Perang Iran vs AS dan Israel, Awas! Harga Minyak Bisa Sentuh USD100/Barel
Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, menempatkan negara-negara Teluk Arab sebagai penghasil minyak mentah di sekitarnya berada dalam kecemasan. Meningkatnya kekhawatiran di Timur Tengah terus membayangi di tengan perang AS-Iran, ditambah ketika Teheran merespons dengan meluncurkan rudal balasan ke arah Israel.
Lantas bagaimana konflik ini bisa berkembang ke pasar dunia. Kenaikan harga minyak dunia kerap menjadi barometer utama ketegangan Timur Tengah. Baca Juga: Wilayahnya Jadi Target Rudal Iran, Arab Saudi Marah Besar!
Iran merupakan produsen utama dan terletak berlawanan dengan Semenanjung Arab yang kaya minyak melintasi Selat Hormuz, dimana 20 pasokan minyak global melewati jalur ini. Konflik AS-Israel dan Iran bisa membatasi pasokan minyak ke pasar global dan pada akhirnya mendorong harga minyak mentah naik.
Minyak mentah Brent pada hari Jumat (27/2) diperdagangkan pada kisaran USD73 per barel, dimana sudah meningkat sekitar seperlima tahun ini.
Beberapa perusahaan minyak besar dan rumah perdagangan terkemuka menunda pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui Selat Hormuz akibat serangan tersebut, kata empat sumber perdagangan pada hari Sabtu seperti dilansir Reuters.
Kepala ekonom pasar berkembang di Capital Economics, William Jackson mengatakan, bahwa meskipun konflik dapat dikendalikan, minyak Brent kemungkinan bakal melonjak naik hingga sekitar USD80 per barel, yang merupakan level tertinggi selama perang 12 hari di Iran pada Juni lalu.
Sebuah konflik yang berkepanjangan yang mempengaruhi pasokan dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga sekitar USD100, yang berpotensi menambah 0,6-0,7 poin persentase pada inflasi global, terangnya dalam sebuah catatan.
Ketidakpastian Pasar Dunia
Konflik ini kemungkinan akan memperburuk volatilitas di seluruh pasar global, yang sudah berayun liar tahun ini akibat tarif Trump dan penjualan besar-besaran di sektor teknologi. Indeks volatilitas VIX (.VIX) naik sepertiga tahun ini, dan volatilitas obligasi AS yang diimplikasikan (.MOVE) naik 15.Baca Juga: Israel-Amerika Gempur Iran, Pengamat: Dampak Paling Cepat Akan Terasa di Pasar Energi
Para analis mengatakan pasar mata uang kemungkinan tidak akan kebal terhadap efek perang tersebut. Indeks dolar turun sekitar 1 selama perang bulan Juni, ungkap CBA dalam catatannya. Namun penurunan itu bersifat sementara dan pulih setelah tiga atau empat hari. "Dalam keadaan saat ini, besarnya penurunan akan tergantung pada seberapa besar dan seberapa lama konflik diperkirakan akan berlangsung," kata para analis CBA dalam sebuah catatan seminggu yang lalu.
"Jika konflik berlangsung lama dan mengganggu pasokan minyak, kami memperkirakan dolar AS akan terangkat terhadap sebagian besar mata uang kecuali yen Jepang dan franc Swiss. AS adalah pengekspor energi bersih dan mendapat manfaat dari harga minyak dan gas yang lebih tinggi akibat terganggunya pasokan minyak."
Shekel Israel hampir pasti akan menjadi penggerak lain - Iran dengan cepat membalas terhadap Israel pada hari Sabtu.Mata uang Israel itu turun 5 pada awal perang di Juni, lalu dan juga bereaksi setelah Israel menyerang konsulat Damaskus Iran pada April 2024 dan ketika Iran meluncurkan rudal ke Israel pada Oktober.
Semua episode perang terbilang berumur pendek dan diikuti oleh rebound shekel yang cepat. Namun, JPMorgan mengatakan kali ini bisa berbeda jika konflik dan kenaikan premia risiko pasar terbukti lebih persisten.
"Ini terutama akan terjadi jika konfrontasi dengan Iran juga memicu operasi yang lebih intensif terhadap proksi Iran," kata bank Wall Street.









