Iran Serang Pangkalan AS, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memanas

Iran Serang Pangkalan AS, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memanas

Terkini | okezone | Kamis, 28 Mei 2026 - 22:05
share

JAKARTA - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat (AS), di kawasan Timur Tengah setelah serangan terbaru Washington ke wilayah Iran selatan.

IRGC tidak menyebut secara rinci lokasi pangkalan yang menjadi sasaran. Namun, Kuwait yang diketahui menjadi lokasi pangkalan militer AS mengaku berhasil mencegat ancaman rudal dan drone dari Iran.

Militer AS menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait, tetapi seluruh serangan berhasil dicegat pasukan Kuwait. Washington tidak menjelaskan apakah rudal tersebut memang diarahkan ke pangkalan militer AS.

Serangan terbaru itu terjadi setelah AS menembak jatuh drone Iran di Selat Hormuz dan menggempur fasilitas militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis di Iran selatan.

Situasi ini memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran.

IRGC menyatakan, serangan terhadap pangkalan udara AS dilakukan pada Kamis dini hari sebagai balasan atas operasi militer Amerika sebelumnya. Menurut televisi pemerintah Iran, IRIB, pangkalan tersebut disebut sebagai sumber serangan AS terhadap Iran.

Komando Pusat AS (Centcom) menyebut serangan Iran sebagai “pelanggaran gencatan senjata yang sangat serius”. AS juga mengungkap bahwa Iran sempat meluncurkan lima drone bunuh diri di sekitar Selat Hormuz.

“Semua drone berhasil dicegat. Satu drone lain yang diluncurkan dari Bandar Abbas juga berhasil dihentikan,” tulis Centcom, dilansir dari bbc, Kamis (28/5/2026).

 

AS menegaskan, tindakan militernya dilakukan secara defensif untuk melindungi pasukan mereka dan menjaga stabilitas kawasan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, mengecam serangan AS dan menyebut tindakan Washington sebagai pelanggaran gencatan senjata.

“Iran akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan nasional,” ujar Baqai seperti dikutip IRIB.

Kementerian Luar Negeri Kuwait juga mengutuk keras serangan Iran yang dinilai mengancam wilayah negaranya.

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur pelayaran itu dilalui sekitar seperlima pasokan minyak bumi dan gas alam cair global. Konflik yang berkepanjangan telah mengganggu distribusi energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak.

Awal pekan ini, AS mengakui telah melakukan serangan “pertahanan diri” terhadap situs rudal Iran serta kapal yang diduga hendak memasang ranjau di Selat Hormuz.

Selain operasi militer, Washington juga menjatuhkan sanksi terhadap Otoritas Selat Teluk Persia, lembaga Iran yang mengatur pembayaran kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

 

Departemen Keuangan AS memperingatkan bahwa kapal yang melakukan pembayaran kepada otoritas tersebut berisiko terkena sanksi.

Di tengah situasi yang memanas, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington masih belum puas dengan hasil negosiasi bersama Iran.

“Mungkin kita harus kembali dan menyelesaikannya, mungkin juga tidak,” kata Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih.

Trump juga menegaskan AS siap kembali melancarkan serangan besar jika Iran tidak menyetujui kesepakatan yang diinginkan Washington.

Sebelumnya, televisi pemerintah Iran sempat menayangkan rincian draft kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penarikan pasukan AS dari kawasan Timur Tengah. Namun, Gedung Putih membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “kebohongan belaka”.

Meski kedua negara sempat memberi sinyal positif terkait proses negosiasi pada akhir pekan lalu, hingga kini belum ada kesepakatan final yang tercapai.
 

Topik Menarik