Rupiah Tembus Rp18.100 Pagi Ini dan IHSG Terancam Anjlok ke Level Kritis
JAKARTA - Pasar keuangan domestik langsung disambut sentimen negatif pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (8/6/2026). Nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau langsung terkapar, tertekan hebat hingga menembus level psikologis baru di atas Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) dan mencetak rekor terendah dalam sejarah.
Tepat pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda dibuka merosot ke level Rp18.107 per dolar AS, atau melemah 0,39 persen dibandingkan posisi penutupan pada Jumat (5/6/2026) yang berada di level Rp18.036 per dolar AS. Tekanan belum mereda, di mana hanya satu menit berselang (pukul 09.01 WIB), rupiah sempat menyentuh posisi Rp18.117 per dolar AS.
Laju depresiasi rupiah terus menggelinding seiring berjalannya jam perdagangan. Hingga pukul 09.55 WIB, rupiah tercatat makin tak bertenaga dengan pelemahan menembus 0,60 persen, merosot ke level Rp18.145 per dolar AS.
Melihat akselerasi kejatuhan yang masif di awal pekan ini, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memberikan proyeksi yang kian mengkhawatirkan. Ia menilai keperkasaan dolar AS di pasar spot global berpotensi menyeret nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona paling kritis hingga penutupan Juni ini.
"Ada kemungkinan besar rupiah kalau saya lihat dari kondisi saat ini level Rp19.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
"Kemudian untuk indeks harga saham gabungan, kemungkinan besar ini akan menuju level terkritis, itu di Rp4.000 sampai akhir bulan Juni ini," tambahnya.
Ibrahim memaparkan bahwa kejatuhan kembar (twin drops) yang dialami oleh rupiah dan indeks bursa saham nasional saat ini digerakkan oleh faktor eksternal makro, yang diawali dari meletusnya konflik geopolitik skala besar di Timur Tengah serta sikap agresif kebijakan moneter bank sentral AS.
Penyerangan militer secara langsung oleh Amerika Serikat ke wilayah teritorial Iran di jalur logistik vital dunia telah memicu aksi balasan yang menyeret stabilitas ekonomi negara-negara sekutu.
"Apa yang membuat Rupiah kemudian indeks harga saham gabungan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini diawali dari masalah geopolitik, kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika secara global, yaitu tentang memanasi situasi di Timur Tengah di mana Amerika melakukan penyerangan terhadap wilayah Iran di Selat Hormuz, kemudian Iran melakukan penyerangan terhadap sekutu-sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama adalah di Kuwait dan Uni Emirat Arab yang membuat ketegangan terjadi kembali. Ini yang akan membuat peperangan di Timur Tengah, terutama adalah di Senat Hormuz akan semakin memanas," pungkas Ibrahim.










