Pemimpin Oposisi Israel: Upaya Netanyahu Batalkan Hasil Pemilu Gagal

Pemimpin Oposisi Israel: Upaya Netanyahu Batalkan Hasil Pemilu Gagal

Terkini | inews | Senin, 2 November 2026 - 08:36
share

TEL AVIV, iNews.id - Pemimpin oposisi Israel dari partai Yashar, Gadi Eisenkot, menegaskan upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk membatalkan hasil pemilu pekan lalu telah gagal. Bukan hanya itu, Eisenkot menegaskan tak akan ada pemilu lanjutan karena pemerintahan Israel akan terbentuk tanpa keterlibatan kelompok sayap kanan Netanyahu.

Mantan Panglima Pasukan Pertahanan Israel (IDF) itu juga menegaskan, upaya Netanyahu tersebut tercela dan jahat.

"Upaya tercela dan jahat untuk mengingkari hasil pemilu, menantang kehendak publik, mencemarkan nama baik seluruh komunitas, dan menyeret Israel ke pemilu baru yang telah gagal," tulis Eisenkot, dalam pernyataan di X, dikutip Senin (2/11/2026).

"Hanya seseorang yang menyadari bahwa dia telah kalah, akan siap melancarkan kampanye delegitimasi kasar seperti itu, bahkan dengan mengorbankan kepercayaan publik terhadap lembaga negara," katanya, lagi.

Eisenkot menegaskan hasil pemilu Knesset sudah tegas dan jelas, meski perolehan kursi kubu oposisi di bawah blok Netanyahu, yakni 48 berbanding 53. 

Dia juga menyambut baik pernyataan Ketua Komisi Pemilihan Pusat, Hakim Noam Sohlberg, yang menegaskan integritas pemungutan suara.

“Abaikan kebisingan latar belakang dan manuver politik yang berubah setiap jam. Rakyat adalah penguasa, dan mereka telah berbicara: Pemerintah yang gagal tidak mendapat dukungan mayoritas dan telah kalah dalam pemilu,” tulisnya.

Netanyahu dan Likud juga menuduh Qatar melakukan campur tangan melalui pendanaan yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi pemilih kalangan Arab dan memengaruhi hasil pemilu.

Likud mengeklaim punya rekaman dan materi lain yang mendokumentasikan suap, termasuk uang tunai dan voucher bahan bakar yang ditawarkan sebagai imbalan atas suara, menyebut aktivitas tersebut sebagai kecurangan pemilu.

Namun Likud belum secara terbuka menunjukkan bukti tuduhan campur tangan Qatar atau kecurangan pemilu.

Pemerintah Qatar menolak tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai kampanye hoaks yang bertujuan untuk menyeretnya ke dalam perselisihan politik dalam negeri Israel.

Pemimpin partai Arab Joint List, Mansour Abbas, juga membantah tuduhan Likud bahwa partainya mendapat pendanaan asing untuk memengaruhi hasil pemilu.

Blok Netanyahu meraih 53 kursi di Knesset dari total 120 yang diperebutkan. Sementara blok Eisenkot meraih 48, dan partai Arab 19 kursi. Baik blok utama Netanyahu maupun Eisenkot tidak mencapai 61 kursi yang dibutuhkan untuk bisa membentuk pemerintahan.

Hasil itu membuat Israel menghadapi kebuntuan politik. Pembentukan pemerintahan bergantung pada kesepakatan antar-blok. Partai oposisi juga terpecah belah mengenai kemungkinan menggandeng partai-partai Arab atau tidak.

Topik Menarik