Intip Peluang Infrastruktur di Tengah Ekspansi Industri RI
JAKARTA - Perkembangan kawasan industri tidak hanya mendorong aktivitas produksi, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur penunjang. Listrik, air, kepelabuhanan, fasilitas penyimpanan, hingga jasa logistik menjadi bagian penting dalam menopang kegiatan industri.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) untuk mengembangkan bisnis infrastruktur yang terintegrasi dengan ekosistem industri di Cilegon, Banten.
Head of Equity Research KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana, mengatakan, CDIA mengembangkan empat pilar bisnis, yakni energi, air, kepelabuhanan dan penyimpanan, serta logistik. Infrastruktur tersebut terhubung dengan aktivitas industri di Kawasan Industri Krakatau (KIK) dan wilayah sekitarnya yang menjadi salah satu kawasan industri berat dan petrokimia.
"CDIA berada pada ekosistem yang kebutuhan infrastrukturnya mengikuti perkembangan aktivitas industri. Karena itu, pertumbuhan kawasan dapat membuka peluang bagi peningkatan permintaan terhadap energi, utilitas maupun layanan logistik,” ujar Fikri di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Laporan riset KB Valbury Sekuritas mencatat, pendapatan CDIA pada semester I 2026 mencapai USD82,1 juta, tumbuh 22,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh bisnis energi dan logistik.
Pendapatan segmen energi mencapai USD51,8 juta atau meningkat 5,4 persen secara tahunan. Sementara itu, pendapatan logistik tumbuh lebih tinggi sebesar 80,2 persen menjadi USD27 juta.
Pertumbuhan pendapatan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya tekanan biaya. Biaya pendapatan meningkat 30,9 persen, sementara beban operasional melonjak 103,2 persen secara tahunan. Meski demikian, perkembangan kawasan industri masih menjadi salah satu faktor yang membuka ruang pertumbuhan bagi bisnis infrastruktur CDIA.
"KIK I dan KIK II, misalnya, telah mencatat tingkat okupansi masing-masing sekitar 73 persen dan 92 persen. Sementara itu, KIK III masih dalam tahap pengembangan untuk mendukung ekosistem petrokimia dan kendaraan listrik, dengan sekitar 253 hektare lahan yang belum dikembangkan,” tambah Fikri.
Ekspansi kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan energi dan utilitas. Riset KB Valbury memperkirakan konsumsi listrik nasional tumbuh sekitar 5 persen per tahun hingga 2034, sedangkan kebutuhan listrik sektor industri diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, sekitar 5,9 persen per tahun.
Potensi permintaan juga dapat berasal dari proyek Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik Chandra Asri Pacific. Proyek yang terdiri atas fasilitas Chlor Alkali berkapasitas 400 KTA dan EDC 500 KTA itu telah mencapai progres konstruksi 72 persen hingga Juli 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Bagi CDIA, pengembangan CA-EDC berpotensi menambah kebutuhan terhadap listrik, air, kepelabuhanan, penyimpanan, dan layanan logistik. Namun, besaran kontribusi proyek tersebut terhadap pendapatan maupun laba CDIA belum dapat dipastikan karena belum terdapat estimasi spesifik yang diungkapkan.
Keterkaitan dengan ekosistem industri juga tercermin dari kontribusi transaksi pihak berelasi yang mencapai 22,3 persen dari pendapatan CDIA pada semester I 2026. Di bisnis logistik, Chandra Asri Group menyumbang sekitar 60 persen kapasitas pengiriman CDIA, dengan kontrak time charter yang umumnya memiliki tenor hingga masa ekonomis kapal.










