Mitos! Ketindihan saat Tidur Bukan karena Hantu, Ini Penjelasan Ilmiah dari Dokter

Mitos! Ketindihan saat Tidur Bukan karena Hantu, Ini Penjelasan Ilmiah dari Dokter

Gaya Hidup | okezone | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:05
share

MITOS mengenai fenomena erep-erep atau ketindihan saat tidur masih melekat kuat di tengah masyarakat. Sensasi tubuh yang mendadak kaku, dada terasa seperti ditindih beban berat, hingga kepanikan yang muncul sering kali dikaitkan dengan interaksi mistis atau ulah sosok roh jahat.

Padahal, dari sudut pandang medis, peristiwa membingungkan ini murni merupakan mekanisme alami tubuh. Ada penjelasan ilmiah secara logis.

1. Fenomena Ketindihan saat Tidur

Ketindihan yang dalam bahasa medis dikenal sebagai sleep paralysis yang sebenarnya merupakan respons biologis saat fase tidur tertentu terganggu. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Cecep Hermawan, menegaskan bahwa fenomena ini sama sekali tidak melibatkan unsur gaib, melainkan wujud ketidakselarasan sementara antara kesadaran otak dan kendali sistem otot.

"Bukan roh jahat yang dudukin dada kalian pas ketindihan. Itu otot yang lagi gak mau nurut sama otak," kata dr. Cecep melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, dikutip Sabtu (8/8/2026).

dr. Cecep menjelaskan bahwa peristiwa ini berkaitan erat dengan transisi dalam tahapan tidur manusia. Ketika seseorang memasuki fase Rapid Eye Movement (REM), kondisi di mana mimpi paling sering terjadi otak secara otomatis mengaktifkan mekanisme perlindungan agar tubuh tidak menggerakkan apa yang dialami di dalam mimpi.

"Pas tidur masuk fase REM (fase kita paling sering mimpi), otak sengaja matiin otot rangka kita biar mimpi enggak diperagain beneran. Nah kadang kesadaran udah bangun duluan, tapi ototnya masih ketahan. Sadar penuh, tapi gak bisa gerak," papar dia.

Rasa tertekan pada dada juga memiliki penjelasan tersendiri. Otot pada dinding dada juga tertahan pada kondisi tersebut.

"Rasa ketekan di dada juga ada penjelasannya: otot dinding dada ikut ketahan, jadi napas terasa dangkal dan berat. Tapi mata sama diafragma gak ikut lumpuh, makanya kita masih bisa buka mata dan nafas tetep jalan," tambah dr. Cecep.

2. Ditemukan di Berbagai Belahan Dunia

Menariknya, persepsi mengenai erep-erep bukan hanya milik budaya tertentu, melainkan fenomena universal. Fenomena ini bisa ditemukan di berbagai belahan dunia dengan interpretasi lokal masing-masing.

"Dan ini bukan cuma di sini loh. Jepang nyebutnya kanashibari, Hongkong punya istilah sendiri, Eropa nyebut old hag. Polanya sama semua," jelas dia.

 

3. Cara Atasi Erep-Erep

Untuk mengatasi situasi ini tanpa rasa panik berlebih, dr. Cecep membagikan panduan praktis yang dapat diterapkan saat sleep paralysis terjadi. Langkah pertama adalah memanfaatkan anggota tubuh yang tidak mengalami kelumpuhan sementara, seperti organ mata dan jari-jari kaki.

dr. Cecep menekankan agar masyarakat tidak melawan kondisi kaku tersebut secara kasar atau memaksa seluruh badan bergerak sekaligus. Pasalnya, tindakan tersebut justru memperpanjang durasi ketindihan.

"Solusi lengkap, pas lagi kejadian gerakin mata dulu, terus goyang jari kaki pelan-pelan. Dari survei ribuan orang yang ngalamin, goyang jari kaki dilaporin berhasil sekitar 64 persen, sementara yang maksa gerak sekuat tenaga cuma sekitar 30 persen. Jadi makin dilawan, makin susah lepasnya," beber dr. Cecep.

Selain gerakan mikro, mengontrol pola napas juga menjadi kunci utama yang sangat efektif untuk mengembalikan kendali kesadaran secara penuh.

"Napas jangan diabaikan. Fokus ke napas malah jadi strategi dengan rating keberhasilan paling tinggi (sekitar 62 persen), tapi justru paling jarang kepikiran orang," ungkap dia.

Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, dr. Cecep menyarankan perbaikan pada higiene tidur (sleep hygiene) serta penyesuaian posisi tidur guna meminimalkan risiko terulangnya fenomena ini di kemudian hari.

"Coba tidur miring, jangan telentang. Ini yang paling banyak dilaporin ngebantu buat nyegah. Tidur teratur, jangan sampe kurang tidur. Ketindihan makin sering muncul kalau jam tidur kita berantakan," pungkas dr. Cecep.

Topik Menarik