Ford Buka Showroom Rasa Cafe, Strategi Baru Rebut Pasar Indonesia
Ford RMA Indonesia meresmikan Ford Experience Center (FEC) di Sunter, Jakarta Utara, 17 April 2026 silam. Lokasinya di Jl. Yos Sudarso No.85. Luas lahannya 1.014 meter persegi. Angka yang tidak kecil untuk sekadar tempat jual mobil.
Ini bukan showroom biasa. Ford menyebutnya “multi-functional hub”. Isinya bukan hanya mobil. Tapi juga pengalaman, edukasi, bahkan tempat nongkrong.
Ford memang punya sejarah panjang. Lebih dari 123 tahun global. Di Indonesia lebih dari 25 tahun. Tapi sejarah saja tidak cukup. Pasar Indonesia berubah. Konsumen makin kritis. Layanan purna jual jadi penentu.
Di sinilah FEC Sunter ingin bermain.
Ada tiga area utama. Experience center, lounge, dan showroom. Di experience center, pengunjung bisa lihat teknologi mobil seperti Next-Gen Ford Ranger dan Everest. Di lounge, ada kopi dari Common Grounds dan makanan dari Omari. Suasana dibuat santai. Tidak seperti dealer yang kaku.Di showroom, ada area kustomisasi. Aksesori dipajang. Bahkan ada display gaya hidup otomotif.
Terdengar lengkap. Tapi pertanyaannya: apakah ini yang dibutuhkan pasar?
Ford punya 33 dealer di Indonesia. FEC Sunter jadi bagian dari jaringan itu. Fasilitasnya 3S: sales, service, spare parts. Ini standar industri. Tapi Ford menambah satu hal: rasa aman.Lewat program Ford 360 Inclusive Service. Servis dan suku cadang ditanggung 3 tahun atau 60.000 km. Mana yang lebih dulu. Garansi standar tetap 3 tahun atau 100.000 km.
Angka ini penting. Karena konsumen Indonesia sensitif terhadap biaya perawatan.Roelof Lamberts, Regional Director RMA Indonesia, bilang: “Fokus kami melampaui sekadar transaksi penjualan.”
Kalimat yang sering kita dengar. Tapi implementasinya yang diuji.
Ford juga kasih insentif saat pembukaan. Tambahan 1 tahun extended warranty. Plus 1 tahun tire warranty. Berlaku sampai 31 Mei 2026.
Strateginya jelas: menarik pembeli awal. Namun ada catatan. Pasar otomotif Indonesia saat ini tidak hanya soal pengalaman. Harga dan efisiensi masih jadi faktor utama. Merek Jepang dan China bermain agresif di sini. Mereka unggul di harga dan jaringan.Ford datang dengan pendekatan berbeda: premium experience. Masalahnya, apakah konsumen siap membayar lebih untuk “experience”?Di segmen SUV seperti Ranger dan Everest, Ford memang punya basis. Tapi volume pasar tetap terbatas dibanding LMPV atau SUV kompak.Artinya, FEC Sunter lebih cocok sebagai penguat brand, bukan penggerak volume besar.
Langkah ini terlihat seperti investasi jangka panjang. Ford tidak mengejar penjualan cepat. Mereka membangun fondasi.
Tapi fondasi saja tidak cukup. Harus diikuti harga kompetitif, ketersediaan unit, dan layanan yang benar-benar konsisten. Kalau tidak, FEC hanya jadi tempat ngopi yang mahal.








