Benarkah Pola Makan Jadi Pengaruh Munculnya Jerawat?
JAKARTA - Bagi banyak orang mengingat masa-masa berjerawat saat remaja itu rasanya mengganggu. Tapi, penting untuk memahami kenapa jerawat bisa muncul sejak awal. Jerawat diyakini muncul karena kombinasi beberapa hal: produksi minyak berlebih di kulit, pori-pori tersumbat, bakteri, dan peradangan.
Dikutip dari Harvard Health Publishing, perubahan hormon (yang terjadi saat masa pubertas atau karena kondisi seperti sindrom ovarium polikistik) serta siklus menstruasi punya dampak besar pada jerawat karena memengaruhi produksi minyak.
Beberapa obat juga bisa menyebabkan jerawat, dan produk rambut, riasan, serta produk lain yang dioleskan ke kulit bisa ikut menyumbat pori-pori. Faktor genetik, polusi, kebiasaan merokok, dan stres juga sering disebut sebagai penyebab atau pemicunya.
Nah, dari situlah muncul kemungkinan bahwa pola makan itu juga berpengaruh. Makanan tertentu bisa memicu peradangan di seluruh tubuh, dan ini mungkin memicu timbulnya jerawat.
Selain itu, pola makan bisa memengaruhi hormon yang ujung-ujungnya memperparah jerawat. Contohnya, susu dan makanan tinggi gula bisa menyebabkan lonjakan kadar insulin, yang akan mengubah hormon lain dan berdampak pada kulit.
Beberapa riset bahkan sudah mengaitkan susu dan protein whey dengan jerawat.Meskipun ada berbagai kemungkinan ini, belum ada kesepakatan medis yang pasti bahwa sekadar mengubah pola makan adalah cara yang ampuh untuk mengatasi jerawat.
Sebuah studi baru di jurnal medis JAMA Dermatology membandingkan hasil survei pola makan harian dari 24.000 lebih orang dewasa (rata-rata usia 57 tahun). Peneliti menemukan adanya kaitan antara peluang memiliki jerawat saat ini dengan konsumsi:
- Makanan tinggi lemak (termasuk susu dan daging)
- Makanan dan minuman manis
- Pola makan yang menggabungkan asupan tinggi lemak dan tinggi gula.
Dibandingkan dengan mereka yang tak pernah berjerawat, orang yang saat ini sedang berjerawat ternyata 54 persen lebih mungkin mengonsumsi jenis pola makan seperti di atas.
Misalnya, jika dibandingkan dengan kelompok tanpa riwayat jerawat, mereka yang sedang berjerawat 76 persen lebih mungkin mengaku minum setidaknya lima gelas susu pada hari sebelumnya. Mereka juga dua kali lipat lebih mungkin minum setidaknya lima porsi minuman manis, dan delapan kali lebih mungkin menyantap hidangan yang berlemak sekaligus manis pada hari sebelumnya.
Sementara itu, makanan cepat saji (fast food) dan camilan lebih dikaitkan dengan riwayat jerawat di masa lalu, bukan saat ini. Lalu, bagaimana dengan cokelat? Ternyata, baik cokelat hitam maupun cokelat susu tidak terbukti berhubungan dengan jerawat, baik di masa lalu ataupun saat ini.
Seiring berkembangnya pemahaman medis tentang jerawat, nantinya mungkin akan punya panduan yang lebih jelas tentang pola makan terbaik untuk mencegah atau mengobatinya. Untuk saat ini, entah kamu seorang remaja atau orang dewasa, sepertinya tidak ada satu jenis diet pun yang bisa menjamin kulitmu akan mulus total.
Jadi, nikmati saja makanan favoritmu secukupnya. Kalau kamu menyadari ada makanan tertentu yang selalu membuat kulitmu memburuk, kamu sendiri yang harus menimbang-nimbang, apakah makanan tersebut sepadan dengan risiko jerawatnya?










