Rupiah Loyo ke Rp17.903, Ini Pemicunya
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada akhir perdagangan Rabu (14/10/2026). Rupiah turun 3 poin atau sekitar 0,02 persen ke level Rp17.903 per dolar AS.
Salah satu sentimen eksternal berasal dari serangan kelompok Houthi terhadap gedung administrasi milik perusahaan minyak Saudi Aramco di Dhahran, Arab Saudi, yang menyebabkan kebakaran berskala kecil.
“Kelompok tersebut telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke arah Arab Saudi selama sepekan terakhir sebagai balasan atas dukungan kerajaan tersebut terhadap pasukan pemerintah Yaman,” tulis analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi.
Bandara Internasional Riyadh dilaporkan telah diserang sebanyak empat kali. Serangan pada Sabtu menewaskan 13 orang.
Selain itu, Iran dilaporkan menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz guna menjaga harga minyak tetap tinggi dan memengaruhi pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat (AS). Informasi tersebut disampaikan dua pejabat senior Iran kepada Reuters.
Keputusan untuk menerapkan strategi baru ini diambil pada tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan dikoordinasikan di seluruh sistem pemerintahan negara tersebut, kata para pejabat itu.
Seorang pejabat militer AS yang berbicara dengan syarat anonim mengonfirmasi bahwa Iran telah mengubah taktik secara signifikan. Setelah AS menghancurkan sebagian besar kemampuan radar Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mulai menggunakan kapal-kapal kecil tanpa senjata untuk melakukan pengintaian dan mengidentifikasi target potensial, termasuk kapal Angkatan Laut AS, kata pejabat tersebut.
Di Rusia, pemerintah menyatakan pada Selasa bahwa pihaknya tidak melihat hubungan langsung antara perundingan damai dengan Ukraina dan kesepakatan ekspor solar ke AS.
Pernyataan tersebut muncul setelah Reuters melaporkan bahwa utusan AS telah menyampaikan kepada pejabat Ukraina pada Jumat bahwa kesepakatan itu merupakan bagian dari upaya untuk membawa Rusia kembali ke meja perundingan demi mencapai kesepakatan damai.
RMAB, MNCN dan STA Jalin Kemitraan Strategis, Bangun Ekosistem Media Terintegrasi di Indonesia
Para pelaku pasar kini menantikan laporan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS yang dijadwalkan dirilis malam ini untuk memperoleh petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga. Inflasi utama AS pada September diperkirakan naik 0,6 persen secara bulanan (month-on-month/MoM), meningkat dari 0,4 persen pada Agustus.
Sementara itu, inflasi tahunan diperkirakan naik menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen.
Dari dalam negeri, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dari 5,0 persen menjadi 5,1 persen.
Namun, inflasi Indonesia diproyeksikan mencapai 3,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut meningkat dibandingkan dengan laporan IMF pada Juli 2026 yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,0 persen.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 dalam laporan edisi Oktober tidak berubah dibandingkan dengan edisi Juli, yakni sebesar 5,1 persen.
IMF menyoroti dua kekuatan transformatif yang membentuk kembali perekonomian global, yaitu geopolitik dan teknologi.
Dampak kondisi global terhadap setiap negara dinilai berbeda, bergantung pada kedekatannya dengan wilayah konflik serta tingkat sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas.
Selain itu, kondisi ekonomi setiap negara juga dipengaruhi oleh kemampuan dalam memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Adapun pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 sebesar 5,4 persen.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen pada kuartal III/2026 dan kuartal IV/2026 masih dapat tercapai.
Pada semester I/2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45 persen, menjadi salah satu capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada kuartal I/2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen.
Sementara itu, defisit transaksi berjalan Indonesia (current account deficit/CAD) diproyeksikan melebar menjadi 1,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), dari 0,1 persen terhadap PDB pada 2025.
Defisit tersebut diperkirakan kembali menyempit pada 2027 menjadi 1 persen terhadap PDB. Proyeksi CAD dari IMF ini lebih besar dibandingkan dengan proyeksi Bank Indonesia (BI), yakni dalam kisaran 0,5–1,3 persen terhadap PDB.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.900–Rp17.950 per dolar AS.










