidak bekerja berdasarkan target atau harapan semata. Pasar bekerja berdasarkan kepercayaan. Selama faktor-faktor yang menjadi sumber kekhawatiran investor belum terjawab, maka volatilitas masih akan tetap tinggi," ujar Kusfiardi.

Ia menambahkan, gejolak pasar sepanjang Mei hingga awal Juni 2026 menjadi pelajaran penting mengenai tingginya ketergantungan pasar keuangan Indonesia terhadap modal asing dan sentimen global. Sebab itu, agenda yang mendesak tidak hanya menjaga stabilitas jangka pendek, melainkan juga melakukan reformasi struktural melalui pendalaman pasar keuangan domestik, penguatan investor institusional nasional, peningkatan free float, perbaikan tata kelola pasar, serta penciptaan kepastian kebijakan yang lebih kuat.

Topik Menarik