Bobon Santoso Meriahkan Festival Cap Go Meh Singkawang 2026, Harmoni Budaya di Tengah Ramadan

Bobon Santoso Meriahkan Festival Cap Go Meh Singkawang 2026, Harmoni Budaya di Tengah Ramadan

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 7 Maret 2026 - 11:14
share

Awal Maret tahun ini menghadirkan pemandangan istimewa bagi masyarakat Indonesia. Di satu sisi, umat Muslim menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan dengan penuh kekhusyukan. Di sisi lain, masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai daerah pada 3 Maret lalu merayakan Cap Go Meh, penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.

Dua perayaan berbeda yakni ibadah puasa bulan Ramadan dan Cap Go Meh hadir dalam waktu yang sama dan berjalan berdampingan dengan damai. Di Singkawang, momen ini terasa semakin bermakna.

Baca juga: Setelah Imlek, Klenteng Toasebio Bakal Gelar Lok Thung pada Perayaan Cap Go Meh

Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia itu kembali dipadati ribuan warga dan wisatawan. Suasana meriah terasa di setiap sudut kota. Barongsai meliuk di jalanan, tatung menjalani ritual penuh makna, arak-arakan budaya memikat perhatian, sementara ragam kuliner khas menggoda selera.

Bagi masyarakat Tionghoa, Cap Go Meh bukan sekadar seremoni penutup perayaan Imlek. Perayaan ini melambangkan penyempurnaan, kebersamaan, serta harapan akan keberuntungan yang terus berlanjut.Namun di Singkawang, maknanya terasa lebih luas. Perayaan tersebut seolah menjadi cermin kehidupan warganya sehari-hari: masyarakat yang beragam, tetapi tetap hidup rukun dan saling menghormati.

Arwin Nugraha Hutasoit, Head of Marketing PT Bintang Toedjoe, mengungkapkan kesannya saat hadir di tengah perayaan. Ia menilai Singkawang mampu menunjukkan bagaimana keberagaman dapat dirawat dengan baik.

“Singkawang menunjukkan bagaimana keberagaman bisa dirawat dengan baik. Di sini masyarakatnya tetap rukun, tetap menjaga budaya, dan saling menghormati. Ini energi positif yang nyata,” ujarnya.

Singkawang memang kerap disebut sebagai simbol harmoni. Masyarakat Tionghoa, Melayu, Dayak, dan berbagai etnis lainnya hidup berdampingan, saling menjaga tradisi masing-masing tanpa saling mengusik.

Cap Go Meh di kota ini bukan hanya agenda wisata budaya tahunan, tetapi juga wujud nyata nilai kebersamaan yang sudah mengakar kuat dalam keseharian warganya.Hal tersebut juga tercermin dalam Indeks Kota Toleran versi SETARA Institute 2024 yang menempatkan Singkawang di peringkat kedua kota paling toleran di Indonesia, tepat di bawah Salatiga, dari 94 kota yang dinilai secara nasional.

Capaian tersebut bukan sekadar angka, tetapi menggambarkan ruang toleransi yang benar-benar dirawat dan dijaga bersama oleh masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan yang dirasakan masyarakat belakangan ini, Singkawang menghadirkan wajah Indonesia yang hangat dan menenangkan. Tradisi tetap hidup dan berkembang. Keberagaman tidak hanya diterima, tetapi juga dirayakan.

Kehadiran Bobon Santoso menambah nuansa tersendiri dalam perayaan tahun ini. Dikenal sebagai Chef Rakyat Indonesia, Bobon selama ini konsisten mengangkat kuliner dari berbagai daerah sebagai cara sederhana namun kuat untuk merayakan keberagaman.

Baginya, makanan selalu memiliki cara yang jujur untuk menyatukan orang-orang. Dalam momen Cap Go Meh di Singkawang, Bobon tidak hanya hadir sebagai figur publik, tetapi juga berbaur dan berbagi energi bersama komunitas tatung di sela-sela rangkaian acara.“Menurut saya, Cap Go Meh itu bukan cuma perayaan budaya, tapi juga perayaan rasa. Lontong Cap Go Meh misalnya, itu simbol akulturasi. Ada perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara di satu piring. Itu yang bikin Indonesia istimewa,” ujar Bobon.

Tahun ini, Cap Go Meh yang bertepatan dengan Ramadan justru memperlihatkan kekuatan toleransi yang nyata. Kedua perayaan berjalan berdampingan tanpa saling mendominasi.

“Merayakan Cap Go Meh di tengah Ramadan menurut saya indah sekali. Yang menjalankan ibadah tetap khusyuk, yang merayakan tetap penuh sukacita. Semua berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Ini contoh nyata bagaimana keberagaman bisa jadi kekuatan,” tutur Bobon Santoso.

Melalui momentum ini, pihak penyelenggara berharap semangat toleransi dan kebersamaan dari Singkawang dapat menginspirasi masyarakat di berbagai daerah.

Di Singkawang, Cap Go Meh bukan hanya tentang perayaan budaya. Lebih dari itu, perayaan ini menjadi simbol harapan bahwa perbedaan dapat berjalan berdampingan, serta energi kebersamaan yang mampu menguatkan Indonesia.

Topik Menarik