Sejarah Persia Menjadi Iran: dari Kudeta hingga Operasi CIA yang Mengubah Timur Tengah

Sejarah Persia Menjadi Iran: dari Kudeta hingga Operasi CIA yang Mengubah Timur Tengah

Global | sindonews | Minggu, 17 Mei 2026 - 14:05
share

Republik Islam Iran sedang berperang melawan Amerika Serikat (AS) dan Iran meski saat ini sedang memasuki fase gencatan senjata. Ribuan tahun silam, dunia mengenal republik itu sebagai Persia—tanah para raja, pujangga, dan imperium besar yang pernah membuat Romawi hingga Ottoman gentar.

Sekarang, Republik Islam Iran tercatat sebagai negara revolusioner yang kerap menjadi pusat konflik Timur Tengah, benturan geopolitik global, hingga perang bayangan antara Barat dan dunia Islam.

Baca Juga: Situasi Genting, Iran Juga Siap Perang Lagi Melawan AS dan Israel

Perjalanan Persia menjadi Iran bukan sekadar pergantian nama. Ia adalah kisah panjang tentang kerajaan yang runtuh, intervensi asing, kudeta berdarah, revolusi atas nama agama, dan perebutan pengaruh global yang tak pernah benar-benar berhenti.

Di balik wajah modern Iran hari ini, sejarah negeri itu dipenuhi momen-momen “pengkhianatan politik” yang membentuk karakter keras Republik Islam sekarang.

 

Persia, Negeri Imperium yang Pernah Menguasai Dunia

Secara historis, Persia merupakan salah satu peradaban tertua dunia. Kekaisaran Persia kuno berdiri sejak era Dinasti Achaemenid yang didirikan oleh Cyrus the Great pada abad ke-6 Sebelum Masehi (SM).

Wilayah kekuasaannya membentang dari Asia Tengah hingga Mesir. Persia menjadi simbol kekuatan politik, budaya, dan perdagangan dunia kuno. Bahkan dalam sejarah Barat mendominasi dunia, Persia selalu muncul sebagai rival besar Yunani dan Romawi.

Namun seiring waktu, imperium itu mengalami jatuh bangun—ditaklukkan Alexander Agung, bangkit kembali lewat Sassaniyah, lalu berubah total setelah penaklukan Islam Arab pada abad ke-7.

Meski Islam masuk, identitas Persia tidak pernah benar-benar hilang. Bahasa, budaya, dan nasionalisme Persia tetap bertahan—dan inilah yang membedakan Iran dari banyak negara Arab hingga sekarang.

Dinasti Safavid, Awal Iran Modern dan Lahirnya Identitas Syiah

Mengutip dari Britannica, Minggu (17/5/2026), banyak sejarawan menyebut Iran modern lahir pada era Dinasti Safavid abad ke-16. Dinasti ini menjadikan Islam Syiah sebagai agama resmi negara.

Keputusan itu sangat menentukan arah sejarah Iran hingga kini.Saat mayoritas dunia Islam menganut Sunni, Persia justru membangun identitas Syiah yang kuat. Identitas inilah yang kemudian menjadi fondasi ideologi Republik Islam Iran modern.

Namun memasuki abad ke-19, Persia mulai melemah. Kekaisaran Rusia dan Inggris perlahan masuk mengendalikan ekonomi dan politik negeri itu.

Pada era Dinasti Qajar, Persia menjadi “medan perebutan” antara Inggris dan Rusia dalam persaingan geopolitik yang dikenal sebagai "The Great Game".

Pemerintah Persia saat itu dianggap lemah, korup, dan terlalu bergantung pada kekuatan asing.

Ketidakpuasan rakyat melahirkan Revolusi Konstitusi Persia 1905–1911, sebuah gerakan yang memaksa raja menerima parlemen dan konstitusi modern. Banyak analis menyebut revolusi ini sebagai salah satu eksperimen demokrasi pertama di Timur Tengah.

Namun stabilitas tidak pernah benar-benar tercapai. Salah satu titik balik terbesar terjadi pada 1921 ketika seorang perwira militer bernama Reza Shah Pahlavi melakukan kudeta militer.

Dia kemudian mendirikan Dinasti Pahlavi pada 1925. Reza Shah ingin memodernisasi Persia seperti model Turki sekuler ala Mustafa Kemal Ataturk. Dia membangun infrastruktur, memperkuat militer, mengurangi pengaruh ulama, dan mendorong western-isasi.

Pada 1935, dia meminta dunia internasional menggunakan nama “Iran” alih-alih Persia. Nama Iran sendiri berarti “Tanah Bangsa Arya”.

Namun modernisasi ala Reza Shah dibangun dengan tangan besi. Oposisi ditekan dan kekuasaan dipusatkan pada monarki. Pada akhirnya, Reza Shah Pahlavi dipaksa turun takhta, digantikan putranya yang lemah; Mohammad Reza Pahlavi.Lantaran kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi lemah, kubu oposisi di parlemen muncul kuat, di mana politisi bernama Mohammad Mossadegh menjadi Perdana Menteri (PM) Iran yang disegani.

