Tidur Lagi 30 Menit Usai Bangun Bikin Mimpi Terasa Nyata? Ini Penjelasan Dokter

Tidur Lagi 30 Menit Usai Bangun Bikin Mimpi Terasa Nyata? Ini Penjelasan Dokter

Gaya Hidup | inews | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:04
share

JAKARTA, iNews.id - Pernah terbangun pada pagi hari, kemudian memutuskan tidur lagi selama 30 menit? Alih-alih merasa lebih segar, Anda justru bisa terbangun dengan kepala pusing dan mimpi yang terasa sangat nyata, absurd, bahkan menakutkan.

Fenomena tersebut ternyata memiliki penjelasan secara medis. Dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi konsultan ginjal dan hipertensi (nefrologi), dr Decsa Medika Hertanto, mengatakan kondisi itu berkaitan dengan fenomena yang disebut sleep inertia.

“Pernah nggak kalian udah bangun jam 5 pagi terus mikir, 'Tidur 30 menit lagi kayaknya enak deh’ eh pas bangun kedua kalinya, kalian baru ngalamin mimpi yang terasa nyata banget. Kadang nakutin, sampai bingung, ‘Ini mimpi atau beneran?’,” ujar dr Decsa, dikutip Sabtu (8/8/2026).

Menurut dr Decsa, sleep inertia merupakan kondisi ketika otak belum sepenuhnya kembali aktif setelah seseorang terbangun dari tidur. Tidak seluruh bagian otak langsung bekerja secara bersamaan.

Dia menggambarkan otak manusia seperti sebuah kantor yang memiliki banyak divisi dengan waktu masuk berbeda.

“Ada penjelasan ilmiahnya. Namanya sleep inertia. Bayangin otak kalian itu kantor dengan banyak divisi. Pas alarm bunyi, tit-tit-tit, enggak semua divisi masuk bareng. Divisi gerak badan duluan, makanya bisa jalan ke kamar mandi. Tapi divisi mikir logis, alias cortex prefrontal, itu kayak bosnya yang masih ngopi di kafe. Telat masuk sampai 30 menit,” katanya.

Otak Belum Sepenuhnya Aktif

dr Decsa menjelaskan, berdasarkan riset, aliran darah menuju prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam logika dan pemikiran rasional, membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 30 menit untuk kembali normal setelah seseorang terbangun.

Kondisi tersebut menjadi menarik ketika seseorang memilih kembali tidur setelah alarm pertama berbunyi. Alih-alih memulai siklus tidur dari awal, otak pada pagi hari dapat lebih cepat memasuki fase Rapid Eye Movement (REM), yakni fase tidur yang berkaitan erat dengan aktivitas bermimpi.

“Menurut riset, aliran darah ke prefrontal butuh 5 sampai 30 menit buat balik normal. Nah, kalau di fase ini kalian tidur lagi, otak itu langsung lompat ke fase rapid eye movement atau REM, fase mimpi. Karena pagi hari, otak udah lapar untuk masuk ke fase mimpi,” papar dr. Decsa.

Menurutnya, kondisi tidur yang terputus juga dapat memicu fenomena REM rebound. Fenomena ini membuat otak memasuki fase REM lebih cepat dan intens.

“Plus ada fenomena namanya REM rebound. Tidur kepotong bikin otak balas dendam masuk REM lebih cepat dan lebih intens. Hasilnya, mimpi jadi panjang, vivid, terasa real. Apalagi di fase REM, amigdala dan hipokampus pusat emosi aktif banget. Sementara prefrontal kita hampir off. Makanya mimpinya emosional dan absurd,” tambahnya.

Kenapa Mimpi Terasa Sangat Nyata?

Kombinasi aktivitas berbagai bagian otak selama fase REM dapat membuat mimpi terasa sangat hidup. Pusat emosi seperti amigdala dan hipokampus menjadi aktif, sementara fungsi prefrontal cortex belum sepenuhnya kembali optimal.

Kondisi inilah yang dapat membuat seseorang mengalami mimpi yang terasa emosional, aneh, tidak masuk akal, tetapi seolah-olah benar-benar terjadi.

Karena itu, pengalaman terbangun untuk kedua kalinya setelah tidur sebentar pada pagi hari terkadang disertai kebingungan atau sensasi masih terbawa suasana mimpi.

Untuk mengurangi rasa pening dan efek sleep inertia, dr Decsa menyarankan agar seseorang tidak kembali tidur setelah alarm pertama berbunyi jika memang sudah cukup tidur.

“Nah jadi, kalau udah bangun pagi, mending kena sinar matahari langsung, minum air putih, gerak ringan. Daripada tidur lagi yang malah bikin pusing dan dihantui mimpi-mimpi yang aneh,” ujarnya.

Topik Menarik