Konsultasi Psikolog Tanpa Takut Stigma di Kantor, Bagaimana Kerahasiaan Datanya?

Konsultasi Psikolog Tanpa Takut Stigma di Kantor, Bagaimana Kerahasiaan Datanya?

Gaya Hidup | okezone | Jum'at, 2 Oktober 2026 - 19:05
share

KEKHAWATIRAN soal stigma kesehatan mental masih menjadi salah satu alasan sebagian pekerja enggan berkonsultasi dengan psikolog. Salah satu yang kerap dikhawatirkan adalah catatan atau data hasil konsultasi yang dianggap dapat diketahui oleh perusahaan.

Lantas, apakah benar catatan saat konsultasi psikolog bisa diakses kantor? Ataukah kerahasiaannya benar terjaga?

1. Konsultasi Psikolog Tanpa Takut Stigma di Kantor

Psikolog dan Ketua Bidang Kemitraan dan Komunikasi Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), Annelia Sari Sani, S.Psi, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa layanan psikologi pada dasarnya bersifat rahasia atau confidential.

Menurutnya, data dari layanan psikologi tidak dapat diberikan kepada pihak lain tanpa permintaan atau persetujuan dari orang yang bersangkutan. Dengan demikian, pekerja yang mengakses layanan psikologi tidak perlu khawatir informasi pribadinya secara otomatis diketahui oleh perusahaan.

Namun, terdapat kondisi tertentu yang menjadi pengecualian. Utamanya ketika seseorang berada dalam kondisi yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.

"Semua layanan psikologi itu sifatnya confidential. Bila tidak ada permintaan dan tidak diperbolehkan dengan yang bersangkutan, maka data tidak bisa keluar," ujar Anne.

Anne menjelaskan, informasi dapat dibuka apabila terdapat kondisi serius yang berkaitan dengan keselamatan. Misalnya, seseorang mengalami gangguan jiwa berat disertai halusinasi atau delusi yang membuatnya berpotensi menyakiti orang lain.

Hal serupa berlaku ketika seseorang menunjukkan indikasi ingin mengakhiri hidup atau bahkan telah melakukan percobaan mengakhiri hidup. Dalam situasi tersebut, informasi perlu segera disampaikan kepada pihak yang bertanggung jawab terhadap kesehatan pasien, termasuk kontak daruratnya.

2. Pentingnya Mengurangi Stigma Kesehatan Mental

Anne menilai kekhawatiran terhadap stigma kesehatan mental salah satunya muncul karena masih rendahnya pengetahuan dan kepedulian mengenai kesehatan jiwa. Karena itu, pentingnya kesehatan jiwa sekaligus deteksi dini pun terus didorong sejumlah pihak. Salah satunya melalui dukungan terhadap skrining kesehatan jiwa dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG), baik untuk anak sekolah maupun orang dewasa.

Skrining juga didorong untuk dilakukan pada ibu hamil dan ibu setelah melahirkan. Dengan deteksi lebih awal, persoalan kesehatan jiwa diharapkan dapat segera diketahui sehingga intervensi dapat dilakukan dengan lebih cepat.

 

3. Kesehatan Mental Pekerja Juga Berdampak pada Perusahaan

Menurut Anne, perusahaan juga memiliki kepentingan untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental karyawan. Jika seorang pekerja mengalami masalah kesehatan mental, dampaknya tidak selalu berhenti pada individu tersebut.

Kondisi itu dapat berpengaruh terhadap produktivitas. Dalam hal ini termasuk ke pekerjaan orang lain yang memiliki keterkaitan dalam satu divisi maupun antarbagian.

"Kalau ada karyawan yang alami masalah kesehatan jiwa, disadari atau tidak, itu memengaruhi terhadap produktivitas," jelas Anne.

Anne menambahkan, ketika pekerjaan dalam satu divisi terdampak, pekerjaan divisi lain yang saling berkaitan juga berpotensi ikut terpengaruh. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap organisasi secara keseluruhan.

Karena itu, Anne menilai pekerja yang berinisiatif mencari bantuan psikologis seharusnya mendapat apresiasi, bukan stigma. Akses terhadap layanan kesehatan mental dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi individu sekaligus mendukung keberlangsungan produktivitas di lingkungan kerja.

Topik Menarik