Bos BGN Sebut Program MBG Telah Jangkau 55,1 Juta Penerima Manfaat
JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berkembang sejak pertama kali dijalankan pada awal 2025. Kepala BGN, Dadan Hindayana mengungkap jumlah penerima manfaat MBG setiap harinya bertambah.
Dadan menyampaikan, hingga awal 2026 jumlah penerima manfaat MBG telah menjangkau 55,1 penerima manfaat. Program ini dinilai menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya balita dan anak sekolah.
"Program Makan Bergizi Gratis telah memberikan manfaat langsung kepada sekitar 55,1 juta penerima manfaat. Ini merupakan langkah strategis untuk mendukung tumbuh kembang balita dan anak sekolah dalam rangka mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045," ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (8/1/2026).
Dadan menjelaskan, pelaksanaan MBG didukung oleh keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mulai dibentuk sejak 6 Januari 2025.
Pada tahap awal, jumlah SPPG tercatat sebanyak 190 unit. Namun, hingga awal Januari 2026, jumlah tersebut melonjak signifikan menjadi 19.188 SPPG yang telah beroperasi di 38 provinsi.
Selain meningkatkan status gizi masyarakat, program MBG juga memberikan dampak ekonomi yang luas.
Sepanjang 2025, lebih dari 780 ribu tenaga kerja terserap dan aktif dalam operasional dapur-dapur SPPG yang tersebar di berbagai daerah.
Dadan menyebut, BGN juga mendorong penguatan ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Tercatat, lebih dari 46 ribu UMKM telah berpartisipasi sebagai pemasok bahan baku dapur SPPG, sehingga membantu membangun rantai pasok pangan yang berkelanjutan di tingkat daerah.
Di samping itu, dalam kondisi darurat, dapur SPPG turut berperan sebagai bagian dari sistem tanggap bencana.
Sepanjang 2025, sebanyak 341 dapur SPPG bertransformasi menjadi dapur darurat.
"Sebanyak 341 dapur SPPG yang dialihkan menjadi dapur darurat memastikan ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat terdampak. Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa Badan Gizi Nasional tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi tetapi juga tanggap dalam situasi darurat dan menjaga ketahanan masyarakat di saat krisis," tutupnya.









