Laporan: 'Tentara Hantu' Buat Houthi Mudah Rebut Kota Mocha dari Pasukan Yaman
SANAA — Pasukan Yaman yang ditempatkan di kota pelabuhan Mocha sama sekali tidak siap menghadapi serangan kelompok Houthi, yang menyebabkan kota itu jatuh dengan mudah pada Kamis (10/9/2026), demikian dilaporkan CNN. Menurut laporan tersebut, salah satu hal yang menyebabkan ketidaksiapan batalion tentara Yaman itu adalah keberadaan personel fiktif, atau yang juga disebut sebagai "Tentara Hantu".
"Tentara Hantu" adalah sebutan untuk "nama-nama fiktif" yang didaftarkan sebagai tentara padahal sebenarnya tidak ada. Sebuah sumber Barat yang mengetahui operasi anti-Houthi di Yaman mengatakan kepada CNN bahwa nama-nama fiktif tersebut tetap menerima gaji, sehingga kekuatan militer tampak jauh lebih besar di atas kertas daripada kenyataannya. Menurut sumber tersebut, kekuatan riil pasukan Yaman hanya sekitar 20 dari angka yang tercatat.
Tanggung jawab atas minimnya perlawanan militer terhadap penguasaan wilayah oleh Houthi ini terbagi di antara para pemimpin Yaman, Amerika Serikat (AS), dan Arab Saudi, dengan berbagai sumber yang menyatakan kepada CNN bahwa ada pihak-pihak berbeda yang harus bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.
Salah satu sumber regional CNN menggambarkan jatuhnya Mocha sebagai "kekacauan luar biasa ulah Saudi dan AS" yang disebabkan oleh keterlambatan pengambilan keputusan oleh Washington dan Riyadh.
"Kegagalan kali ini bukan terletak pada pihak Yaman," ujar sumber tersebut kepada CNN pada Jumat (11/9/2026). "Tidak ada satu pun serangan udara yang dilakukan sepanjang hari kemarin (oleh pasukan pendukung Saudi), padahal informasi terkini terus dilaporkan dari menit ke menit."
Sumber lain menyatakan bahwa militer Saudi sebenarnya telah disiagakan tinggi karena adanya kemungkinan pergerakan maju pasukan Houthi sejak beberapa minggu sebelumnya, namun mereka gagal bersiap menghadapi serangan tersebut. Personel kunci komando udara yang bertugas mengarahkan pesawat tempur dikabarkan tidak dikerahkan.
"Saudi membiarkan pihak Yaman menanggung akibatnya sendirian," kata sumber tersebut kepada CNN.
Menurut laporan tersebut, seorang pejabat senior Yaman mengatakan bahwa ia telah berulang kali memperingatkan Komando Pusat AS (CENTCOM) bahwa "situasi sedang menjadi kritis."
Sumber tersebut mengatakan kepada CNN bahwa CENTCOM meyakinkannya bahwa AS "memantau situasi dengan cermat dan bantuan udara Saudi akan segera tiba," namun bantuan udara yang dijanjikan itu tidak pernah datang.
Pada Kamis, saat serangan Houthi terjadi, kepala CENTCOM Laksamana Brad Cooper sedang berada di Arab Saudi untuk menghadiri rapat koordinasi, demikian ungkap dua sumber kepada CNN.
Meskipun CENTCOM tidak mengonfirmasi kunjungan tersebut, CNN mengutip pernyataan seorang pejabat AS yang menyebutkan bahwa dalam beberapa minggu terakhir, personel militer Amerika telah bekerja sama dengan komando gabungan yang baru dibentuk; komando ini dibentuk setelah muncul kecurigaan bahwa Iran sedang meningkatkan upaya untuk mendukung serangan-serangan Houthi.
Mohammed al-Basha, yang berbasis di Washington DC dan pernah menjabat sebagai penasihat pemerintah AS untuk wilayah Semenanjung Arab, berpendapat kepada CNN bahwa perpecahan internal di kalangan pimpinan Yaman turut menjadi penyebab kegagalan dalam mempertahankan Mocha.










