BTN Cetak Laba Rp2,4 Triliun di Semester I-2026, Kredit Tumbuh Dua Digit

BTN Cetak Laba Rp2,4 Triliun di Semester I-2026, Kredit Tumbuh Dua Digit

Ekonomi | okezone | Jum'at, 17 Juli 2026 - 14:08
share

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun pada semester I-2026. Angka tersebut tumbuh 40,8 secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan perolehan Rp1,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan kinerja positif tersebut menunjukkan strategi transformasi BTN yang selaras dengan arah transformasi Danantara Indonesia telah berjalan sesuai target.

Menurut Nixon, BTN tidak hanya terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin pembiayaan perumahan nasional, tetapi juga membangun ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi untuk mendukung program prioritas pemerintah, termasuk Program 3 Juta Rumah, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat.

"Pencapaian ini merupakan hasil transformasi selama satu dekade yang secara konsisten kami lakukan. Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini," ujar Nixon dalam konferensi pers paparan kinerja per 30 Juni 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 2,99 pada semester I-2026, membaik dibandingkan 3,3 pada periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, Nixon menjelaskan transformasi BTN yang dibangun secara bertahap selama lebih dari satu dekade dimulai dari penguatan posisi sebagai housing specialist, dilanjutkan dengan transformasi operasional, hingga kini memasuki fase beyond mortgage untuk membangun ekosistem layanan keuangan yang lebih terintegrasi bagi keluarga Indonesia.

Sejalan dengan arah tersebut, perseroan juga terus memperkuat fondasi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan melalui digitalisasi proses, optimalisasi neraca, penguatan pengendalian risiko, serta implementasi AI Governance guna memastikan pertumbuhan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.

Hingga semester I-2026, BTN mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp418,11 triliun atau meningkat 11,2 yoy dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan kredit perumahan sebesar 4,8 yoy dari Rp317,77 triliun menjadi Rp332,88 triliun per Juni 2026 serta lonjakan kredit nonperumahan sebesar 46,1 yoy dari Rp58,34 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp85,22 triliun pada Juni 2026.

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi masih menjadi mesin pendorong kredit perumahan dengan pertumbuhan 8,1 yoy dari Rp182,17 triliun menjadi Rp196,96 triliun per Juni 2026.

Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN juga tercatat mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026 sejak diluncurkan pada akhir Oktober 2025.

Untuk peningkatan kredit nonperumahan, lanjut Nixon, mayoritas didukung oleh perluasan penetrasi pada berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan, lembaga keuangan, hingga ritel.

Perseroan juga menggandeng perusahaan multifinance untuk memperluas pembiayaan kendaraan bermotor sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis beyond mortgage, sekaligus meningkatkan cross-selling kepada nasabah eksisting.

Sejalan dengan ekspansi pembiayaan, total aset konsolidasi BTN meningkat dari Rp484,96 triliun menjadi Rp545,16 triliun pada semester I-2026 atau tumbuh 12,4 yoy.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kapasitas perseroan dalam mendukung pembiayaan sektor perumahan nasional sekaligus memperluas bisnis pada ekosistem terkait.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BTN mencapai Rp433,00 triliun pada semester I-2026 atau tumbuh 6,6 yoy dari Rp406,38 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Nixon menjelaskan BTN juga terus memperkuat struktur dana murah sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. Perseroan telah menggelar berbagai inisiatif, seperti akuisisi dana ritel, peningkatan transaksi digital, penguatan layanan payroll, hingga perluasan kerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai institusi.

Berbagai inisiatif tersebut berhasil menjaga cost of fund berada di level 3,01 sepanjang semester I-2026.

Menurut Nixon, penguatan struktur pendanaan tersebut menjadi salah satu prioritas utama perseroan pada tahun ini.

"Kami tidak hanya mengejar pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut didukung struktur pendanaan yang semakin kuat sehingga mampu menjaga profitabilitas dan keberlanjutan bisnis perseroan dalam jangka panjang," ujarnya.

Sejalan dengan penguatan struktur pendanaan, hingga semester I-2026, superapps Bale by BTN telah digunakan lebih dari 4,3 juta pengguna.

