Hasil Eksperimen Ungkap Kelemahan Kendaraan Listrik China
Sebuah film dokumenter Australia memicu perdebatan mengenai keamanan siber kendaraan listrik (EV)—khususnya model buatan Tiongkok—setelah seorang pakar keamanan berhasil mengakses dan mengendalikan beberapa fungsi pada truk pikap BYD Shark 6.
Laporan yang ditayangkan oleh ABC News tersebut menyoroti bagaimana produsen mobil modern mengumpulkan data dalam jumlah besar dari kendaraan yang terhubung ke internet, termasuk lokasi, kecepatan, penggunaan sistem, dan informasi terkait pengemudi.Investigasi ini juga berfokus pada merek EV asal Tiongkok seperti BYD dan Xpeng. Menurut laporan tersebut, seseorang yang mengaku memiliki akses internal ke sistem Xpeng mampu memantau data dari sebuah Xpeng G6, termasuk lokasi terkini, kecepatan, status kursi, dan sudut kemudi.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi data pengguna dikirim ke atau diakses dari luar negeri, terutama mengingat kendaraan pintar kini semakin banyak digunakan oleh pejabat pemerintah dan individu yang menangani informasi sensitif.
Mobil Koenigsegg Gemera Seharga Rp53 Miliar Dirusak di Depan Hotel, Pemilik Nangis Kaca Depan Hancur
Dalam eksperimen terpisah, pakar keamanan siber otomotif Dan Hreszczuk diberi akses ke sebuah BYD Shark 6 selama dua minggu untuk menguji keamanan sistemnya.
Ia mengaku menemukan celah keamanan yang memungkinkannya mengakses sistem kendaraan tanpa kata sandi.Melalui akses tersebut, ia dapat mengendalikan berbagai fungsi, seperti mengunci pintu, menyalakan lampu, mengoperasikan wiper kaca depan, dan memutar musik saat kendaraan sedang melaju.
Yang lebih mengkhawatirkan, Hreszczuk mengklaim dapat mengakses mikrofon internal kendaraan dan mendengarkan percakapan yang terjadi di dalam kabin. Menurutnya, akses ini juga memungkinkan perintah suara tertentu diputar melalui speaker kendaraan untuk mengaktifkan asisten virtual pada ponsel pintar yang terhubung, sehingga berpotensi mengungkap informasi pribadi pengguna.
Meskipun masalah ini menimbulkan pertanyaan terkait keamanan data dan privasi pengguna, para ahli berpendapat bahwa kekhawatiran semacam itu tidak hanya terbatas pada kendaraan buatan Tiongkok.
Sebelumnya, sebuah studi oleh Mozilla menemukan bahwa banyak merek otomotif global mengumpulkan data pengguna dalam jumlah besar, bahkan ada yang membagikan atau menjual data tersebut kepada pihak ketiga.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai produsen kendaraan—termasuk Tesla, Kia, dan Subaru—juga menghadapi laporan mengenai kerentanan keamanan digital yang berpotensi dimanfaatkan oleh peretas.
Para analis industri berpendapat bahwa perkembangan teknologi kendaraan pintar menuntut langkah-langkah perlindungan data yang lebih ketat serta pengawasan berkelanjutan oleh pihak regulator.
Seiring dengan semakin besarnya ketergantungan mobil pada perangkat lunak, konektivitas internet, dan pembaruan jarak jauh, isu keamanan siber kini dipandang sama krusialnya dengan aspek keselamatan fisik kendaraan.








