Jebakan Pertumbuhan 5 Persen
Muhammad Syarkawi Rauf Dosen FEB Unhas dan Chairman ASEAN Competition Institute- ACI
PEREKONOMIANIndonesia memasuki fase “five percent growth trap” atau “jebakan pertumbuhan lima persen”. Hal ini sejalan dengan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Februari 2026 bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 sebesar 5,11 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 sekitar 5,04 persen.
Perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan sulit keluar dari “5 percent growth trap” hingga dua tahun ke depan karena proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 dan 2027 hanya sekitar 5,10 - 5,40 persen.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh pemerintah sekitar 5,40 persen tahun 2026 lebih tinggi dibandingkan proyeksi International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,10 – 5,20 persen tahun 2026-2027.
Secara historis, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 10 tahun terakhir hanya sekitar 5,0 persen. Lebih rendah dibandingkan dengan peer group Indonesia di Asia, seperti India yang tumbuh lebih besar dari 7,0 persen dan Vietnam tumbuh rata-rata 6,5 persen selama periode 2014 – 2025.
Sejak tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,01 persen. Lima tahun setelahnya, yaitu tahun 2019 tumbuh 5,02 persen. Pertumbuhan ekonomi tertinggi Indonesia sebesar 5,31 persen dicapai pada tahun 2022, kemudian mengalami pelambatan menjadi 5,04 persen tahun 2024. Kecenderungan ini kontras dengan pertumbuhan ekonomi Vietnam, yaitu 6,42 persen tahun 2014 kemudian meningkat menjadi 7,36 persen tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada tahun 2025 mencapai angka 8,02 persen tahun 2025. Pertumbuhan ekonomi tertinggi Vietnam selama periode 2014 – 2025 terjadi pada tahun 2022, yaitu sebesar 8,12 persen.
Pada saat perekonomian Indonesia mengalami “5 percent growth trap”, perekonomian India justru mengalami akselerasi pertumbuhan, yaitu dari 6,5 persen tahun 2024 menjadi 7,4 persen tahun 2025.
Pertumbuhan ekonomi tertinggi selama periode 2015 – 2025 dicapai oleh India pada tahun 2022 sebesar 9,7 persen. Fenomena “5 percent growth trap” diproyeksi berlanjut hingga tahun 2026 karena tekanan ketidakpastian perekonomian global akibat kondisi geopolitik global yang tidak menentu dan Trade War 2.0 yang belum juga mereda.
Risiko perekonomian nasional semakin berat karena lembaga pemeringkat internasional, seperti Moody’s menurunkan outlook perekonomian Indonesia dari stable menjadi negatif. Meskipun masih dalam kategori investment grade (layak investasi).
Persepsi risiko berinvestasi di Indonesia semakin tinggi karena Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) sebagai penyedia indeks harga saham menunda review terhadap saham-saham Indonesia. Lebih jauh, terdapat tekanan penurunan peringkat pasar saham menjadi “frontier market”.Penurunan outlook perekonomian nasional oleh Moody’s salah satunya disebabkan oleh ketidakpastian arah kebijakan makro ekonomi nasional, khususnya dari sisi kebijakan fiskal dan moneter.
Hal yang paling mengkhawatirkan investor global adalah tata kelola anggaran yang tidak pruden, tidak berhati-hati. Hingga saat ini, difisit fiskal mencapai 2,92 persen dari Gross Domestic Product (GDP) dan kemampuan membayar utang yang tercermin pada Debt Service Ratio (DSR) lebih besar 30 persen sebagai batas aman kemampuan membayar utang. Hampir setengah dari pendapatan negara digunakan untuk membayar cicilan utang dan bunganya.
Fenomena “5 percent growth trap” semakin mengkhawatirkan karena tingginya inefisiensi perekonomian nasional. Hal ini tercermin pada Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang sangat tinggi sekitar 6,25 – 6,50 persen. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata ICOR negara-negara ASEAN dan India sekitar 3,5 – 4,0 persen.
