Daftar 10 Negara dengan Skor IQ Terendah di Dunia 2026
JAKARTA – International IQ Test merilis daftar 137 negara berdasarkan rata-rata skor IQ pada tahun 2026. Data ini dikumpulkan dari lebih dari 16 juta peserta dan dihitung menggunakan metode psikometri standar.
Secara umum, negara dengan layanan kesehatan yang baik, gizi cukup, serta akses pendidikan berkualitas cenderung memiliki skor IQ rata-rata lebih tinggi. Lingkungan yang mendukung perkembangan otak juga sangat berpengaruh terhadap hasil tes penalaran.
Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan skor IQ dari waktu ke waktu, yang dikenal sebagai efek Flynn. Studi tahun 2014 mencatat kenaikan sekitar 2,31 poin IQ setiap 10 tahun. Meski begitu, tes IQ tetap disesuaikan agar nilai rata-rata global berada di angka 100.
10 Negara dengan Skor IQ Terendah
Sinopsis Cinta Sepenuh Jiwa Eps 13: Eliza Ingin Rebut Hak Asuh Syifa Suryono Punya Niat Terselubung
Berikut daftar 10 negara dengan rata-rata skor IQ terendah berdasarkan pemeringkatan International IQ Test:
- Tanzania – IQ 89,57 (peringkat 128)
- Afghanistan – IQ 89,31 (peringkat 129)
- Republik Demokratik Kongo – IQ 88,62 (peringkat 130)
- Uganda – IQ 88,49 (peringkat 131)
- Gabon – IQ 88,35 (peringkat 132)
- Angola – IQ 87,89 (peringkat 133)
- Nikaragua – IQ 87,75 (peringkat 134)
- Rwanda – IQ 86,92 (peringkat 135)
- Timor Leste – IQ 86,71 (peringkat 136)
- Somalia – IQ 83,84 (peringkat 137)
Mengapa Skor IQ Berbeda Antarnegara?
Perbedaan skor IQ antarnegara tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Beberapa hal yang sering disebut peneliti antara lain:
- Kesehatan dan penyakit
Negara dengan tingkat penyakit menular yang tinggi cenderung memiliki skor tes kognitif lebih rendah karena berdampak pada tumbuh kembang dan pendidikan anak.
- Gizi dan ketahanan pangan
Anak dengan asupan gizi yang baik umumnya menunjukkan kemampuan kognitif lebih tinggi. Negara dengan masalah kekurangan pangan sering kali memiliki skor rata-rata lebih rendah.
- Pendidikan dan stimulasi otak
Aktivitas seperti bermain catur, membaca, dan penggunaan lebih dari satu bahasa dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir dan penalaran.
- Faktor genetika
Penelitian menunjukkan bahwa faktor keturunan berperan dalam perbedaan IQ di dalam satu populasi. Namun, hal ini tidak bisa digunakan untuk menjelaskan perbedaan antarnegara secara langsung.










