Eks Jenderal Amerika: Perang AS-Israel terhadap Iran Kali Ini Bakal Habis-habisan
Seorang jenderal purnawirawan terkenal Amerika Serikat (AS) menyatakan perang gabungan lanjutan Amerika dan Israel terhadap Iran akan berlangsung dengan kekuatan penuh dan habis-habisan. Menurutnya, operasi militer kali ini tidak akan setengah-setengah lagi.
Jenderal (Purn) Jack Keane, penjabat Kepala Staf Angkatan Darat AS pada awal perang Irak dan Afghanistan, mengatakan kepada Fox News Channel bahwa setelah penolakan terbaru Republik Islam Iran terhadap proposal perdamaian Presiden Donald Trump, Amerika dan Israel siap untuk memulai kembali serangan menggunakan intelijen yang dikumpulkan sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April.
Baca Juga: Trump: AS Batal Serang Iran atas Permintaan 3 Negara Arab
“Ini akan menjadi operasi gabungan dengan Amerika Serikat dan Israel yang akan beroperasi dengan kekuatan penuh, habis-habisan, tanpa setengah-setengah sama sekali,” kata Keane dalam program “America’s Newsroom” Fox News Channel.
“Presiden telah menunjukkan kesabaran yang luar biasa sejak gencatan senjata [dimulai] pada tanggal 8 April. Dan kami telah mencoba untuk mencapai kesepakatan dengan mereka, dan tampaknya itu tidak mungkin,” ujarnya.Keane, yang sekarang memimpin Institute for the Study of War (ISW) yang berbasis di Washington DC, mengeklaim AS memiliki pemahaman yang jelas tentang kemampuan militer Iran yang tersisa, mencatat bahwa serangan udara gabungan Amerika-Israel yang dimulai pada 28 Februari hanya menyisakan 30 dari target yang dituju sekutu.Itu, kata Keane, akan menjadi target yang akan dihancurkan AS dan Israel selanjutnya, termasuk fasilitas yang terkait dengan program rudal dan nuklir Iran.
Bersama dengan target militer, Keane juga meyakini AS akan menghancurkan sumber pendapatan Iran, ancaman yang telah berulang kali dilontarkan Trump terhadap Teheran.
“Jelas, blokade Pulau Kharg berdampak signifikan,” kata Keane tentang blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz. “Namun serangan ini akan semakin memperburuk kemampuan mereka untuk mendapatkan sumber pendapatan."
“Tanpa pendapatan, sulit untuk melihat bagaimana rezim ini dapat bertahan,” imbuh dia.
Iran bertaruh bahwa penutupan Selat Hormuz dan penaburan kekacauan di pasar energi global akan memaksa AS untuk menghentikan operasi militer, dengan harapan Teheran bahwa ekonominya yang sedang kesulitan akan bertahan hingga saat ini.“Mereka ingin mengulur waktu, meningkatkan tekanan politik [dan] ekonomi pada presiden," ujarnya. “Dan mereka sama sekali tidak peduli dengan penderitaan orang-orang,” lanjut Keane.
Komentar Keane pada hari Senin muncul setelah Trump memperingatkan Iran untuk segera menyetujui kesepakatan damai atau akan ada konsekuensinya.
“Bagi Iran, Waktu Terus Berjalan, dan mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT PENTING,” tulis Trump di Truth Social pada hari Minggu.
Terlepas dari argumen Keane, faktanya Trump telah membatalkan rencana serangan lanjutan AS terhadap Iran yang sedianya akan diluncurkan pada Selasa (19/5/2026).
Menurut Trump, serangan dibatalkan atas permintaan dari para pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).“Saya telah diminta oleh Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman Al Saud, dan Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, untuk menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Republik Islam Iran, yang dijadwalkan besok, karena negosiasi serius sedang berlangsung, dan menurut pendapat mereka, sebagai Pemimpin dan Sekutu yang Hebat, kesepakatan akan dibuat, yang akan sangat dapat diterima oleh Amerika Serikat, serta semua negara di Timur Tengah, dan sekitarnya,” tulis Trump di Truth Social pada hari Senin.
Sementara itu, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei; Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa kekuatan militer dan tekad bangsa Iran yang tangguh akan memaksa AS untuk mundur dan menyerah.
Dalam sebuah unggahan di X pada Senin malam, mantan panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu mengejek pendekatan Washington yang tidak konsisten dan pengecut.
"Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat waktu untuk serangan militer dan kemudian membatalkannya sendiri, dengan harapan sia-sia untuk memaksa bangsa dan pejabat Iran untuk menyerah!” tulis Rezaei.
“Tangan besi dari angkatan bersenjata yang kuat dan bangsa Iran yang agung akan memaksa mereka untuk mundur dan menyerah,” imbuh dia.










