BEI Ungkap Strategi Redam Gejolak Pasar Usai Pengumuman MSCI

BEI Ungkap Strategi Redam Gejolak Pasar Usai Pengumuman MSCI

Ekonomi | okezone | Rabu, 28 Januari 2026 - 20:55
share

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memaparkan sejumlah strategi untuk meredam gejolak pasar yang terjadi pasca pengumuman pembekuan sementara rebalancing saham oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Berdasarkan data dari BEI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (28/1/2026) ditutup melemah 7,35 persen atau turun 659,673 poin ke level 8.320,55, imbas adanya sentimen tersebut.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman mengatakan, untuk membenahi gejolak pasar tersebut pihaknya bakal mencoba mengikuti masukan dari MSCI yang menyoal transparansi data kepemilikan saham di Indonesia. Kondisi yang terjadi pada hari ini saat pengumuman MSCI, lantaran data yang sebelumnya disampaikan belum sesuai dengan yang dibutuhkan lembaga indeks global tersebut.

“Nah ini tadi hasil kami diskusi juga kita sedang mempersiapkan, kita sedang melihat bagaimana kita bisa memenuhi apa yang di require (kebutuhan), apa yang dibutuhkan oleh MSCI. Sehingga tadi kita tidak harapkan bahwa investor-investor kita yang ada sekarang panik,” ujar Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Iman mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan data free float sebagaimana yang diminta oleh MSCI. Namun demikian, permintaan data tersebut akan diberikan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

Ia menyebut, misalnya permintaan data terkait kepemilikan saham pada perorangan pada suatu perusahaan meski bukan pengendali, tentu sulit dipenuhi karena berbenturan dengan aturan kerahasiaan data pribadi. Hal tersebut yang masih perlu dikomunikasikan kepada MSCI.

 

"Saya tanya, di Indonesia boleh tidak kita sebutin satu-satu nama investor, ditangkap gue. Karena kerahasiaan data pribadi. Jadi saya mesti jelasin ke MSCI, kalau minta itu, kita tidak bisa," kata Iman.

"Tujuan kami di Bursa mensupport sesuai dengan kemampuan kita, saya tanya, bagi bursa apakah dia mau lakukan sekarang dengan turun frontier, itu kan bukan concern bursa. Tapi kita bantu mereka, agar tidak terjadi karena ada infant flow atau asing yang masuk," tambahnya.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menambahkan, pihaknya akan memperbaharui aturan terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Hal ini menyusul permintaan data yang mendetail dari indeks global MSCI. Sehingga akan ada beberapa penyesuaian terkait kelompok pemegang saham.

Adapun saat ini Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan BEI menyajikan 9 jenis data investor. Seperti pemegang saham dari korporasi (perusahaan terbatas) (CP), foundation (FD), institusi keuangan (IB), individual (ID), asuransi (IS), reksa dana (MF), lainnya (OT), dana pensiun (PF), dan perusahaan sekuritas (SC).

Selanjutnya dari kepemilikan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu asing dan domestik, serta pengelompokan pemilik di bawah 5 persen dan di atas 5 persen.

"Ini teman-temen KSEI sedang merumuskan, nanti akan kita tambah lagi beberapa jenis investor di bawahnya. Tapi 9 itu tetap fix, tapi akan ada tambahan. Terutama untuk institutional client, ini kan macam-macam, ada asset management, ada private equity, venture capital SWF, itu yang nanti akan kita detailkan," tambahnya.

Ia menargetkan, penyesuaian klasifikasi jenis investor ini dapat rampung sebelum bulan Mei mendatang. Sehingga pada bulan Juni tidak ada sentimen pasar yang berpengaruh dalam terhadap pergerakan indeks pasca rilis MSCI, seperti yang terjadi hari ini.

"Jadi poin yang paling penting adalah, data yang disajikan oleh kita di Indonesia, baik dari perusahaan tercatat maupun KSEI, insyaallah data yang benar dan akurat. Cuman sekarang mungkin karena kebutuhan data (MSCI) ini belum match (sesuai keinginan)," pungkasnya.

Topik Menarik