'Soldier of Fortune' di Timur Tengah: AmerikaIsrael dan Perang Tanpa Arah
Eko ErnadaDosen Hubungan Internasional, Universitas JemberWakil Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur.
PADA 1974, di tengah dunia yang diliputi ketidakpastian pasca-Perang Vietnam dan krisis global, Deep Purple merilis lagu Soldier of Fortune—sebuah balada tentang seorang pengembara yang terus berjalan tanpa arah, membawa pengalaman dan kemenangan, tetapi kehilangan tujuan hidupnya. Lagu itu bukan tentang perang dalam arti literal, melainkan tentang kekosongan setelah perjalanan panjang yang tak pernah benar-benar sampai ke tujuan.
Hari ini, hampir setengah abad kemudian, metafora itu menemukan bentuk barunya dalam geopolitik. Dalam konflik dengan Iran, Amerika Serikat—bersama Israel—tampil seperti “soldier of fortune” modern: kekuatan besar yang mampu mendominasi medan tempur, tetapi terus bergerak tanpa kejelasan tentang bagaimana dan di mana konflik ini akan berakhir.
Sejarah sebenarnya sudah berulang kali memberikan cermin. Di Vietnam, kekuatan militer Amerika Serikat tidak mampu mengonversi dominasi tempur menjadi kemenangan politik yang berkelanjutan. Di Irak dan Afghanistan, intervensi cepat berubah menjadi keterlibatan panjang dengan hasil yang ambigu.
Bahkan pengalaman Uni Soviet di Afghanistan menunjukkan pola serupa: kekuatan besar masuk dengan keunggulan militer, tetapi keluar dengan kelelahan strategis dan hasil yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Polanya konsisten—bukan pada kalah atau menang, melainkan pada kesulitan mendefinisikan akhir dari perang itu sendiri.Dalam konteks ini, pengingat klasik dari Carl von Clausewitz tetap relevan: perang selalu terikat pada tujuan politik. Ketika tujuan itu kabur, maka kemenangan militer—seberapa pun meyakinkannya—tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya menunda fase berikutnya dari konflik.
Perkembangan terbaru menunjukkan adanya upaya ceasefire terbatas di tengah eskalasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Namun, gencatan senjata yang diumumkan tidak serta-merta menghadirkan kepastian. Ia lebih menyerupai jeda dalam ketidakpastian—pause without closure.
Dalam sejarah konflik global, ceasefire kerap menjadi fase transisi, bukan resolusi. Ketika tujuan politik belum disepakati, maka penghentian tembakan hanyalah penundaan dari konflik yang belum selesai. Di titik ini, justru terlihat ironi yang lebih dalam: bahkan dalam momen diamnya senjata, arah perang tetap belum menemukan ujungnya.
Koalisi Amerika Serikat–Israel memperlihatkan kompleksitas tambahan. Keduanya berbagi musuh yang sama, tetapi tidak sepenuhnya berbagi tujuan akhir. Bagi Amerika Serikat, stabilitas kawasan dan pengendalian eskalasi global tetap menjadi pertimbangan penting.
Sementara bagi Israel, Iran dipandang sebagai ancaman eksistensial yang menuntut pendekatan lebih keras dan berkelanjutan. Perbedaan ini tidak selalu tampak di permukaan, tetapi cukup untuk menciptakan ketegangan dalam arah strategis.Akibatnya, koalisi ini terlihat solid di medan tempur, tetapi tidak sepenuhnya utuh dalam tujuan. Mereka mampu bertindak bersama, tetapi belum tentu menuju akhir yang sama. Di titik ini, metafora soldier of fortune menjadi semakin tajam: bukan hanya satu aktor yang bergerak tanpa arah, melainkan sebuah koalisi yang berjalan tanpa kesepakatan tentang garis finis.
Sementara itu, Iran tidak bermain dalam logika yang sama. Ia tidak perlu menandingi kekuatan militer secara langsung untuk menciptakan tekanan. Dengan memanfaatkan posisi geopolitik dan dinamika kawasan, Iran mampu mengubah konflik militer menjadi gangguan ekonomi dan ketidakpastian global. Ini menciptakan situasi di mana kekuatan besar tidak bisa sepenuhnya mengonversi keunggulan militernya menjadi kendali politik yang stabil.
Jika melihat pola historis, situasi ini bukan pengecualian, melainkan kelanjutan. Kekuatan besar cenderung unggul dalam memulai perang, tetapi sering kesulitan mengakhirinya. Bukan karena lemahnya kapasitas, melainkan karena ketidakjelasan tujuan yang ingin dicapai setelah kemenangan militer diraih.
Dalam jangka panjang, dinamika ini juga memunculkan gejala kelelahan strategis. Keterlibatan berulang dalam konflik eksternal membawa konsekuensi: tekanan domestik, keraguan sekutu, dan kritik internasional. Di sinilah paradoks kekuatan besar semakin terlihat—semakin sering kekuatan digunakan, semakin besar pula risiko kehilangan legitimasi.
Lebih jauh lagi, dinamika ini menunjukkan pergeseran dalam karakter konflik global kontemporer. Perang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh keunggulan militer konvensional, tetapi oleh kemampuan mengelola dampak lintas sektor—energi, ekonomi, hingga persepsi global. Ketegangan di sekitar Iran, misalnya, dengan cepat memengaruhi stabilitas pasar energi dan jalur perdagangan internasional. Dalam konteks ini, setiap langkah militer tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terhubung dengan konsekuensi sistemik yang lebih luas.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih jelas tujuannya. Dalam konflik modern, kemenangan tidak lagi cukup diukur dari dominasi militer, melainkan dari kemampuan menghubungkan kekuatan tersebut dengan hasil politik yang konkret dan berkelanjutan. Tanpa itu, perang hanya menjadi siklus aksi dan reaksi yang terus berulang.
Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar dinamika jauh di Timur Tengah. Ketegangan ini berdampak langsung pada stabilitas energi, ekonomi global, dan keamanan kawasan. Dalam konteks ini, politik luar negeri bebas aktif seharusnya dimaknai sebagai dorongan nyata untuk de-eskalasi, bukan sekadar posisi normatif.
Lebih jauh, keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik ini juga memperlihatkan kebingungan strategis di tengah kekuatan. Amerika Serikat dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas kawasan dan mempertahankan kredibilitas global, sementara Israel beroperasi dalam logika ancaman eksistensial yang menuntut respons lebih keras dan berkelanjutan. Perbedaan orientasi ini membuat koalisi tampak kuat, tetapi tidak sepenuhnya sinkron.
Pada akhirnya, konflik ini memperlihatkan ironi mendasar dalam politik global: kekuatan terbesar sekalipun dapat kehilangan arah ketika tujuan strategis tidak didefinisikan dengan jelas. Seperti soldier of fortune, mereka terus bergerak—bukan karena tahu ke mana akan pergi, tetapi karena tidak memiliki kejelasan tentang kapan dan bagaimana harus berhenti.
Dan mungkin, sejarah sudah terlalu sering mengingatkan kita—hanya saja, tidak selalu didengarkan.










