Rusia Peringatkan Krisis Energi Bakal Hantui Dunia Berbulan-bulan, Gencatan Senjata Belum Cukup?

Rusia Peringatkan Krisis Energi Bakal Hantui Dunia Berbulan-bulan, Gencatan Senjata Belum Cukup?

Ekonomi | sindonews | Kamis, 9 April 2026 - 13:40
share

Pasar energi global diyakini bakal membutuhkan waktu selama berbulan-bulan untuk pulih dari kejutan yang disebabkan oleh perang AS-Israel terhadap Iran. Lantaran itu meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan gencatan senjata dua arah selama dua minggu dengan Iran, dunia belum bisa bernapas lega.

Utusan khusus Kremlin, Kirill Dmitriev memberikan catatan bahwa dibukanya kembali Selat Hormuz kemungkinan tidak akan berdampak segera. Ia menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan memberikan efek instan terhadap stabilisasi harga.

"Pasar energi akan memakan waktu berbulan-bulan untuk normal kembali, bahkan jika Selat Hormuz tetap terbuka," ujar Dmitriev seperti dilansir RT.

Baca Juga: Uni Eropa Disebut Terlambat 15 Tahun buat Hadapi Kiamat Energi

Peringatan senada datang dari industri penerbangan global. Para petinggi maskapai di Asia dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperingatkan bahwa harga bahan bakar jet (avtur) tidak akan stabil dalam waktu dekat.

Direktur jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Willie Walsh mencatat bahwa jika Selat Hormuz “dibuka kembali dan terbuka, tetap butuh beberapa bulan untuk kembali ke tingkat pasokan yang dibutuhkan, mengingat terganggunya kapasitas penyulingan di Timur Tengah.”

Perang AS-Israel terhadap Iran telah menimbulkan kerusakan permanen pada infrastruktur energi dengan beberapa kilang yang hancur, menyebabkan harga bahan bakar jet lebih mahal dua kali lipat sejak perang dimulai. CEO Thai Airways Chai Eamsiri menyebut guncangan saat ini sebagai yang terburuk dalam hampir empat dekade kariernya.

Nasib 800 Kapal dan 20.000 Pelaut Terjebak di Teluk Persia

Hingga saat ini lebih dari 800 kapal tanker dan kargo masih terjebak di dalam Teluk Persia. Penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu telah menciptakan krisis logistik yang masif.

Menurut data Organisasi Maritim Internasional (IMO), sekitar 20.000 pelaut tertahan di atas kapal dengan kondisi pasokan logistik yang kian menipis serta tekanan psikologis yang berat. Para pelaku pasar kini memantau dengan cemas kapal mana yang akan berani melintasi selat di bawah kesepakatan gencatan senjata yang masih sangat rapuh.

Baca Juga: Prabowo Pastikan Indonesia Siap Hadapi Krisis EnergiDampak dari perang ini diprediksi tidak hanya berhenti pada harga BBM. Laporan terbaru dari Newsmax memperingatkan adanya ancaman Commodity Shock atau guncangan komoditas global. Disrupsi energi ini diprediksi akan segera menjalar ke sektor lain

Biaya produksi pupuk melonjak drastis, hingga mengancam musim tanam global. Lalu pada efeknya bakal sampai hingga produksi pangan, kelangkaan pangan diprediksi akan terjadi di berbagai belahan dunia dalam waktu dekat.

Barang konsumsi pada akhirnya juga ikut terkena dampak, menyusul kenaikan biaya logistik laut akan memicu lonjakan harga barang kebutuhan sehari-hari di tingkat konsumen.

Gencatan senjata yang diinisiasi Trump saat ini didasarkan pada rencana 10 poin milik Teheran, di mana Iran tetap memegang kendali atas Selat Hormuz. Namun para analis menilai stabilitas ini masih "di ujung tanduk" selama kesepakatan damai jangka panjang belum ditandatangani secara resmi.

Topik Menarik