Ford Menyerah pada Dominasi China: Rugi Rp331 Triliun, Penjualan EV Anjlok 52 Persen, Petinggi Bintang Mundur
Ini kabar buruk bagi Ford. Sangat buruk. Pekan lalu, perusahaan mengumumkan kepergian Doug Field. Ia bukan eksekutif sembarangan. Ia veteran dari Tesla dan Apple. Direkrut Ford pada 2021. Posisinya mentereng: Chief EV, Digital, and Design Officer.
Saat ia masuk, CEO Ford Jim Farley menyebutnya sebagai momen bersejarah. Bintang dari Silicon Valley dibawa ke jantung Detroit untuk mengubah kultur kolot pabrikan mobil bensin menjadi perusahaan teknologi. Harapannya, Ford bisa bikin mobil pintar yang laku lewat biaya berlangganan (subscription).
Tapi, jalan pikiran orang teknologi rupanya susah sinkron dengan realitas aspal.
Selama hampir lima tahun Field bekerja, banyak hal besar yang ia rancang akhirnya masuk ke keranjang sampah. Proyek-proyek mobil listrik (Electric Vehicle/EV) generasi berikutnya dibatalkan. Bahkan, arsitektur kelistrikan canggih yang rencananya jadi "otak" mobil Ford masa depan juga ikut dikubur.
"Perjalanan saya di sini bukan soal produk," kelit Field kepada wartawan. "Ini soal membangun tim, membangun kemampuan, dan membangun budaya kerja."Benarkah begitu? Angka di buku catatan keuangan Ford bicara sebaliknya.
Chief EV, Digital, and Design Officer Dough Field. Foto: istBulan Desember 2025 lalu, Ford harus menghapusbukukan nilai aset (writedown) sebesar USD 19,5 miliar. Kalau dirupiahkan, itu Rp331,5 triliun! Uang raib akibat mundurnya mereka dari sejumlah proyek mobil listrik.
Secara penjualan, posisi Ford makin tertinggal. Tahun 2025, total mobil yang mereka jual di Amerika Serikat mencapai 2,2 juta unit. Tapi, dari jumlah itu, mobil listrik murni (Mustang Mach-E, F-150 Lightning, dan E-Transit) hanya menyumbang 3 sampai 4 persen saja. Tepatnya hanya 84.113 unit.
Angka 84.113 unit itu pun sebenarnya adalah rapor merah. Jumlah itu turun 14 persen dibanding 2024. Bahkan di kuartal keempat 2025, penjualan EV Ford kolaps, anjlok 52 persen menjadi hanya 14.513 unit. Divisi Model e (khusus kendaraan listrik) merugi hingga USD 1,4 miliar (Rp23,8 triliun) hanya di kuartal ketiga.Ford benar-benar kena hajar. Sebagai perbandingan, saingan senegaranya, General Motors (GM), berhasil menjual mobil listrik dua kali lipat lebih banyak dari Ford di tahun yang sama.
Maka, Ford terpaksa banting setir. Rencana Field yang terlalu melangit diturunkan. Mereka kini kembali fokus jualan mobil hybrid (campuran bensin dan listrik). Mobil hybrid Ford nyatanya laku keras. Tahun lalu terjual 228.072 unit, alias 10 persen dari total penjualan. Tumbuh 21,7 persen. Orang Amerika ternyata masih takut kehabisan baterai di tengah jalan.Meski pergi, Field meninggalkan satu warisan yang akan dites pasar: proyek mobil listrik murah. Tahun depan, Ford berencana merilis pikap listrik seharga USD 30.000 (Rp510 juta). Bersama mantan orang Tesla, Alan Clarke, Field merancang pikap ini untuk membendung invasi mobil-mobil murah buatan Tiongkok. Sepeninggal Field, proyek ini diserahkan penuh ke Clarke.
Lalu bagaimana nasib divisi canggih yang ditinggalkan Field?
CEO Jim Farley memutuskan menggabungkannya kembali dengan tim produksi bensin yang dipimpin Kumar Galhotra. Dulu dipisah, sekarang dikawinkan lagi. Namanya jadi "Product Creation and Industrialization". Alasannya untuk efisiensi, mengingat Ford harus menyegarkan 80 persen lini produknya di Amerika Utara hingga 2029 nanti.
Ford sedang gagap. Rencana besar tahun 2030 (membuat hybrid dan EV menguasai 50 penjualan global mereka) rasanya makin berat tercapai jika bintang-bintang penemu teknologinya memilih angkat kaki.