Peningkatan jumlah pengguna tersebut didukung lebih dari 344 ribu merchant, lebih dari 14 ribu developer, serta kerja sama dengan 59 pemerintah daerah.

Secara transaksi, jumlah dan nilai transaksi melalui Bale by BTN masing-masing tumbuh 41,6 yoy dan 55,3 yoy per Juni 2026.

Seiring pertumbuhan bisnis, kualitas aset BTN juga terus membaik. Selain NPL yang menurun, perseroan berhasil menekan Loan at Risk (LAR) menjadi 18,6 pada semester I-2026 dari 20,2 pada periode yang sama tahun lalu.

Per semester I-2026, perseroan juga menurunkan Cost of Credit (CoC) menjadi 0,7 dari 2,0 pada semester I-2025. Perbaikan kualitas aset tersebut mencerminkan keberhasilan BTN dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, memperkuat manajemen risiko, serta meningkatkan kualitas portofolio pembiayaan.

"Transformasi yang kami jalankan bukan hanya bertujuan memperbesar bisnis, tetapi membangun fondasi pertumbuhan yang sehat, efisien, dan berkelanjutan. Dengan kualitas aset yang semakin baik, struktur pendanaan yang semakin kuat, serta ekosistem digital yang terus berkembang, BTN optimistis mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," kata Nixon.

Sebagai bagian dari strategi beyond mortgage sekaligus memperkuat pertumbuhan anorganik, BTN telah menyelesaikan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan nilai transaksi sekitar Rp12,6 triliun.

Nixon menjelaskan akuisisi tersebut memperkuat komposisi portofolio kredit nonperumahan BTN sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan profil imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang tetap terjaga. Seluruh portofolio yang diakuisisi merupakan kredit berkualitas (performing loan), sehingga mendukung perbaikan kualitas aset perseroan dan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas.

"Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang," ujar Nixon.

BTN juga akan melanjutkan akuisisi tahap kedua pada kuartal III-2026 senilai sekitar Rp7,34 triliun. Dengan demikian, secara keseluruhan perseroan akan mengelola sekitar 344.600 rekening kredit pensiun.

Nixon menjelaskan melalui strategi pertumbuhan anorganik tersebut, BTN menargetkan porsi kredit nonperumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30 dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan sehingga struktur bisnis perseroan menjadi semakin seimbang, resilien, dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

BTN Bidik Portofolio Kredit Konsumer Baru

BTN juga tengah menjajaki rencana mengakuisisi portofolio kredit konsumer milik bank lain. Langkah anorganik ini ditempuh untuk mempercepat pertumbuhan bisnis perseroan pada masa mendatang.

Nixon mengungkapkan rencana tersebut masih berada pada tahap penjajakan awal.

"Kita ada bicara dengan bank lain, tapi belum ada arah transaksi. Jadi baru ngobrol-ngobrol," kata Nixon.

Ia menjelaskan segmen yang menjadi target perseroan adalah portofolio kredit konsumer.

Apabila proses negosiasi berjalan sesuai harapan, BTN memproyeksikan transaksi tersebut dapat direalisasikan pada tahun depan.

Sementara itu, BTN siap melanjutkan aksi korporasi take over portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk pada tahap kedua.

Nilai transaksi tahap kedua diperkirakan mencapai sekitar Rp7,3 triliun dan dijadwalkan rampung pada bulan depan.

Penyelesaian transaksi tersebut diperkirakan akan menambah sekitar 344.600 nasabah baru bagi BTN, sekaligus memberikan tingkat imbal hasil (yield) yang menarik bagi perseroan.

Selain meningkatkan profitabilitas, Nixon menilai bertambahnya ratusan ribu nasabah baru tersebut juga membuka peluang besar bagi optimalisasi strategi cross-selling.

BTN membidik pemasaran berbagai produk ritel, mulai dari Bale by BTN, layanan payroll, hingga produk perbankan transaksional lainnya.

"Kami meyakini bahwa kombinasi pertumbuhan organik dan anorganik ini akan memacu dan mendorong pertumbuhan kami jauh lebih baik ke depannya," pungkas Nixon.

Topik Menarik