Pidato Nasution saat Pemakaman Pahlawan Revolusi di HUT TNI: Fitnah PKI Lebih Kejam dari Pembunuhan!
JAKARTA - Peristiwa gugurnya enam jenderal dan seorang perwira menengah TNI AD saat Gerakan 30 September atau G30S PKI menjadi catatan kelam bangsa Indonesia. Ketujuhnya menjadi korban keganasan PKI.
Jenderal AH Nasution yang lolos dari peristiwa keji itu membacakan pidato saat melepas ketujuh jenazah Pahlawan Revolusi, pada 5 Oktober 1965 atau 61 tahun silam yang juga bertepatan dengan HUT TNI.
Mereka yang kemudian mendapat penghormatan sebagai Pahlawan Revolusi adalah Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal S. Parman, Letnan Jenderal M.T Haryono, Mayjen D.I Panjaitan, Brigjen Sutoyo, dan Kapten Pierre Tendean.
Saat pemakaman pahlawan revolusi, Jenderal Nasution dengan suara bergetar menegaskan, TNI tak akan mundur menghadapi fitnah PKI dan akan meneruskan perjuangan para jenderal yang telah mendahului wafat.
”Kami semua yang kamu tinggalkan punya kewajiban meneruskan perjuangan kita,” tegas Jenderal Nasution. Berikut ini isi pidato lengkapnya:
Para prajurit sekalian. Kawan-kawan sekalian. Terutama rekan-rekan yang sekarang kami sedang lepaskan.
Bissmillahirrahmanirrahiim. Hari ini, hari angkatan bersenjata kita, hari yang selalu gemilang, tetapi yang kali ini, hari yang dihinakan, oleh fitnahan, dihinakan oleh penghianatan, dihinakan oleh penganiayaan.
Tetapi hari angkatan bersenjata kita, kita setiap prajurit tetap rayakan dalam hati sanubari kita, dengan tekad kita, dengan nama Allah yang maha kuasa, bahwa kita akan tetap menegakkan kejujuran, kebenaran, keadilan. Jenderal Suprapto, Jenderal Hartono, Haryono, Jenderal Parman, Jenderal Panjaitan, Jenderal Sutoyo, Letnan Tendean.
Kamu semua mendahului kami, kami semua yang kamu tinggalkan punya kewajiban meneruskan perjuangan kita, meneruskan tugas angkatan bersenjata kita, meneruskan perjuangan TNI kita, meneruskan tugas yang suci.
Justru di sini kami semua, saksi yang hidup, kamu adalah telah berjuang, sesuai dengan kewajiban kita semua, menegakkan keadilan, kebenaran, kemerdekaan. Tidak ada yang ragu ragu, kami semua sedia juga, mengikuti jalan kamu. Jika memang fitnah mereka itu benar, kami akan buktikan.
Rekan rekan, adik adik saya sekalian. Saya sekarang sebagai yang tertua, dalam TNI yang tinggal bersama lainnya, akan meneruskan perjuangan kamu, membela kehormatan kamu, menghadaplah sebagai pahlawan, pahlawan dalam hati kami seluruh TNI.
Sebagai pahlawan menghadaplah, kepada asal mula kita, yang menciptakan kita, Allah Ta’ala. Karena akhirnya Dialah panglima kita Yang Paling Tertinggi.
Dialah yang menentukan segala sesuatu, juga atas diri kita semua. Tetapi dengan keimanan ini juga, kami semua yakin, bahwa yang benar akan tetap menang, dan yang tidak benar akan tetap hancur.
Fitnah, fitnah berkali kali, fitnah lebih jahat dari pembunuhan, lebih jahat dari pembunuhan, kita semua difitnah, dan saudara saudara telah dibunuh, kita diperlakukan demikian. Tapi jangan kita, jangan kita dendam hati, iman kepada Allah Ta’ala, iman kepada Nya, mengukuhkan kita. Karena Dia perintahkan, kita semua berkewajiban, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.









