Prabowo Minta BRIN Percepat Vaksin Malaria, Riset Karhutla hingga Energi dari Limbah Sawit

Prabowo Minta BRIN Percepat Vaksin Malaria, Riset Karhutla hingga Energi dari Limbah Sawit

Terkini | inews | Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:10
share

JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan vaksin malaria agar dapat selesai tiga tahun lebih cepat dari target semula. Selain vaksin, Prabowo mendorong riset strategis untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengembangkan energi dari limbah sawit, serta mempercepat penerapan teknologi pengolahan sampah.

Arahan tersebut disampaikan saat Prabowo menerima Kepala BRIN Arif Satria di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/10/2026). Dalam pertemuan itu, Arif melaporkan perkembangan sejumlah riset yang diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan nasional.

“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Dan kita berharap dengan support dari Bapak Presiden terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat tiga tahun lebih cepat dari seharusnya karena beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria,” ujar Arif.

Arif menjelaskan, BRIN saat ini mengembangkan empat kandidat vaksin malaria. Pengembangan vaksin tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat upaya penanganan malaria di dalam negeri, tetapi juga memberikan kontribusi bagi dunia.

Salah satu fokus riset adalah pengembangan vaksin untuk melawan parasit Plasmodium vivax. Arif menyebut riset ini penting karena jenis parasit tersebut belum memiliki vaksin yang tersedia.

Prabowo Minta Riset Karhutla Diperkuat

Selain bidang kesehatan, Prabowo juga menekankan pentingnya riset untuk menangani karhutla, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. BRIN telah berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta TNI Angkatan Udara dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), termasuk melalui operasi menggunakan dry ice.

“Bapak Presiden terus memantau karhutla dan terus menekankan betapa hasil riset untuk memecahkan masalah karhutla baik jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang ini harus dilakukan,” tutur Arif.

Untuk mengantisipasi kebakaran pada masa mendatang, BRIN juga mengembangkan riset mengenai pola perambatan api. Hasil riset tersebut diharapkan membantu memetakan pergerakan api sehingga upaya pencegahan dan penanganan karhutla dapat dilakukan lebih efektif.

“Bapak Presiden juga menekankan pentingnya riset jangka menengah, kemudian riset jangka panjang bagaimana mengantisipasi di masa depan, termasuk di dalamnya adalah mencari model-model perambatan api itu seperti apa sebenarnya sehingga kita bisa mengantisipasi di kemudian hari,” ucapnya.

Di sektor energi, BRIN mengembangkan pemanfaatan limbah industri kelapa sawit untuk menghasilkan biogas dan listrik. Arif menyebut limbah cair pengolahan sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) serta tandan kosong sawit berpotensi dikonversi menjadi energi listrik dengan kapasitas sekitar 3,9 gigawatt.

Potensi tersebut dinilai dapat mendukung diversifikasi sumber energi nasional, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.

“Jadi saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih 97 triliun per tahun dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan,” ucap Arif.

Pemanfaatan limbah sawit menjadi energi juga membuka peluang pengolahan hasil samping industri menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah.

BRIN Kembangkan 19 Kandidat Obat Herbal

Di bidang kesehatan, BRIN turut mengembangkan riset obat herbal untuk mendukung kemandirian obat nasional. Arif menyebut terdapat 19 kandidat obat herbal yang dikembangkan untuk menuju kategori fitofarmaka.

“Saat ini di BRIN sendiri ada 19 kandidat obat herbal untuk masuk pada fitofarmaka. Jadi beberapa obat yang ada di BRIN kan masih dalam taraf OHT, Obat Herbal Terstandarisasi. Sekarang ingin menuju pada fitofarmaka,” ucapnya.

Fitofarmaka merupakan kategori obat bahan alam yang telah melalui pembuktian ilmiah, termasuk uji klinik. Pengembangan kandidat obat herbal tersebut diharapkan memperkuat pemanfaatan hasil riset dalam pelayanan kesehatan.

Prabowo Dorong Teknologi Pengolahan Sampah Diterapkan
Prabowo juga meminta BRIN mempercepat penerapan teknologi hasil riset untuk mengatasi persoalan sampah. Teknologi yang dikembangkan diharapkan dapat digunakan langsung oleh masyarakat, termasuk di tingkat rumah tangga dan desa.

Arif mengatakan BRIN akan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk melibatkan perguruan tinggi dalam membantu penanganan sampah di desa-desa.

“Bapak Presiden mengarahkan bagaimana teknologi-teknologi level rumah tangga dan level desa ini segera diimplementasikan. Karena BRIN memang bukan lembaga yang memang bertugas memproduksi. Kita hanya membuat prototype, tapi kita ingin memastikan bahwa prototype yang kita buat ini membawa manfaat dan bisa digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Arif menegaskan, penerapan teknologi tersebut diharapkan mendukung gerakan ASRI yang dicanangkan Prabowo. Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan berbagai pihak, BRIN ingin memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Sehingga gerakan ASRI dari Bapak Presiden ini benar-benar bisa kita lakukan dengan baik, sesuai dengan harapan,” ucap Arif.

Topik Menarik