Mengenal Bentuk Sperma yang Tidak Normal, Apakah Bisa Diobati dengan Suplemen?
JAKARTA — Bentuk sperma menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kesuburan pria. Tidak hanya jumlah dan kemampuan bergeraknya, morfologi atau bentuk sperma juga berperan dalam menentukan peluang terjadinya pembuahan. Lantas, apakah kelainan bentuk sperma bisa diatasi hanya dengan mengonsumsi suplemen?
Dokter Spesialis Andrologi sekaligus influencer kesehatan, dr. Jefry Tribowo, menjelaskan bahwa kualitas sperma tidak hanya dinilai dari jumlah dan pergerakannya, tetapi juga dari morfologi atau bentuknya.
Sperma Tidak Normal
dr. Jefry mengungkapkan bahwa kelainan bentuk sperma, mulai dari kepala yang bulat hingga ekor yang patah, dapat memengaruhi kemampuan sel sperma bergerak dan menurunkan tingkat kesuburan pria.
Ia menjelaskan bahwa sperma yang sehat umumnya memiliki kepala berbentuk oval atau sedikit lonjong. Bentuk tersebut dirancang secara alami agar sperma dapat bergerak optimal menuju sel telur.
"Bentuk kepala sperma itu kira-kira kayak oval, kayak lonjong gitu. Nah, itu bentuk kepala sperma yang normal," kata dr. Jefry.
Ia menambahkan, bentuk kepala sperma yang tidak oval, misalnya bulat sempurna atau terlalu runcing, termasuk dalam kategori kelainan morfologi.
"Kalau sperma bentuknya tuh kepalanya bulat, itu kelainan. Atau kadang ada juga sering nemuin ya sperma tuh kepalanya kayak lancip gitu ya, lancip lurus gitu ya, tipis banget kayak kurus. Itu juga kelainan," ujarnya.
Menurut dr. Jefry, masih banyak anggapan bahwa sperma dengan kepala yang runcing atau tipis lebih mudah menembus sel telur. Namun, anggapan tersebut tidak benar. Justru, bentuk sperma yang tidak normal menandakan adanya gangguan pada kualitas sel sperma.
"Karena kepalanya rusak, kadang dia jadi pergerakannya nggak bagus, segala macam. Ibaratnya spermanya tuh cacat lah. Contoh sperma lainnya yang cacat tuh sering ekornya patah, lehernya bengkok," ungkap dr. Jefry.
Terkait penanganannya, ia menegaskan bahwa perbaikan kualitas sperma memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Suplemen dapat menjadi terapi pendukung, tetapi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan gaya hidup yang sehat.
Untuk meningkatkan kualitas sperma, pria dianjurkan menerapkan pola hidup sehat secara konsisten, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, menjaga berat badan ideal, tidur yang cukup, menghindari rokok dan alkohol, serta mengelola stres dengan baik.
"Kalau orang cuma berharap dari suplemen aja, itu perbaikannya enggak signifikan," pungkasnya.










