Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.740 per Dolar AS
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup turun 15 poin atau sekitar 0,09 persen ke level Rp16.740 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (5/1/2026).
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu Pejabat AS mengkonfirmasi bahwa Maduro telah ditahan selama penggerebekan akhir pekan di Caracas dan diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan kriminal yang telah lama ada.
“Operasi tersebut menandai intervensi AS paling langsung di Venezuela dalam beberapa dekade dan memicu kecaman dari beberapa negara, sementara investor menilai implikasinya terhadap pasar energi dan stabilitas regional,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Presiden Donald Trump mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penangkapan Maduro adalah "langkah menentukan" terhadap apa yang ia gambarkan sebagai rezim kriminal, menambahkan bahwa AS akan memastikan "transisi yang aman dan tertib" di Venezuela.
Kemudian, Trump mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara lain yang bertentangan dengan kebijakan AS, termasuk Kolombia dan Iran. Ia juga mengulangi seruannya untuk pengambilalihan Greenland oleh AS.
Aksi militer, ditambah dengan komentar Trump, meningkatkan ketidakpastian atas geopolitik global. Para analis juga memperingatkan bahwa tindakan Washington dapat menjadi preseden bagi negara-negara adidaya global lainnya, khususnya Tiongkok dan Rusia.
Selain itu, rencana Beijing untuk langkah-langkah stimulus tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan pengeluaran konsumen. Pemerintah mengumumkan program senilai 62,5 miliar yuan (USD8,94 miliar) untuk memperpanjang subsidi barang elektronik konsumen dan barang lainnya pada akhir Desember.
Dari sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus USD2,66 miliar per November 2025. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang bulan sebelumnya atau Oktober 2025 senilai USD2,39 miliar.
Indonesia mencatatkan ekspor November 2025 mencapai USD22,52 miliar atau turun 6,6 persen dibandingkan November 2024 (year on year/YoY). Penurunan ekspor disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas yaitu pada bahan bakar mineral, lemak nabati, hingga besi/baja.
Adapun, nilai impor November 2025 mencapai USD19,86 miliar atau turun 0,46 persen dibandingkan November 2024 (year on year/yoy). Neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar USD2,66 miliar.
Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 67 bulan berturut turut sejak Mei 2020.
Surplus Dagang RI 2026 Terancam Menyempit Surplus pada November 2025 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar USD4,64 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sebelumnya, konsensus ekonom memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan berlanjut pada November 2025 atau 67 bulan secara beruntun. Surplus diproyeksikan akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.740 - Rp16.770 per dolar AS.










