Industri Manufaktur RI Kena Pukulan Ganda, Terhimpit Krisis Gas hingga Konflik Timur Tengah

Industri Manufaktur RI Kena Pukulan Ganda, Terhimpit Krisis Gas hingga Konflik Timur Tengah

Ekonomi | sindonews | Kamis, 26 Maret 2026 - 11:57
share

Produsen dalam negeri menghadapi tekanan berat akibat guncangan energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah serta krisis pasokan gas domestik yang berkepanjangan. Kondisi ini memicu kenaikan biaya produksi sekaligus membatasi kapasitas operasional industri.

"Industri saat ini menghadapi krisis gas yang nyata dan berkepanjangan," ujar Edy Suyanto, Ketua Asosiasi Industri Keramik Indonesia dikutip Business Times, Kamis (26/3/2026).

Baca Juga:Blokade Selat Hormuz Sandera Pasokan Energi Global, Negara-negara Asia Kembali ke Batu Bara

Ia menjelaskan, tekanan ganda tersebut telah menurunkan tingkat utilisasi pabrik keramik menjadi sekitar 70 persen pada kuartal pertama, di bawah target industri sebesar 80 persen. Gangguan pasokan gas yang terus terjadi memaksa sejumlah pabrik mengurangi produksi bahkan menghentikan operasi sementara.

Pelaku industri mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis, termasuk membatasi ekspor gas dan memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan domestik. Kebijakan ini dinilai penting guna menjaga keberlanjutan industri nasional di tengah tekanan biaya energi yang meningkat.

Krisis pasokan gas domestik telah berlangsung sejak Agustus 2025, dipicu gangguan distribusi dari Perusahaan Gas Negara akibat pemeliharaan dan gangguan hulu yang tidak direncanakan. Dampaknya paling terasa di kawasan industri utama di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Akibat keterbatasan pasokan, alokasi gas bersubsidi untuk industri dilaporkan turun hingga 30 persen di sejumlah wilayah. Kondisi ini memperburuk tekanan biaya, terutama bagi sektor padat energi seperti keramik, petrokimia, baja, dan kaca.

Kenaikan harga energi juga meningkatkan porsi biaya energi dalam struktur produksi hingga mencapai sekitar 35 persen, dari sebelumnya 25 persen beberapa tahun lalu. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memperparah kondisi karena transaksi energi banyak menggunakan mata uang asing.

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah membuat harga energi impor semakin mahal, sehingga opsi alternatif pasokan menjadi tidak ekonomis. Indonesia sebagai negara importir bersih energi menjadi sangat rentan terhadap gejolak tersebut.Baca Juga:Media Iran Gambarkan Trump sebagai Pinokio: 'Pembohong Paling Menyedihkan di Dunia'

Tekanan juga datang dari sisi persaingan global. Pelaku industri memperingatkan potensi lonjakan impor dari negara seperti China dan India yang kemungkinan mengalihkan pasar akibat terganggunya permintaan di Timur Tengah.

Sektor petrokimia dan plastik turut terdampak akibat kenaikan harga bahan baku. Harga polimer dilaporkan melonjak tajam dari sekitar 1.100 dolar AS menjadi 1.700 dolar AS per ton dalam waktu singkat, seiring terganggunya pasokan global.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia Fajar Budiono menyebut utilisasi industri saat ini berada di kisaran 70 persen. Ia memperingatkan tekanan lebih besar berpotensi muncul setelah periode libur, ketika dampak gangguan pasokan semakin terasa.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia Yusri Usman menilai pemerintah menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan domestik dan menjaga komitmen ekspor energi.

Menurut dia, tanpa tambahan pasokan gas pipa baru hingga beberapa tahun ke depan, Indonesia akan semakin bergantung pada impor LNG yang berbiaya tinggi. “Penyesuaian ekspor tidak bisa dilakukan sembarangan karena terikat kontrak jangka panjang dengan konsekuensi hukum dan finansial,” ujarnya.

Kondisi ini diperkirakan akan terus menekan daya saing industri nasional jika tidak diimbangi kebijakan yang mampu menjamin ketersediaan energi dengan harga yang kompetitif serta stabilitas pasokan dalam negeri.

Topik Menarik