Bos Bank Dunia Peringatkan Dampak Ngeri Penutupan Selat Hormuz: Ekonomi Global Tak Pulih Instan
Harapan bahwa ekonomi dunia bakal pulih dengan cepat jika perang Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran berakhir, sepertinya harus dikubur dalam-dalam. Presiden Bank Dunia, Ajay Banga memberikan peringatan keras bahwa kerusakan ekonomi yang telah terjadi tidak akan pulih dalam semalam, meskipun Selat Hormuz dibuka kembali besok.
Dalam pertemuan musim semi IMF di Washington pada 15 April, Banga menegaskan bahwa negara-negara terdampak harus bersiap menghadapi destabilisasi selama berbulan-bulan ke depan. Menyadari skala krisis yang masif, Bank Dunia telah menyiapkan rencana respons krisis tiga fase yang disebut sebagai dana perang (war chest).
Fase pertama yakni akses instan, dimana sebanyak USD20 hingga USD25 miliar sebagai dana darurat dapat diakses langsung oleh negara-negara terdampak tanpa perlu persetujuan baru. Kedua, jika konflik berlanjut hingga enam bulan, Bank Dunia siap mengucurkan hingga USD60 miliar.
Baca Juga: Rusia Peringatkan Krisis Energi Bakal Hantui Dunia Berbulan-bulan, Gencatan Senjata Belum Cukup?
Wafat di Singapura, Berikut Update Rencana Persemayaman Pemilik Grup Djarum Michael Bambang Hartono
Sebagai perbandingan, Bank Dunia hanya mengerahkan USD70 miliar selama seluruh periode pandemi Covid-19. Selanjutnya negara-negara terdampak memungkinkan untuk memanfaatkan dana yang sebelumnya telah disetujui tetapi belum dicairkan tanpa persetujuan tambahan dari dewan sehingga meningkatkan kecepatan respons.
Bank Dunia mengaku sudah berdiskusi dengan negara-negara berkembang, termasuk negara kepulauan kecil yang tidak memiliki sumber daya energi alami, tentang mengaktifkan program-program tersebut.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting
Selat Hormuz bukanlah sekadar jalur pelayaran, melainkan urat nadi kehidupan global. Berdasarkan data Atlantic Council, jalur ini mengalirkan sekitar 20 pasokan minyak dunia setiap hari, dengan perkiraan 20 juta barel melintasi dua jalur laut searahnya setiap hari.Pada tahun 2024, 84 pengiriman minyak mentah melalui Selat ini ditujukan untuk pasar Asia. China sendiri menerima sepertiga dari minyaknya melalui jalur ini, menurut Atlantic Council.
Sementara itu Eropa mendapatkan 12 hingga 14 gas alam cairnya dari Qatar melalui Selat ini. Tidak berhenti hanya di migas, tercatat 30 pupuk yang diperdagangkan secara internasional juga bergerak melaluinya.
Baca Juga: Bank Dunia: Ketidakpastian Global Lebih Mengancam Ekonomi Asia Dibanding Tarif TrumpSehingga gangguan pada Selat Hormuz dirasakan jauh melampaui pasar energi dan masuk ke rantai pasokan pangan, menurut Atlantic Council. Sejak penutupan Selat ini, harga minyak telah melonjak lebih dari 20 dan harga gas Eropa telah naik lebih dari 60.
IMF secara terpisah memangkas perkiraan pertumbuhan global tahun 2026 menjadi 3,1, turun dari 3,4 yang diproyeksikan pada bulan Januari, dengan menyebut guncangan pasokan akibat konflik.
Kendalikan Inflasi, Hati-hati Jebakan Subsidi
Bos Bank Dunia, Ajay Banga memberikan arahan kebijakan yang sangat tegas bagi para pemimpin negara, termasuk Indonesia. Ia mengatakan inflasi harus menjadi prioritas, bukan pertumbuhan."Pastikan Anda mengendalikan inflasi sebelum mulai terlalu khawatir tentang kembali memikirkan sisi pertumbuhan," tegas Banga.
Ia juga memperingatkan soal jebakan subsidi. Banga menekankan, pemerintah agar tidak terjebak dalam pemberian subsidi energi yang tidak berkelanjutan. Langkah gegabah menahan harga BBM melalui subsidi berlebihan justru bisa menciptakan masalah fiskal yang jauh lebih besar di masa depan.
Mengenai pertanyaan apakah gencatan senjata akan menghasilkan sesuatu yang bertahan lama, Banga menjawab dengan tegas. "Pertanyaannya sebenarnya adalah, apakah perdamaian saat ini dan negosiasi yang akan berlangsung akhir pekan ini akan menghasilkan perdamaian yang abadi dan kemudian dibukanya kembali Selat?" katanya.
Jika konflik kembali terjadi, ia memperingatkan dampaknya terhadap infrastruktur energi bisa jadi lebih besar atau bertahan lebih lama daripada yang sudah terjadi.









