IHSG Hari Ini Dibuka Menghijau ke 6.187, Ada 407 Saham Melompat Tinggi
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini pada perdagangan, Senin (25/5/2026) dibuka menguat 0,42 ke level 6.187,65. Semenit berjalan, IHSG melanjutkan penguatan 0,98 ke 6.222, dengan 407 saham di zona hijau, 116 melemah, dan 436 lainnya stagnan.
Pada pembukaan IHSG, tercatat transaksi awal menyentuh Rp718 miliar, dengan volume 1,3 miliar lembar saham. Indeks LQ45 naik 1,04 ke 626, indeks JII menguat 0,27 ke 387, indeks MNC36 menguat 0,92 persen ke 279, dan IDX30 naik 1,14 ke 358.
Untuk indeks sektoral semua kompak berada di zona hijau seperti konsumer non siklikal, keuangan, properti, transportasi, industri, bahan baku, konsumer siklikal, infrastruktur, industri, teknologi, kesehatan. Sedangkan hanya sektor energi yang melemah.
Baca Juga: IHSG Sempat Anjlok Parah ke Level Terendah, Pekan Ini Berpeluang Cetak Rebound Terbatas
Tiga saham yang memimpin top gainers antara lain PT Indo Premier Investment Management Tbk (XIIF), PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA), dan PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA). Sedangkan top losersnya dihuni oleh PT Asia Pramulia Tbk (ASPR), PT Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT) dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA). Sebelumnya diproyeksikan meski IHSG berhasil menguat 1,10 pada perdagangan Jumat, potensi pemulihan indeks diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026, terutama pada saham-saham big caps yang masih berpotensi mengalami tekanan jual.
Selain itu, pasar juga diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan volatilitas tinggi pada rentang support 5.996–5.899 dan resistance 6.318-6.459.
Baca Juga: IHSG Sepekan Ambruk 8,35, Kapitalisasi Pasar Merosot Tajam ke Rp10.635 Triliun
Area 5.899 menjadi level penting untuk menjaga peluang rebound jangka pendek, sementara pergerakan di atas 6.318 berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan. Meski demikian, tekanan jual diperkirakan mulai mereda setelah periode rebalancing berakhir.
Sehingga membuka peluang bagi IHSG untuk bergerak lebih stabil secara bertahap, terutama apabila rupiah tetap terjaga dan sentimen global membaik seiring perkembangan negosiasi AS–Iran yang berpotensi menurunkan tekanan pada harga energi dan yield US Treasury.










