Banyak Ekonom Sebut RI Sudah Resesi, Purbaya: Daya Beli Masih Ada, Kita Jauh dari Krisis
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, ekonomi Indonesia masih jauh dari kata krisis di tengah ketidakpastian global. Hal ini ditekankan Purbaya saat meninjau langsung ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin (9/3/2026).
Kunjungan Purbaya ini dilakukan di tengah maraknya analisis ekonomi yang menyebut Indonesia sedang berada di ambang resesi dan penurunan daya beli masyarakat yang drastis. Usai berkeliling dan berinteraksi dengan para pedagang serta pengunjung, Purbaya menegaskan bahwa kondisi riil di lapangan menunjukkan hasil yang berbeda dari kekhawatiran para pengamat.
“Banyak ekonom-ekonom yang bilang kita sudah resesi, daya beli hancur, kalau hancur pasar tadilah nggak ada yang datang. Saya pengen cek karena kalau data-data kita, ekonomi lagi bagus. Harusnya kan di Tanah Abang segala macam ada pembelinya. Saya mau cek itu aja betul apa nggak. Ternyata betul, daya beli masih ada, orang masih belanja, itu pasar juga masih ramai," ujar Menkeu Purbaya saat ditemui di Lt. 5 Blok A Tanah Abang hari ini.
Baca Juga: Purbaya: Ekonomi Indonesia Akan Alami Ekspansi sampai 2033
Purbaya mencatat bahwa kerumunan pengunjung yang memadati pusat grosir tersebut menjadi bukti kuat bahwa aktivitas konsumsi domestik tetap berdenyut. Ia meyakinkan publik bahwa fondasi ekonomi nasional saat ini sangat jauh dari kategori krisis."Artinya daya beli masyarakat sepertinya sedang membaik dan kita tidak resesi apalagi dari krisis, kita jauh dari krisis. Jadi ekonomi sedang bagus, teman-teman nggak usah takut," tegasnya.
Terkait kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah yang menyentuh angka USD117 per barel, Purbaya memastikan pemerintah akan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen penyerap kejutan (shock absorber). Hal ini dilakukan guna melindungi masyarakat dari dampak inflasi energi yang berlebihan.
Baca Juga: Purbaya: Ekonomi Indonesia Solid, Lebih Unggul dari Banyak Negara
"Nanti kalau harga minyak dunia naik pun kita akan coba absorb lewat APBN dan kita akan kendalikan semaksimal mungkin," pungkas Purbaya.
Kunjungan ke Tanah Abang ini menjadi sinyal komunikasi pemerintah untuk menenangkan pasar dan pelaku usaha, di hari yang sama saat nilai tukar rupiah sempat menembus angka Rp17.000 per dolar AS dan IHSG terkoreksi tajam.