Jika perekonomian Indonesia tidak bisa segera keluar dari “5 percent growth trap” maka pada tahun 2030, GDP riil hanya akan mencapai 1,871 trilyun dolar AS dan maksimum 3,889 trilyun dolar AS tahun 2045. Proyeksi ini didasarkan pada data Trading Economics tahun 2024, GDP Indonesia sekitar 1,396 trilyun dolar AS.
Pada saat yang sama, jika GDP per kapita Indonesia sebesar 4.924,510 dolar AS tahun 2024 maka dengan pertumbuhan rata-rata 5,0 persen per tahun, maka pendapatan per kapita Indonesia hanya 6.034,574 dolar AS tahun 2030 dan maksimum 12.003,715 dolar AS tahun 2045. Masih jauh dari GDP riil dan GDP per kapita negara maju. Lalu, apa langkah pemerintahan Prabowo Subianto agar segera keluar dari “5 percent growth trap”? Apa mitigasi risiko atas ketidakpastian global dan risiko fiskal sehingga tidak mengganggu agenda jangka panjang, menuju status negara maju tahun 2045? Bagaimana dalam 20 tahun ke depan, GDP riil menjadi 7,3 trilyun dolar AS dan GDP per kapita sebesar 25.000 dolar AS?
Terdapat dua langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk keluar dari “5 percent growth trap”, sekaligus memitigasi risiko ketidakpastian global dan risko fiskal, yaitu: langkah pertama, menurunkan angka ICOR dari 6,3 saat ini menjadi 4,5 tahun 2030 dan 3,0 tahun 2045.
Langkah ini akan membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 9,0 persen per tahun hingga tahun 2045. Hal ini didukung oleh realisasi investasi, baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA), pada tahun 2030 sekitar 40,50 persen GDP, dengan ICOR 4,5 dan 27,0 persen GDP dengan ICOR 3,0 tahun 2045.
Melanjutkan proses transformasi ekonomi nasional sehingga pada tahun 2030 nilai ICOR turun menjadi 4,5 sehingga kebutuhan investasi menjadi hanya 948,199 milyar dolar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen. Hal ini lebih kecil dibandingkan kebutuhan investasi sebesar 1,325 trilyun dolar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen dengan ICOR sebesar 6,3.
Tujuannya, mewujudkan GDP riil sebesar 2,341 trilyun dolar AS dengan pendapatam per kapita 7.552,361 dolar AS tahun 2030. Dan selanjutnya, pada tahun 2045, GDP riil dan GDP per kapita setara negara maju, yaitu GDP riil sebesar 8,528 trilyun dolar AS dengan pendapatan per kapita 26.320,665 dolar AS tahun 2045. Langkah kedua, meningkatkan The Economic Complexity Index (ECI) karena status negara maju tidak cukup hanya berdasarkan GDP per kapita tetapi juga pada produktifitas pengetahun yang tercermin pada diversifikasi dan sopistikasi produk-produk ekspor suatu negara. Faktanya dalam 26 tahun terakhir, sejak tahun 2000, peringkat ECI Indonesia justru semakin buruk, dari peringkat 49 tahun 2000 menjadi 72 tahun 2023.
Hal ini mencerminkan bahwa produk ekspor Indonesia semakin bergantung pada hasil eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) non olahan bernilai tambah rendah. Kondisi ini sejalan dengan peran sektor manufaktur dalam pembentukan GDP Indonesia yang menurun dari 32 persen tahun 2000 menjadi hanya 18,98 persen.
Agenda mendesak adalah mendorong Sovereign Wealth Fund Danantara berinvestasi untuk mengakselerasi pengembangan integrated industrial estate berbasis komoditi unggulan di setiap provinsi.
Pengembangan industri berbasis SDA dengan medium-technology industry dipusatkan di luar pulau Jawa dan high-tech industry yang membutuhkan tenaga kerja terampil, dukungan lembaga pelatihan, riset dan pengembangan dibangun di pulau Jawa.
Akhirnya, untuk menghindari “5 percent growth trap” ada baiknya merujuk fisikawan, Albert Einstein bahwa “insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result”. Ibarat mobil, saatnya pemerintah berpindah dari “gigi tiga ke gigi lima”, mengubah cara berpikir dan bertindak menuju status negara maju tahun 2045.









