Avtur Campuran Minyak Jelantah Mulai Diproduksi 2029, SAF Indonesia Lirik Pasar Internasional
PT Pertamina (Persero) melaporkan proses ekspansi skala komersial SAF (Sustainable Aviation Fuel) melalui proyek Biorefinery Cilacap Fase 2, ditargetkan memasuki fase on stream pada 2029 mendatang. Peningkatan kapasitas ini diarahkan untuk mendukung kebijakan mandatori campuran SAF 1 untuk penerbangan internasional dari Indonesia mulai 2027, sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar Asia Pasifik dan Eropa.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono mengatakan, seluruh rantai nilai SAF telah tersertifikasi ISCC (International Sustainability and Carbon Certification), mulai dari pengumpulan bahan baku, proses pemurnian (refining), hingga penyimpanan dan distribusi. Sertifikasi ini menjamin ketelusuran penuh, mencegah penghitungan ganda, serta memenuhi standar keberlanjutan dan akuntansi karbon internasional.
"Fokus kami bukan hanya pada produksi SAF, tetapi juga pada pembangunan ekosistem SAF yang kredibel, terukur, dan diakui secara global, serta menghubungkan pengumpulan bahan baku tingkat komunitas di Indonesia dengan pasar penerbangan internasional," ujar Agung dalam keterangan resmi, Sabtu (28/2/2026).
Baca Juga: Sustainable Aviation Fuel (SAF) Mengangkasa, Bioavtur Pertamina untuk Penerbangan Ramah Lingkungan
Pertamina memproduksi SAF melalui teknologi co-processing menggunakan minyak jelantah (used cooking oil/UCO) di Green Refinery Cilacap, dengan kandungan campuran SAF sekitar 2,4. Pertamina mencatat journey pengembangan bioavtur ini telah dimulai sejak 2015 dengan penelitian katalis domestik dan telah melewati uji teknis pada pesawat Airbus A320-200 milik maskapai penerbangan Indonesia, Pelita Air Services.
Dalam pengembangan ekosistem SAF, Pertamina membangun rantai pasok terintegrasi mulai dari pengumpulan UCO dari rumah tangga dan sektor komersial, pengolahan di kilang, hingga distribusi ke maskapai. Seluruh rantai nilai tersebut telah tersertifikasi ISCC untuk menjamin keberlanjutan, serta kepatuhan terhadap standar internasional.
Harta Kekayaan Thomas Djiwandono Rp74 Miliar, Jadi Deputi Gubernur BI Dapat Gaji Rp100 Juta
"Kami telah menyelesaikan validasi teknis di berbagai jenis pesawat, termasuk pesawat jet komersial dengan maskapai penerbangan Indonesia, Pelita Air Services. Pelita Air telah mencoba menggunakan SAF untuk penerbangan domestik dan penerbangan internasional. Hal ini menunjukkan kesiapan operasional end-to-end yang sebenarnya dalam ekosistem kami sendiri," tambahnya.
Baca Juga: AHY Mendorong Percepatan Penggunaan Avtur Minyak Jelantah
Lebih lanjut, Agung menekankan pentingnya kepastian regulasi, harmonisasi standar karbon lintas negara, serta penguatan skema sertifikasi agar SAF Indonesia dapat diakui di pasar global.
"Pasar wajib memberikan kepastian permintaan struktural, yang sangat penting untuk jangka panjang, sementara voluntary market mempercepat adopsi dan inovasi. Keduanya saling melengkapi dalam meningkatkan skala SAF. Kuncinya ada pada regulasi yang jelas, sistem sertifikasi yang kuat, dan harmonisasi standar internasional," jelasnya.
Pertamina menilai tantangan utama pengembangan SAF global saat ini bukan lagi pada teknologi pengolahan, melainkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan. Indonesia memiliki potensi besar dari limbah seperti UCO dan residu POME (Palm Oil Mill Effluent), yang jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan sertifikasi ketat, dapat menjadi sumber pasokan SAF global tanpa bersaing dengan pangan.









