Profil Monica Witt, Eks Perwira Angkatan Udara AS yang Membelot ke Iran
Monica Elfriede Witt, mantan perwira Angkatan Udara Amerika Serikat (AS), sedang diburu Biro Investigasi Federal (FBI) karena membelot ke Iran sejak 2013. Tak tanggung-tanggung, FBI menawarkan hadiah USD200.000 (lebih dari Rp3,5 miliar) untuk memburunya.
Witt diyakini FBI masih mendukung aktivitas intelijen Teheran, tindakan yang membuat Amerika marah karena berpihak pada negara musuh.
Baca Juga: Eks Perwira AS Membelot ke Iran, FBI Tawarkan Hadiah Rp3,5 Miliar untuk Memburunya
"Dia diyakini masih terlibat dalam mendukung aktivitas ilegal Iran," kata FBI dalam sebuah pernyataan.
“FBI belum melupakan dan percaya bahwa pada saat kritis dalam sejarah Iran ini, ada seseorang yang mengetahui sesuatu tentang keberadaannya,” ujar Daniel Wierzbicki, pejabat kontra-intelijen FBI di Washington.
“FBI ingin mendengar dari Anda agar Anda dapat membantu kami menangkap Witt dan membawanya ke pengadilan,” paparnya.Witt sebelumnya adalah seorang perwira kontra-intelijen di Kantor Investigasi Khusus Angkatan Udara. Dia pernah bertugas di Timur Tengah dari tahun 2003 hingga 2008.Profil Monica Witt, Perwira AS yang Membelot ke Iran
Monica Elfriede Witt lahir di Texas pada 8 April 1979. Dia adalah mantan kontraktor pertahanan yang juga mantan perwira kontra-intelijen di Kantor Investigasi Khusus Angkatan Udara Amerika Serikat.Gara-gara membelot ke Iran pada 2013, dia menjadi buronan terkemuka FBI. Witt diburu karena dakwaan spionase terhadap Amerika Serikat pada tahun 2018.
Dari tahun 2003 hingga 2008, pekerjaannya melibatkan tugas kontra-intelijen yang membawanya ke Timur Tengah. Asisten Jaksa Agung Amerika Serikat, John Demers, mendakwa Witt pada tahun 2018 dan mengeklaim bahwa dia kemungkinan besar memberikan informasi kepada Iran tentang keberadaan "program pengumpulan intelijen yang sangat rahasia" dan identitas seorang perwira intelijen AS, sehingga membahayakan nyawa individu tersebut.
Gedung Putih Ungkap Putaran Perundingan Selanjutnya dengan Iran Sangat Mungkin di Islamabad
Witt bergabung dengan Angkatan Udara AS pada tahun 1997 sebagai ahli bahasa dan mempelajari bahasa Persia di Institut Bahasa Pertahanan sebelum menjadi Analis Bahasa Kriptologi Udara. Dia kemudian ditugaskan ke Kantor Investigasi Khusus Angkatan Udara sebagai agen khusus kontra-intelijen hingga keluar dari Angkatan Udara pada tahun 2008. Dia melanjutkan pekerjaannya di bidang intelijen sebagai kontraktor militer hingga tahun 2010.
Pada 2012, Witt—yang sebelumnya penganut Kristen—masuk Islam saat berada di Iran. Witt semakin fokus pada agama dan wilayah tersebut.
Tak lama setelah berada di Iran, dia segera berafiliasi dengan Marzieh Hashemi, seorang yang diduga sebagai agen intelijen Iran. Dengan bantuan Hashemi, Witt membelot ke Iran pada tahun 2013 dan memberikan bantuan serta intelijen kepada republik Islam tersebut yang berasal dari pekerjaannya untuk dan dengan pemerintah AS.
The New York Times melaporkan bahwa ibunya meninggal tak lama sebelum Witt memasuki dinas aktif pada tahun 1997, dan bahwa dia telah menjauh dari kerabatnya pada tahun 2008. Media itu juga melaporkan bahwa pada tahun 2011, keuangan Witt berantakan. Dia sempat pindah ke perumahan bersubsidi berkualitas rendah di Falls Church, Virginia, dan pernah menjadi tunawisma.
Dalam sebuah wawancara tahun 2013 dengan International Quran News Agency (IQNA), Witt menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen yang tidak taat beribadah pada saat pendaftaran militernya di AS. Dia mengatakan bahwa misi ke Irak dan keinginan untuk memahami orang Irak yang mendorongnya untuk mempelajari Al-Qur'an. Witt menggambarkan antusiasmenya terhadap kitab suci Islam tersebut, dengan mengatakan, "Hal itu sangat mengesankan saya sehingga saya tidak pernah membayangkannya. Saya menjadi sangat tertarik pada Al-Qur'an sehingga saya mempelajarinya setiap malam."
Witt menggambarkan teman-temannya, keluarganya, dan militer AS dipengaruhi oleh propaganda anti-Iran dan anti-Islam yang luas di AS, dan tidak menerima perubahan agamanya. Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) menuduh bahwa Witt muncul di televisi di Iran dan masuk Islam di sana.
Dakwaan DOJ mencantumkan "Fatemah Zahra" dan "Narges Witt" sebagai nama samaran yang juga digunakan Witt. Adam Goldman, jurnalis dari New York Times melaporkan: "Di dalam pemerintahan, beberapa pejabat memanggilnya 'Wayward Storm'."










