Harga Minyak Turun 2 Hari Beruntun, Simak Proyeksi Level Selanjutnya
IDXChannel - Harga minyak dunia kembali melemah pada akhir pekan lalu seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah dan menguatnya dolar AS setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) melampaui ekspektasi.
Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), minyak mentah Brent ditutup turun 2,04 persen ke level USD93,09 per barel, setelah sebelumnya juga terkoreksi 2,84 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 2,69 persen ke USD90,54 per barel, memperpanjang penurunan setelah anjlok 3,1 persen sehari sebelumnya.
Analis FXEmpire Vladimir Zernov menilai tekanan terhadap harga minyak berasal dari kombinasi penguatan dolar AS dan meningkatnya keyakinan pasar bahwa AS dan Iran pada akhirnya akan mencapai kesepakatan yang dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global.
Dolar AS menguat setelah laporan Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS menambah 172.000 lapangan kerja pada Mei, jauh di atas perkiraan analis sebanyak 85.000.
Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Penguatan dolar cenderung membebani harga minyak karena membuat komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Di sisi geopolitik, pasar masih mencermati negosiasi antara AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan kedua negara telah memasuki tahap akhir, meskipun belum ada rincian lebih lanjut. Iran juga mengakui proses negosiasi masih berlangsung, tetapi belum menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Meski konflik antara Israel dan Hizbullah masih berlanjut, intensitas pertempuran dilaporkan mulai berkurang. Kondisi ini membuat pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah tidak sebesar yang sebelumnya dikhawatirkan.
Secara teknikal, FXEmpire memperkirakan WTI tengah berupaya menembus area support USD91,00-USD91,50 per barel.
Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus secara meyakinkan, harga WTI berpotensi turun menuju support berikutnya di kisaran USD85,00-USD85,50 per barel.
Sebaliknya, untuk kembali membangun momentum kenaikan yang berkelanjutan, WTI perlu menembus area resistance USD97,00-USD97,50 per barel.
Sementara itu, Brent saat ini menghadapi support terdekat di area USD91,00-USD91,50 per barel.
Jika level tersebut gagal bertahan, harga Brent berpotensi melanjutkan koreksi menuju kisaran USD86,00-USD86,50 per barel, yang merupakan area terendah sejak April lalu. (Aldo Fernando)










