Bikin Bangga, Siswa SMPK 4 Penabur Borong Belasan Medali di German Math Olympiad 2026
Brighita L Bangun, Giovinco Wilson Xie, Alexander Leeson, dan Cherilyn Yui, empat siswa SMPK 4 PENABUR berhasil memborong belasan medali kemenangan di kompetisi German Math Olympiad alias GMO yang berlangsung pada 28 April - 3 Mei 2026 di Frankfurt, Jerman.
Brighita meraih dua medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu. Giovinco meraih dua medali emas dan satu medali perak. Alexander meraih satu medali emas, satu medali perak, dan satu medali perunggu. Sementara itu, Cherilyn meraih tiga medali perak dan satu medali perunggu.
Baca juga: Cerita Kalya, Siswi Binus School Serpong yang Berhasil Diterima 7 Kampus Top Dunia
Dengan peserta ratusan ribu pelajar dari berbagai belahan dunia, GMO menjadi salah satu ajang dengan partisipan terbanyak dalam sejarah kompetisi internasional.
Dalam perjalanan menuju panggung GMO, Brighita, Giovinco, Alexander, dan Cherilyn terlebih dahulu melalui tahapan preliminary round dan final round yang berlangsung online. Dari situ, mereka terpilih dan berkesempatan mewakili Indonesia untuk terbang langsung ke Jerman mengikuti grand final.
“Saya mengetahui informasi dari guru di sekolah dan mendaftar pada Oktober 2025. Pada dua tahapan yang berlangsung online, kompetisi ini memiliki aturan yang sangat ketat, seperti kamera harus menyala, share screen harus jelas, tidak boleh keluar dari website, dan seterusnya. Jika ada syarat yang dilanggar ada pengurangan poin hingga diskualifikasi. Puji Tuhan, saya dan teman-teman berhasil lolos di babak preliminary round dan berhak ikut grand final di Jerman,” cerita Brighita, melalui siaran pers, Kamis (14/5/2026).Baca juga: Cerita Vira dan Aimee, Angkat Isu Pendidikan dan Raih Juara di Korea Youth Summit 2026
Keempat siswa mempersiapkan diri selama kurang lebih tujuh bulan lamanya dengan mengerjakan soal latihan yang diberikan GMO maupun materi latihan dari guru di sekolah.
Biaya Kuliah FHUI di SNBP, SNBT, dan Mandiri 2026: UKT Mulai Rp500 Ribu, IPI hingga Rp48 Juta
“Ibu Vero dan Pak Anton yang membantu saya dan teman-teman dalam mempersiapkan diri. Mereka selalu siap untuk menjelaskan materi dan berdiskusi apabila saya menemukan kesulitan. Beberapa hari sebelum terbang ke Jerman kami juga berlatih bersama, bahkan sehari sebelum kompetisi saya menyempatkan diri menelepon Ibu Vero saat di kamar hotel,” tutur Cherilyn.
Selain di sekolah, keempat siswa juga berlatih secara mandiri di rumah dengan cara masing-masing.
“Saya belajar setiap hari minimal satu jam dengan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru di sekolah. Saya juga terus berlatih untuk memperdalam logika dan kemampuan problem solving,” ujar Giovinco.“Saya juga belajar dengan mencari soal-soal dari berbagai olimpiade maupun kompetisi lainnya,” sambung Alexander.
Pengalaman ikut lomba hingga berhasil menang menjadi pengalaman yang seru bagi Giovinco, terutama karena dapat pergi ke Jerman untuk mengikuti kompetisi tersebut.
“Goethe-Universität Frankfurt am Main merupakan lokasi kompetisi berlangsung. Universitasnya sangat luas dengan arsitektur khas Eropa,” cerita Giovinco.
“Pada kompetisi GMO ada banyak pelajar yang datang dari berbagai negara dengan budaya berbeda-beda, jadi seringkali saya mengalami kebingungan,” ungkap Brighita.
“Jadi, kita harus jaga sikap dan menghargai budaya masing-masing,” sambung Alexander.Giovinco berpendapat suasana kompetisi sangat meriah dan kompetitif. Semua peserta sangat bersemangat dan berusaha menampilkan yang terbaik untuk sekolah dan negara masing-masing.
“Kompetisinya sangat menarik. Selain math exam, diadakan juga math dan puzzle challenge yang membuat kami semakin bersemangat sekaligus tertantang untuk memberikan yang terbaik,” tutur Giovinco.
“Untuk soal yang diujikan, itu mirip dengan latihan soal yang dipelajari di sekolah, sehingga pertanyaannya antara mudah dan sulit. Pada soal yang sulit saya mengatasinya dengan mengatur nafas dan mencoba mengingat rumus-rumus yang diberikan guru di sekolah,” tutur Brighita.
Cherilyn yang mengikuti kategori kompetisi kelas 9-11 menemukan kesulitan lain dalam mengerjakan soal.
“Soal yang diberikan cukup unik dan banyak menggunakan contoh dari kehidupan sehari-hari. Namun, ada beberapa materi soal yang belum pernah saya pelajari dan banyak juga yang tricky. Jadi, memerlukan kejelian dan ketelitian untuk memecahkannya. Untuk itu, saya berusaha tenang dan fokus sambil mengingat rumus yang sudah dipelajari sebelumnya. Syukurlah setelah itu, banyak soal yang bisa terselesaikan,” ungkap Cherilyn lega.Baik Brighita, Giovinco, Alexander, maupun Cherilyn merasa senang dapat membawa pulang medali kemenangan di kompetisi GMO.
“Saya merasa senang karena ini pertama kalinya saya memenangkan lomba matematika, setelah mengalami kegagalan tiga kali dalam kompetisi sebelumnya. Keberhasilan ini membuat guru, orang tua, dan teman-teman saya bangga,” ungkap Brighita.
“Kemenangan ini sekaligus memotivasi saya untuk terus berlatih agar bisa mengikuti kompetisi selanjutnya,” tutur Cherilyn.
Brighita, Giovinco, Alexander, dan Cherilyn berpesan kepada setiap siswa di Indonesia untuk terus semangat belajar dan menentukan arah tujuan hingga berhasil meraih prestasi terbaik.
“Jangan takut bertanya pada guru dan teman-teman di sekolah. Pantang menyerah dan selalu andalkan Tuhan dengan berdoa setiap waktu,” pesan mereka.









