Penelitian Ungkap Kondisi Gusi dan Indra Pengecap Perokok Berubah dalam 90 Hari
JAKARTA, iNews.id - Kebiasaan merokok dapat memengaruhi kesehatan mulut, termasuk kondisi jaringan gusi dan kemampuan mengecap rasa. Penelitian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG Unpad) terhadap personel marinir menemukan perbaikan pada sejumlah indikator kesehatan mulut setelah peserta beralih sepenuhnya dari rokok ke produk tembakau alternatif selama 90 hari.
Guru Besar Ilmu Periodonsia FKG Unpad, Profesor Dr Amaliya menjelaskan, penelitian ini dilatarbelakangi tingginya prevalensi merokok di lingkungan militer. Tekanan pekerjaan dan beban tugas menjadi sejumlah faktor yang mendorong personel militer mempertahankan kebiasaan tersebut, meski sebagian telah berupaya berhenti merokok.
Survei tim peneliti FKG Unpad pada 2026 menunjukkan prevalensi merokok aktif di kalangan marinir mencapai 45,8 persen. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan prevalensi merokok di masyarakat umum yang berada di kisaran 22-23 persen.
“Ternyata prevalensi merokok di subpopulasi militer mencapai 45,8 persen atau hampir dua kali lipat dibandingkan masyarakat umum yang berada di kisaran 22-23 persen,” ujarnya, dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) 2026 dilansir Rabu (28/10/2026).
Dalam penelitian tersebut, tim membandingkan kondisi personel marinir yang beralih sepenuhnya dari rokok ke produk tembakau alternatif dengan mereka yang tetap merokok. Pengamatan dilakukan selama 90 hari dengan menilai sejumlah indikator, meliputi aliran darah gusi, kondisi gusi secara klinis, kemampuan mengenali rasa, dan kadar karbon monoksida dalam embusan napas.
Untuk mengukur aliran darah pada jaringan gusi, peneliti menggunakan alat laser Doppler. Metode ini membantu memperoleh pengukuran objektif mengenai perubahan sirkulasi darah pada jaringan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang beralih sepenuhnya ke produk tembakau alternatif mengalami perbaikan aliran darah gusi. Warna gusi kelompok ini juga terlihat lebih cerah dibandingkan kelompok yang tetap merokok.
Perbaikan turut ditemukan pada kemampuan mengecap rasa. Peserta yang beralih menunjukkan peningkatan signifikan dalam mengenali rasa asin, manis, dan asam.
Temuan tersebut mengindikasikan adanya perubahan pada sejumlah indikator kesehatan mulut selama periode pengamatan. Namun, hasil penelitian ini tidak serta-merta membuktikan produk tembakau alternatif aman bagi kesehatan mulut atau dapat menghilangkan seluruh risiko akibat penggunaan tembakau.
Kadar Karbon Monoksida Ikut Menurun
Selain kondisi gusi dan kemampuan mengecap rasa, penelitian tersebut mengukur kadar karbon monoksida dalam embusan napas peserta.
Setelah tiga bulan, kelompok yang beralih sepenuhnya ke produk tembakau alternatif menunjukkan penurunan kadar karbon monoksida yang lebih besar dibandingkan kelompok yang tetap merokok. Kadarnya dilaporkan mendekati tingkat yang umumnya ditemukan pada individu yang tidak merokok.
“Hasil ini menunjukkan bahwa kadar karbon monoksida pada kelompok yang beralih menurun hingga mendekati tingkat pada orang yang tidak merokok,” ujar Amaliya.
Menurut Amaliya, temuan tersebut berkaitan dengan pendekatan tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau. Pendekatan ini berfokus pada pengurangan paparan zat berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran rokok.
Meski demikian, Amaliya menekankan pentingnya edukasi berbasis bukti agar konsumen dewasa memahami pilihan yang tersedia beserta risikonya. Dia juga menegaskan berhenti merokok tetap menjadi pilihan utama untuk menghindari risiko kesehatan yang berkaitan dengan kebiasaan merokok.










