Kaki Patah Jelang Terbang, Perjuangan Jemaah Haji asal Tangsel Ini Dikelilingi Orang Berhati Malaikat

Kaki Patah Jelang Terbang, Perjuangan Jemaah Haji asal Tangsel Ini Dikelilingi Orang Berhati Malaikat

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 8 Mei 2026 - 17:56
share

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Peribahasa itu tergambar jelas dari nasib Tsamrotul Fuadah (53) yang harus duduk di kursi roda akibat terjatuh di anak tangga Masjid Islamic Center BSD, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, sesaat usai pelepasan jemaah haji.

Kecelakaan nahas akibat minimnya penerangan pada H-1 keberangkatan itu memaksanya bertolak ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dengan vonis awal otot robek. Guru sekolah dasar asal Tangerang Selatan ini tak patah arang meski tertatih menahan nyeri membawa luka di kaki kirinya melintasi benua.

Baca juga: Kisah Aysylla, Gadis 15 Tahun Asal Malang yang Kerjakan Ujian Kelulusan MTs di Madinah

Fuadah mengungkapkan hal itu dengan mata berkaca-kaca. Dia menceritakan kisah perjuangannya kepada Tim Media Center Haji PPIH Arab Saudi pascaumrah wajib di Al Hidayah Tower, Makkah.

"Saya kira ini adalah panggilan Allah, kalau dilihat dari kondisi saya saat itu apabila dokter menyatakan tidak memenuhi persyaratan istita'ah, dengan legowo saya akan menerima," tutur Fuadah mengisahkan keteguhannya.

Setibanya di Madinah, hasil rontgen lanjutan justru menunjukkan realitas yang lebih getir karena tulang kakinya divonis patah melingkar tepat di bawah lutut. Perempuan tangguh ini harus rela dibius untuk menjalani operasi selama lima setengah jam sebelum diizinkan meneruskan perjalanan haji.

Baca juga: Penasaran dengan Isi Kakbah? Simak Penjelasannya di Sini!

Masa pemulihan yang menyakitkan di hotel terasa lebih ringan berkat kehadiran teman-teman sekamar berhati malaikat yang luar biasa setia. Tanpa canggung, jemaah lain merawat, meracik obat, hingga mendampingi setiap kebutuhan darurat Tsamrotul.

"Waktu itu memang dengan segala keterbatasan ibu yang nyeri sekali, kami saling membantu untuk bagaimana bisa meringankan nyerinya ibu," ungkap Dian, teman sekamar yang setia mendampingi.Ujian fisik yang mendera sang ibu seolah menjadi ladang pembuktian bakti bagi putra bungsunya, Muhammad Amri Lubab (24). Pemuda yang berangkat menggantikan porsi mendiang ayahnya ini menolak keras segala bentuk bantuan jasa pendorong bayaran.

"Harapan Amri ke Mama dan keluarga semuanya, semoga bisa umrah, bisa haji dalam keadaan sembuh," doa Amri dengan nada pelan namun penuh ketulusan.

Kesetiaan Amri menguras keringat mendorong kursi roda sang ibu mengelilingi Ka'bah menjadi obat paling mujarab yang menghapus rasa sakit fisik Fuadah. Keteguhan sang anak memantik rasa haru yang tak terlukiskan di tengah lantunan talbiyah yang menggema di udara Makkah.

"Amri bilang hari ini akan menggendong Mama. Jangankan mendorong, menggendong pun Amri siap, karena ingat cerita sahabat Nabi Uwais Al Qarni," isak Fuadah mengenang ucapan sang putra.

Di luar bakti keluarga, kelancaran ibadah Fuadah juga ditopang oleh kerja keras tak kasatmata dari para petugas haji. Mereka hadir meruntuhkan batas formalitas birokrasi dan menjelma sebagai keluarga pengganti di Tanah Haram.

"Kami dari tim lansia melakukan perawatan diri beliau berupa mandi pada pagi hari untuk kebersihan dirinya, mengganti popoknya, kemudian mengganti pakaian dalamnya," jelas Sugita Esadora, Koordinator Layanan Lansia dan Disabilitas Sektor 10 Al Ziziyah.

Sinergi indah antara bakti darah daging dan dedikasi petugas haji ini membuktikan kemuliaan peradaban dalam melayani tamu-tamu Allah. Para petugas menyingkirkan kelelahan demi memastikan jemaah dengan keterbatasan fisik tak pernah merasa sendirian dalam meraih kemabruran di Tanah Suci.

Topik Menarik