Pacuan Kuda Indonesia Bersiap Mendunia, IHR 2026 Hadir dengan Konsep Lebih Modern dan Profesional

Pacuan Kuda Indonesia Bersiap Mendunia, IHR 2026 Hadir dengan Konsep Lebih Modern dan Profesional

Olahraga | inews | Selasa, 8 September 2026 - 06:01
share

JAKARTA, iNews.id - Pacuan kuda Indonesia mulai diarahkan menuju panggung dunia melalui Indonesia’s Horse Racing (IHR) 2026 yang dikembangkan Sarga.co dengan konsep olahraga, hiburan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

IHR dikembangkan bukan hanya sebagai kompetisi untuk menentukan kuda tercepat. Platform tersebut dirancang menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan olahraga berkuda dengan potensi daerah di berbagai wilayah Indonesia.

Sarga.co hadir sebagai promotor pacuan kuda profesional pertama dan satu-satunya di Indonesia melalui IP Indonesia’s Horse Racing. Kehadiran IHR menjadi bagian dari upaya mengubah cara pacuan kuda dikelola, dikemas, dan diperkenalkan kepada masyarakat.

Olahraga yang memiliki sejarah panjang di Indonesia tersebut kini mendapatkan pendekatan baru agar semakin dekat dengan generasi masa kini. Pada 2025, IHR menggelar sembilan event dengan tema “The Race of Rising Stars”.

Memasuki 2026, Sarga.co membawa ambisi lebih besar melalui tema “Race to the World Stage”. Tema tersebut menjadi landasan pengembangan IHR menuju kompetisi yang lebih profesional sekaligus memiliki jangkauan penonton yang lebih luas.

Delapan Kejuaraan IHR 2026 Tersebar di Berbagai Daerah

Bersama PP Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI), Sarga.co menghadirkan delapan kejuaraan dalam kalender IHR 2026. Rangkaian kompetisi tersebut digelar di sejumlah wilayah dengan karakter dan tradisi berkuda yang berbeda.

Agenda IHR 2026 dibuka melalui IHR Jateng Derby 2026 di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, pada 15 Februari. Setelah itu, kompetisi berlanjut lewat IHR Triple Crown Serie 1 & Pertiwi Cup di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada 4 April.

Pada 10 Mei, giliran IHR Triple Crown Serie 2 & Piala Raja Mangkunegaran digelar di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton. Rangkaian tersebut kemudian berlanjut pada Juni melalui IHR Piala Paku Alam di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Agenda utama lainnya hadir lewat IHR Indonesia Derby 2026 di Gelanggang Pacuan Kuda Legokjawa, Pangandaran, Jawa Barat, pada 26 Juli. Memasuki Agustus, kompetisi dilanjutkan melalui IHR Merdeka Cup 2026 di Sumatera Barat.

Rangkaian IHR 2026 selanjutnya dijadwalkan menuju Kejurnas Seri II di Sulawesi Utara pada Oktober. Kompetisi kemudian ditutup dengan Piala Hamengku Buwono X di DI Yogyakarta pada November 2026.

Sebaran venue tersebut menjadi bagian dari konsep IHR. Setiap wilayah memiliki sejarah, karakter, serta tradisi berkuda yang berbeda sehingga event tidak hanya berfungsi sebagai kompetisi, tetapi juga membuka ruang untuk memperkenalkan potensi lokal kepada audiens yang lebih luas.

Siaran Berbahasa Inggris Jadi Jalan Menuju Audiens Global

Ambisi membawa IHR ke panggung dunia mulai diwujudkan melalui peningkatan kualitas produksi dan distribusi siaran. Untuk pertama kalinya, sejumlah event IHR diproduksi dengan siaran berbahasa Inggris.

Langkah tersebut diarahkan untuk memperkenalkan pacuan kuda Indonesia kepada penonton dan komunitas internasional. Dengan produksi yang lebih modern, pertandingan tidak hanya dapat dinikmati masyarakat yang hadir langsung di arena.

VP Marketing & Operation Sarga.co, Kevin Jonathan, menyebut peningkatan kualitas produksi siaran menjadi salah satu implementasi tema IHR 2026.

“Memproduksi sebuah siaran berstandar internasional untuk menjangkau masyarakat global merupakan salah satu implementasi dari tema IHR 2026 yaitu Race to the World Stage. Kami berharap siaran IHR berbahasa Inggris ini dapat menjadi pintu masuk perhatian dan minat audiens dan komunitas dunia terhadap pacuan kuda di Indonesia,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, IHR berusaha memperluas cerita di balik perlombaan. Performa kuda dan joki hingga karakter daerah yang menjadi lokasi event dapat diperkenalkan kepada penonton melalui produksi siaran yang lebih modern.

Dengan demikian, target yang dibawa menuju panggung global bukan hanya pertandingan pacuan kuda. IHR juga ingin memperkenalkan cerita mengenai tradisi, daerah, dan ekosistem yang berkembang di sekitar olahraga tersebut.

Direktur Komersial Sarga.co, Diana Airin, menegaskan modernisasi IHR tetap berjalan bersama penghormatan terhadap tradisi dan kearifan lokal.

“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi antusiasme masyarakat terhadap penyelenggaraan IHR sepanjang 2026. Bagi kami, IHR bukan hanya mengenai siapa yang menjadi juara di lintasan, melainkan juga bagian dari perjalanan untuk membangun pacuan kuda Indonesia menjadi semakin profesional dan modern, sekaligus tetap menghargai tradisi dan kearifan lokal,” katanya.

Konsep tersebut terlihat dari pemilihan venue IHR di berbagai wilayah dengan latar budaya berkuda yang beragam. Lintasan di Jawa memiliki sejarah dan tradisi yang berbeda dengan pacuan kuda di Sumatera Barat maupun Sulawesi Utara.

Perbedaan karakter tersebut justru menjadi kekuatan IHR untuk menghadirkan pengalaman yang lebih beragam. Venue tidak hanya menjadi tempat perlombaan, tetapi juga sarana memperkenalkan budaya, karakter, dan potensi daerah kepada penonton.

Pacuan kuda sendiri merupakan bagian dari warisan olahraga yang berkembang dalam berbagai tradisi masyarakat Indonesia. Sarga.co menjadikan warisan tersebut sebagai fondasi untuk membangun wajah baru olahraga berkuda tanpa menghilangkan akar sejarahnya.

Melalui Indonesia’s Horse Racing, tradisi dipadukan dengan pendekatan industri modern. Kompetisi dikembangkan secara profesional, produksi siaran ditingkatkan, pengalaman penonton diperluas, dan peluang komersial dibuka lebih jauh.

Perjalanan IHR 2026 menjadi bagian dari visi tersebut. Dari berbagai lintasan di Nusantara, Sarga.co ingin membawa pacuan kuda Indonesia kepada audiens yang lebih luas sekaligus menunjukkan potensi olahraga tersebut untuk berkembang menuju panggung dunia.

Topik Menarik