Harga CPO Naik Lagi, Bertahan di Level Tertinggi Dua Bulan
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat pada Rabu (28/1/2026), didukung oleh kenaikan harga minyak kedelai di Chicago serta kontrak palm olein dan minyak kedelai di Dalian.
Namun, penguatan nilai tukar ringgit membatasi ruang kenaikan lebih lanjut. Penguatan ini memperpanjang tren naik ke hari ketiga berturut-turut, dengan harga masih bertahan di dekat level tertinggi dua bulan.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman April di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,14 persen menjadi 4.264 ringgit Malaysia per ton pada pukul 16.14 WIB.
“Kontrak berjangka melanjutkan tren naik secara umum, ditopang sentimen bullish dari minyak kedelai Chicago, palm olein dan minyak kedelai Dalian, serta momentum kenaikan harga energi,” ujar Kepala Riset Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, dikutip Reuters.
Ia menambahkan, produksi yang lebih lemah dan ekspor yang masih sehat pada Januari turut menopang harga minyak sawit dan menjaga momentum bullish tetap terjaga. Namun, penguatan ringgit menahan laju kenaikan harga.
Di sisi lain, permintaan diperkirakan membaik menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan bulan Ramadan pada Februari. Pelaku pasar juga memperkirakan penurunan tajam produksi Januari akibat faktor musiman.
Di Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif naik 1,29 persen, sementara kontrak minyak sawit menguat 1,31 persen.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade tercatat naik 0,81 persen. Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Harga minyak mentah juga kembali menguat pada Rabu, seiring berlanjutnya kekhawatiran pasokan setelah badai musim dingin mengganggu produksi dan ekspor minyak mentah Amerika Serikat (AS), serta ketegangan di Timur Tengah yang memberi dukungan tambahan.
Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Sementara itu, surveyor kargo Intertek Testing Services mencatat ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1–25 Januari meningkat 9,97 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia memperkirakan kenaikan sebesar 7,97 persen.
Meski demikian, penguatan ringgit, yang cenderung menekan daya saing ekspor, serta sikap hati-hati menjelang rilis data PMI China Januari, mengingat perannya sebagai pembeli utama, membatasi potensi kenaikan lebih lanjut.
Investor juga mencermati keputusan suku bunga pertama Federal Reserve (The Fed) tahun ini. (Aldo Fernando)