Operasi Rahasia CIA Mengubah Timur Tengah

Jika ada satu peristiwa yang paling membentuk kebencian Iran terhadap Amerika Serikat hingga sekarang, maka jawabannya adalah kudeta 1953.

Tokoh sentralnya adalah Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh.

Mosaddegh sangat populer karena menasionalisasi industri minyak Iran yang saat itu dikuasai perusahaan Inggris. Langkah itu membuat Inggris murka.

Dalam konteks Perang Dingin, Amerika Serikat khawatir Iran jatuh ke pengaruh Soviet. Akhirnya, Badan Intelijen Pusat (CIA) AS bersama badan intelijen Inggris, MI6, menjalankan operasi rahasia bernama "Operasi Ajax".

Kudeta itu berhasil menggulingkan Mosaddegh pada Agustus 1953 dan kembali memperkuat kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Peristiwa ini menjadi luka sejarah mendalam bagi rakyat Iran.

Banyak warga Iran percaya demokrasi mereka dihancurkan oleh campur tangan Barat demi minyak. CIA sendiri akhirnya mengakui keterlibatannya dalam kudeta tersebut pada 2013.

Setelah kudeta 1953, Shah Mohammad Reza Pahlavi menjadi sekutu utama Barat di Timur Tengah.Iran berkembang cepat, di mana infrastruktur modern dibangun, pendidikan diperluas, perempuan mendapat hak lebih besar, dan industri dan militer tumbuh pesat. Program reformasi besar itu dikenal sebagai “White Revolution”.

Namun di balik modernisasi itu, muncul masalah besar seperti ketimpangan ekonomi, korupsi elite, represi politik, ketergantungan pada AS, dan kemarahan ulama Syiah.

Polisi rahasia yang dikenal sebagai SAVAK menjadi simbol ketakutan rakyat karena dikenal brutal terhadap oposisi.

Banyak kelompok—dari ulama, nasionalis, kiri, hingga mahasiswa—akhirnya bersatu melawan Shah.

Revolusi 1979, Iran Berubah Total

Pada 1979, dunia menyaksikan salah satu revolusi paling mengejutkan abad ke-20. Dipimpin ulama karismatik Ayatollah Ruhollah Khomeini, rakyat Iran berhasil menggulingkan Shah.

Monarki Persia yang telah berdiri ribuan tahun runtuh, berubah nama menjadi Republik Islam Iran.

Inilah momen ketika agama bukan lagi sekadar identitas budaya, melainkan menjadi fondasi sistem negara. Khomeini membangun konsep "Wilayat al-Faqih", yakni kekuasaan tertinggi berada di tangan ulama.

Sejak saat itu, Iran menjadi negara dengan sistem unik: ada presiden dan parlemen, tapi keputusan tertinggi tetap di tangan Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader).

Ironisnya, setelah revolusi berhasil, Iran justru memasuki era penuh intrik baru.Kelompok kiri, nasionalis, hingga liberal yang sebelumnya ikut menggulingkan Shah mulai disingkirkan oleh kelompok ulama revolusioner.

Iran juga menghadapi perang panjang melawan Irak (1980–1988), sanksi ekonomi Barat, konflik dengan Israel, hingga perseteruan berkepanjangan dengan Amerika Serikat.

Sejumlah upaya kudeta dan pemberontakan internal juga terjadi pasca-revolusi, termasuk percobaan kudeta militer Nojeh pada 1980 yang gagal.

Sejak saat itu, elite Iran sangat obsesif terhadap ancaman infiltrasi asing dan perubahan rezim.

Mengapa Iran Sangat Anti-Barat?

Bagi banyak orang Barat, Iran sering dipandang agresif dan anti-Amerika. Namun dari sudut pandang Iran, sejarah mereka dipenuhi pengalaman intervensi asing, seperti Inggris menguasai minyak Persia, Rusia ikut memecah pengaruh politik, CIA membantu kudeta 1953, dan Saddam Hussein didukung Barat saat perang Iran-Irak.

Narasi inilah yang terus dipakai pemerintah Iran untuk mempertahankan legitimasi politiknya.

Bahkan hingga kini, slogan “Death to America” bukan sekadar retorika ideologis, melainkan bagian dari memori sejarah nasional Iran terhadap campur tangan asing.

Iran hari ini adalah hasil dari ribuan tahun sejarah, imperialisme, modernisasi paksa, kudeta, dan revolusi. Di satu sisi, Iran mewarisi kebanggaan Persia kuno sebagai peradaban besar dunia. Di sisi lain, negara itu juga membawa trauma panjang akibat perebutan kekuasaan dan intervensi asing.

Karena itulah, memahami Iran tidak bisa hanya melihat konflik hari ini. Untuk memahami Republik Islam Iran modern, dunia harus melihat kembali sejarah Persia—negeri yang berkali-kali jatuh, tetapi selalu berhasil bangkit dalam bentuk yang berbeda.

Topik Menarik