BNPB Temukan Ribuan Titik Hotspot Karhutla, 52 Armada Udara Dikerahkan
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih memerlukan penanganan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni sebanyak 1.836 titik dengan indikasi luas lahan terbakar mencapai 36.310 hektare.
"Di Kalimantan Barat, kita menemukan banyak titik hotspot dan ini ada sebesar 1.836 titik dengan lahan yang terbakar diindikasikan seluas 36.310 hektar lebih," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers virtual, Selasa (25/8/2026).
Sementara itu, Sumatera Selatan tercatat memiliki 1.517 titik hotspot dengan indikasi lahan terbakar mencapai 1.926 hektare. Kalimantan Tengah memiliki 1.396 titik hotspot dengan indikasi lahan terbakar sekitar 7.634 hektare, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat 473 titik hotspot dengan luas lahan terbakar sekitar 8.019 hektare.
Baca juga: Pencegahan Karhutla Harus Berbasis Sains dan Verifikasi
Untuk Riau, BNPB mencatat 447 titik hotspot dengan indikasi lahan terbakar mencapai 15.736 hektare. Adapun Jambi tercatat memiliki 253 titik hotspot dengan indikasi luas lahan terbakar sekitar 379 hektare.Meski demikian, Berton menyebut hujan mulai turun di sejumlah wilayah Riau dan diharapkan dapat membantu menekan kemunculan titik panas serta meningkatkan kelembapan lahan.
"Untuk Riau, kami akan menyampaikan ada berita baiknya di beberapa kabupaten penting di Riau, terjadi saat ini sedang hujan. Semoga di tempat lain di Riau ataupun di provinsi yang lain juga terjadi hujan," ujarnya.
Untuk menangani karhutla tersebut, BNPB mengerahkan 52 unit armada udara yang digunakan untuk patroli udara maupun operasi pengeboman air atau water bombing di sejumlah wilayah terdampak.
"Sedangkan Satgas Udara sebagaimana sudah disampaikan kemarin bahwa ada 52 armada udara yang sudah di-deploy. Dan ini potensial bertambah," kata Berton.Dari total armada tersebut, 15 unit digunakan untuk patroli udara dan 37 unit lainnya untuk operasi water bombing.
"15 di antaranya untuk patroli dan 37 di antaranya untuk water bombing. Di 52 ini ada 30 di Kalimantan dan 22 ada di Sumatera," ujarnya.
Menurut Berton, jumlah armada yang diterjunkan bersifat dinamis dan dapat ditambah apabila ditemukan titik kebakaran yang membutuhkan penanganan. Sebaliknya, pesawat dapat dialihkan ke provinsi lain apabila kondisi di suatu wilayah mulai terkendali.
BNPB menyebut operasi penanganan karhutla dilakukan melalui jalur darat dan udara. Operasi darat saat ini masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BNPB mengakui penanganan karhutla masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari cuaca kering dan hari tanpa hujan, keterbatasan sumber air, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, hingga karakteristik lahan gambut yang membuat api mudah muncul kembali setelah dipadamkan. Selain itu, asap pekat juga kerap membatasi jarak pandang pilot sehingga menghambat operasi udara.








