Friderica Widyasari Minta 26,8 Juta Investor Tak Panik Hadapi Rebalancing MSCI
JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi meminta investor tidak perlu panik menyikapi pengumuman rebalancing saham dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Menurutnya, kekuatan utama pasar modal Indonesia saat ini ditopang oleh investor domestik yang jumlahnya terus bertumbuh. Hingga data terbaru, jumlah single investor identification (SID) tercatat mencapai 26,8 juta, atau bertambah sekitar 6,4 juta pada akhir 2025.
“Jadi apa yang kita khawatirkan dengan jumlah investor domestik yang semakin besar. Harapan kita, bisa lebih banyak partisipasi investor domestik untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia, supaya ketika terjadi dinamika di luar Indonesia, fundamental kita tetap baik,” ujarnya di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, investor domestik, baik institusi maupun perorangan, akan menjadi penopang pasar modal Indonesia di tengah gejolak ketidakpastian global. Oleh sebab itu, OJK terus mendorong peningkatan jumlah investor domestik agar pasar modal memiliki daya tahan yang kokoh dalam menghadapi dinamika yang terjadi.
“Ini harapan kita saat ini, bagaimana investor domestik Indonesia itu, baik institusi maupun ritel, bisa menjadi penopang pasar modal kita. Selama kita yakin fundamental kita baik, kita harus percaya diri terhadap pasar modal Indonesia,” kata Friderica.
Ia mengakui bahwa sejumlah agenda transformasi integritas pasar modal memang akan berdampak pada koreksi sejumlah harga saham. Sebab, penyedia indeks global seperti MSCI akan melakukan rebalancing yang merujuk pada transparansi data yang disediakan oleh Bursa Efek Indonesia, OJK, dan SRO.
Namun demikian, Friderica menilai hal tersebut bersifat sementara. Kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia dinilai akan meningkat seiring dengan agenda transformasi integritas pasar modal, termasuk upaya memperkuat transparansi kepemilikan saham perusahaan.
“Reformasi integritas yang kita lakukan pasti ada dampaknya. Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain, tapi insyaallah long term gain,” tambahnya.
Oleh sebab itu, Friderica berharap pelaku pasar tidak membangun sentimen berlebihan terkait pengumuman MSCI yang dijadwalkan pada Selasa (12/5/2026) waktu Indonesia. MSCI disebut tengah melakukan penyesuaian terhadap saham Indonesia dalam indeksnya, termasuk potensi penghapusan sejumlah saham yang sebelumnya masuk daftar.
“Jadi jangan dibuat panik. Ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan. Kita terus melakukan perbaikan secara fundamental, kita terus tingkatkan delapan agenda reformasi pasar modal,” pungkas Friderica.









