Jenderal Pasukan Khusus Chechnya Siap Perang Membela Iran Melawan AS-Israel
Komandan Akhmat—pasukan khusus Chechnya—, Letnan Jenderal Apti Alaudinov, mengatakan dia siap memberikan semua senjata yang dimilikinya kepada Iran. Dia juga siap berperang di pihak Republik Islam melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel jika keputusan tersebut diambil oleh kepemimpinan Rusia.
Melalui saluran Telegramnya, dia menerbitkan pernyataan video yang mengumumkan keinginannya untuk berperang di pihak Iran.
Dalam pidatonya, Alaudinov mengatakan bahwa situasi yang sangat sulit telah berkembang di Iran dan menyerukan dukungan untuk negara tersebut.
Baca Juga: Kim Jong-un: Jika Iran Minta, Satu Rudal Saja Cukup untuk Lenyapkan Israel
"Kita harus memberikan Iran semua yang bisa kita berikan dan mendukungnya dengan segala cara yang mungkin," katanya, seperti dikutip OC Media, Jumat (6/3/2026).
Alaudinov mencatat bahwa jika otoritas Rusia mengambil keputusan yang relevan, dia siap "bahkan hari ini" untuk pergi ke Iran dan ikut serta dalam operasi tempur. Menurutnya, dia siap membantu sekutu untuk menangkis kemungkinan serangan darat pasukan Amerika.Dalam pidato yang sama, komandan pasukan khusus Akhmat mengatakan bahwa kemungkinan 99 Presiden AS Donald Trump adalah "Antikristus".
Alaudinov juga mengatakan bahwa negara-negara yang mendukung operasi militer terhadap Iran, menurutnya, mendukung Antikristus. Menurut pandangannya, AS dan sekutunya "membawa darah dan kematian".
Lebih lanjut, jenderal pasukan Akhmat ini mengatakan bahwa setelah Iran, target AS selanjutnya bisa jadi Rusia.
“Jika mereka berhasil menghabisi Iran sekarang, kami pasti akan menjadi target selanjutnya setelah Iran,” katanya.
Dalam pidatonya, Alaudinov juga menyinggung dukungan Barat untuk Ukraina. Dia mengatakan bahwa selama empat tahun negara-negara NATO, termasuk AS, telah memasok senjata ke Ukraina untuk perang melawan Rusia.“Selama empat tahun ini kami telah dibunuh oleh rudal Amerika, senjata Amerika, senjata Eropa, dan juga senjata Israel,” katanya.
Alaudinov menjabat sebagai komandan unit pasukan khusus Akhmat, yang dibentuk di Chechnya dan ikut serta dalam operasi tempur di Ukraina di pihak pasukan Rusia. Dia juga merupakan wakil kepala Direktorat Utama Militer-Politik Angkatan Bersenjata Rusia.
Pada 28 Februari 2026, Trump mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar terhadap Iran. Pada hari yang sama, AS dan Israel melakukan serangan terhadap target di wilayah Iran. Menurut pernyataan otoritas Iran, serangan tersebut menargetkan infrastruktur militer dan beberapa fasilitas lainnya.
Sebagai tanggapan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta instalasi militer Amerika di Timur Tengah. Konfrontasi masih berlangsung. Selama insiden tersebut, kapal-kapal di Teluk Persia dan lepas pantai Oman juga diserang.
Rusia dan Iran dalam beberapa tahun terakhir telah mengembangkan kerja sama politik dan militer. Kedua negara telah berkoordinasi dalam sejumlah isu internasional dan mendukung pemerintah Bashar al-Assad selama perang di Suriah.
Setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada tahun 2022, negara-negara Barat berulang kali menuduh Iran memasok Rusia dengan drone dan peralatan militer lainnya.
Otoritas Iran dan Rusia mengatakan bahwa kerja sama antara kedua negara tersebut sah dan mencakup berbagai bidang, termasuk ekonomi dan keamanan.










