IHSG Pekan Ini Masih Dibayangi Tekanan Berat, Ini Rekomendasi Sahamnya

IHSG Pekan Ini Masih Dibayangi Tekanan Berat, Ini Rekomendasi Sahamnya

Ekonomi | okezone | Senin, 8 Juni 2026 - 08:49
share

JAKARTA - Pasar saham domestik diproyeksikan masih menghadapi jalan terjal pada pekan perdagangan 8-12 Juni 2026. Setelah turun dan mencatatkan koreksi tajam sebesar -8,69 persen pada pekan sebelumnya (2-5 Juni), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih minim sentimen pendorong dan dibayangi oleh tren penurunan (bearish) yang cukup kuat.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menjelaskan bahwa kejatuhan indeks pada pekan lalu merupakan akumulasi dari tiga faktor berat yakni rebalancing indeks FTSE yang memicu aksi jual paksa (forced selling) saham-saham big caps (DSSA, GOTO, NCKL), lonjakan inflasi Mei sebesar 3,08 persen year-on-year (yoy), serta ambruknya nilai tukar rupiah ke atas Rp18.000 per dolar AS yang memicu larinya modal asing (net foreign sell) hingga Rp7,4 triliun di pasar reguler.

"Kombinasi ketiga faktor tersebut membentuk tekanan yang sulit diimbangi oleh aliran dana domestik, menjadikan pekan ini sebagai salah satu yang paling berat bagi IHSG dalam beberapa bulan terakhir," kata Hari dalam risetnya, Senin (8/6/2026).

Memasuki periode 8-12 Juni 2026, Hari memprediksi pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada rilis sejumlah data ekonomi makro dalam negeri yang berfungsi sebagai indikator daya beli dan ketahanan eksternal.

Pada Senin (8/6) ada rilis data Cadangan Devisa Mei 2026. Jika angka ini melemah, pasar dikhawatirkan makin cemas terhadap kapasitas Bank Indonesia dalam membentengi rupiah.

Rabu (10/6) ada rilis data Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence) Mei 2026 dan Kamis (11/6) adar rilis data Penjualan Eceran (Retail Sales) April 2026.

 

Selain indikator ekonomi makro, efek lanjutan dari penyesuaian indeks FTSE Russell yang baru akan berlaku efektif pada 22 Juni 2026 dinilai masih akan meninggalkan beban tekanan jual (overhang) pada saham-saham terkait.

"Secara fundamental, IHSG masih berada dalam tekanan yang cukup berat memasuki pekan 8–12 Juni 2026, dimana kombinasi inflasi Mei yang melampaui ekspektasi (3,08 persen yoy), Rupiah yang telah menembus Rp18.000, dan total net foreign sell year to date yang telah mencapai Rp60.8 triliun mencerminkan erosi kepercayaan investor yang sistemik," jelas Hari.

Tekanan bagi pasar modal domestik pekan ini juga diperberat oleh kondisi eksternal. Bursa saham Wall Street terpukul hebat pada akhir pekan lalu, dipimpin oleh kejatuhan indeks Nasdaq sebesar -4,18 persen ke level 25.709 akibat aksi ambil untung massal di sektor semikonduktor.

Kondisi global kian menantang setelah rilis data ketenagakerjaan AS (NFP) Mei melonjak drastis ke angka 172.000 (jauh di atas konsensus 80.000). Hal ini mengerek imbal hasil obligasi AS (yield UST 10-tahun) ke atas 4,5 persen dan memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher-for-longer).

"Sentimen semakin tertekan oleh rilis NFP Mei yang jauh melampaui ekspektasi (172.000 vs. konsensus 80.000), mendorong yield UST 10-tahun menembus 4,5 persen dan probabilitas kenaikan Fed Funds Rate akhir tahun melonjak ke 72,7 persen, menjadikannya angin kepala bagi growth stocks," ungkap Hari.

Di samping itu, likuiditas global diyakini akan tersedot secara masif menjelang pencatatan perdana (listing) SpaceX di bursa Nasdaq pada 12 Juni mendatang, dengan target penggalangan dana fantastis senilai USD75 miliar.

"Puncaknya, SpaceX dijadwalkan melakukan pricing pada 11 Juni dan mulai diperdagangkan pada 12 Juni sebuah event yang berpotensi menjadi liquidity event terbesar dalam sejarah dan dapat memperparah volatilitas jangka pendek, terutama jika data CPI kembali mengejutkan di atas ekspektasi dan memperkuat narasi higher-for-longer The Fed," ujar Hari.

Melihat struktur tren teknikal yang belum memperlihatkan tanda-tanda pembalikan arah (reversal) yang sah, IPOT menyarankan para pelaku pasar untuk menerapkan strategi bertahan (defense first) dan tidak bersikap agresif dalam melakukan pembelian berulang saat harga turun (averaging down).

Investor disarankan membatasi porsi pada saham-saham lapis kedua dan ketiga (small-medium caps) yang memiliki likuiditas tipis, serta menunggu sinyal dasar harga (bottoming) yang solid dari pergerakan harga saham dan stabilisasi kurs rupiah. Namun, momentum koreksi dalam ini bisa dicermati oleh investor jangka menengah secara disiplin dan bertahap.

"Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, namun tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI," pungkas Hari.

Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
1. Buy TINS (Current Price: 3,150, Entry: 3,150, Target Price: 3,340 (6.03), Stop Loss: 3,050 (-3.17) dan Risk to Reward Ratio 1:1.9).  2. Buy CUAN (Current Price: 675, Entry: 675, Target Price: 715 (5.93), Stop Loss: 655: -2.96, Risk to Reward Ratio 1:2.0).
3. Buy KETR (Current Price: 560, Entry: 560, Target Price: 600 (7.14), Stop Loss: 540 (-3.57) dan Risk to Reward Ratio 1:2.0).
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).

Topik Menarik