Gelora Bakal Bentuk Desk Pemenangan Pemilu, Ajak Publik Tolak Ambang Batas Parlemen 5 Jadi Salah Satu Tugasnya
Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia bakal membentuk Desk Pemenangan Pemilu. Desk tersebut untuk melengkapi dua desk sebelumnya yang telah dibentuk menjelang Pemilu 2029, yakni Desk Verpol dan Desk Rekrutmen Anggota.
Adapun salah satu tugas Desk Pemenangan Pemilu ini adalah membawa masalah wacana parliamentary threshold atau ambang batas parlemen 5 persen menjadi perdebatan publik. “Menurut saya, ini akan menjadi perdebatan besar soal threshold di parlemen. Negonya antara 3 sampai 5 persen, tapi mereka mau mengangkat sampai 5 persen,” kata Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta saat memberikan arahan dalam penutupan Rakornas Desk Verpol di Jakarta, Minggu (4/10/2026).
Baca juga: Malam Ini, MK Bacakan Putusan Gugatan Syarat Pendidikan Gibran
Dia menuturkan, jika ada tekanan publik yang kuat soal ambang batas parlemen ini, maka wacana ambang batas parlemen 5 persen bisa diturunkan secara signifikan. “Kalau ada tekanan yang kuat orang bisa turun sampai 3 persen, bahkan bisa 0 persen. Karena itu kita akan segera membentuk Desk Pemenangan Pemilu. Salah satu tugasnya nanti mulai masuk dalam perdebatan public soal threshold ini,” kata Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) ini.
Baca juga: Fahri Hamzah Kritisi Wacana Ambang Batas Parlemen 5: Bukan untuk Kepentingan Rakyat
Dia menjelaskan, Desk Pemenangan Pemilu akan mengkaji dan membahas berbagai macam regulasi ambang batas parlemen baik pada Pemilu 2024, maupun pemilu-pemilu sebelumnya. “Kemarin lewat Pak Fahri (Fahri Hamzah, Wakil Ketua Umum) kita menyampaikan usulan threshold 0 persen atau 20 persen sekalian. Kalau mau menyederhanakan partai ya 20 persen sekalian, tapi kalau mau meningkatkan partisipasi ya 0 persen,” ujar Anis Matta.
Lebih lanjut dia mengatakan, Partai Gelora mengajak publik untuk mulai memperdebatkan suara yang hangus pada Pemilu 2024 lalu. Sebanyak 17,3 juta atau sekitar 11, 4 persen dari total suara Pemilu 2024 hangus dan tidak terkonversi menjadi kursi di DPR RI.
Hal itu dinilai sebagai akibat 10 partai politik yang menjadi peserta Pemilu 2024 lalu, tidak memenuhi ambang batas parlemen yang ditetapkan 4 persen. Apalagi, lanjut dia, jika ambang batas parlemen tersebut naik menjadi 5 atau 7 persen, maka akan semakin banyak suara yang nantinya terbuang dan tidak bisa dikonversi menjadi kursi.
Menurut dia, kondisi dan situasi tersebut tentu saja akan mengurangi minat partispasi publik mengikuti pemilu, karena suara mereka tidak dihargai, didengar, dan dihanguskan. “Nah, kita mulai akan masuk dalam perdebatan. Kita menyiapkan semua prosedur yang normal untuk mendorong perdebatan tersebut,” imbuhnya.Anis Matta optimistis pada Pemilu 2029 Partai Gelora akan melakukan lompatan besar dan mencapai target-target yang telah ditetapkan. “Saya punya confident (percaya diri) yang lebih tinggi pada Pemilu 2029 ini. Insya Allah kita bisa melewati sekarang (masuk ke DPR),” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Mahfuz Sidik menjelaskan bahwa Desk Verpol Partai Gelora yang dihadiri para Ketua Pemenangan Teritori (KPT) telah menyepakati proyeksi 75 + 1 jumlah DPD (Dewan Pimpinan Daerah) dan 60 DPC (Dewan Pimpinan Cabang) yang akan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai syarat menjadi peserta Pemilu 2029.
"Secara akumulatif nasional kita sudah melampaui ambang batas minimal. Namun, kita tetap melakukan pendampingan untuk wilayah-wilayah dinamis seperti Bali, Nusa Tenggara, Sumbar, dan Papua terus kita kencangkan," kata Ketua Desk Verpol Pusat Partai Gelora ini.
Data atau dokumen akan mulai dimasukkan atau di upload ke dalam Sistem Informasi Partai Politik (Sipol) KPU. Hal itu diharapkan selesai pada Desember 2026, untuk menghindari penumpukan data di akhir masa pendaftaran KPU tahun 2027. “Mudah-mudahan data-data yang sampaikan ke KPU terverifikasi semua dan memenuhi syarat (MS). Kita optimis Partai Gelora lolos menjadi peserta Pemilu 2029,” pungkasnya.










