Dampak Gluten Berlebih Mirip Gula, Batasi Konsumsi demi Cegah Penyakit Kronis

Dampak Gluten Berlebih Mirip Gula, Batasi Konsumsi demi Cegah Penyakit Kronis

Gaya Hidup | inews | Senin, 27 Juli 2026 - 20:31
share

JAKARTA, iNews.id - Konsumsi makanan mengandung gluten seperti roti, mi, pasta, dan berbagai olahan tepung gandum sudah menjadi bagian dari pola makan masyarakat. Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang, gluten disebut dapat memberikan dampak yang mirip dengan gula terhadap kesehatan tubuh.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Tirta Mandira Hudhi, mengungkapkan paparan gluten berlebih memiliki kaitan erat dengan meningkatnya risiko inflamasi kronis. Kondisi tersebut dapat menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit kronis di kemudian hari.

"Gini, kebanyakan gluten di dalam tubuh itu ternyata sangat erat dengan kaitannya seperti kebanyakan gula di dalam tubuh. Jadi impact-nya bisa mengganggu sistem inflamasi kronis di masa yang akan datang," kata dr Tirta dalam unggahan video di channel YouTube miliknya, dikutip Minggu (26/7/2026).

Menurut dia, hubungan antara konsumsi gluten berlebih dan risiko penyakit kronis telah diteliti melalui berbagai riset ilmiah. Mulanya temuan tersebut berasal dari studi kohort, kemudian diperkuat melalui meta-analisis.

"Dan itu penelitiannya kohort dulu kalau enggak salah. Terus akhirnya diteliti lagi lewat meta-analisis, ternyata tegak. Bahwa semakin banyak paparan gluten dan gula yang dimakan oleh tubuh manusia dalam jumlah berlebih bertahun-tahun belasan tahun, itu ternyata meningkatkan risiko penyakit-penyakit kronikal. Makanya buat orang-orang dibatasilah si gluten-gluten ini," ujarnya.

dr Tirta menjelaskan perkembangan teknologi kesehatan memungkinkan peneliti melacak riwayat pola makan seseorang melalui studi kohort. Dari sana ditemukan konsumsi gluten dalam jumlah berlebihan selama bertahun-tahun berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan, termasuk munculnya penyakit alergi pada sebagian orang.

"Lho, kok bisa ketahuan? Ya namanya juga teknologi. Kok muncul sih penyakit alergi baru-baru, ternyata setelah dicek cohort kan metode mundur, oh ternyata orang-orang ini dilihat riwayatnya makan gluten dalam bentuk berlebihan. Jadi betul sebenarnya pembatasan gluten itu sangat bagus. Enggak jelek kok," ucapnya.

Meski begitu, dia menilai masyarakat tidak harus menghilangkan gluten sepenuhnya dari menu harian. Yang terpenting adalah membatasi konsumsinya agar tidak berlebihan, terutama jika dikombinasikan dengan asupan gula tinggi.

Di sisi lain, dr Tirta mengakui penerapan diet gluten-free maupun pola makan *clean eating* masih menjadi tantangan karena membutuhkan biaya lebih besar. Kondisi tersebut membuat gaya hidup tersebut belum bisa diterapkan oleh semua kalangan, sehingga pembatasan konsumsi gluten secara bijak menjadi langkah yang lebih realistis untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Topik Menarik