Anak Sering Menyipitkan Mata saat Membaca? Kenali Tanda Gangguan Penglihatan

Anak Sering Menyipitkan Mata saat Membaca? Kenali Tanda Gangguan Penglihatan

Gaya Hidup | inews | Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:09
share

JAKARTA, iNews.id - Anak sering menyipitkan mata saat membaca atau melihat tulisan di papan tulis? Orang tua sebaiknya tidak mengabaikan kebiasaan tersebut karena bisa menjadi salah satu tanda gangguan penglihatan, termasuk rabun jauh atau miopia.

Gangguan penglihatan pada anak terkadang tidak disadari sejak awal. Anak mungkin belum memahami bahwa penglihatannya tidak normal atau kesulitan menjelaskan keluhan yang dirasakan. Akibatnya, masalah mata baru diketahui ketika anak mulai kesulitan mengikuti pelajaran atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, mengatakan kelainan refraksi dapat dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini perlu dikenali sejak dini karena dapat memengaruhi kenyamanan belajar hingga kualitas hidup.

"Kelainan refraksi, seperti mata minus, plus, dan silinder, dapat dialami siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini kerap tidak disadari sejak awal, padahal dapat memengaruhi kenyamanan belajar, produktivitas, hingga kualitas hidup sehari-hari," kata Prof Tjahjono dalam keterangannya, Senin (26/10/2026). 

"Karena itu, pemeriksaan mata secara berkala penting untuk mengenali gangguan penglihatan sedini mungkin agar dapat ditangani secara tepat," tambahnya.

Salah satu jenis kelainan refraksi yang dapat dialami anak adalah miopia atau rabun jauh. Kondisi ini membuat objek yang berada pada jarak jauh terlihat kabur, sedangkan objek dekat umumnya masih terlihat jelas.

Selain miopia, anak juga dapat mengalami hipermetropia atau rabun dekat dan astigmatisme atau mata silinder. Setiap kondisi memiliki karakteristik berbeda sehingga diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab gangguan penglihatan dan menentukan penanganan yang sesuai.

6 Tanda Gangguan Penglihatan pada Anak

Selain kebiasaan menyipitkan mata, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan orang tua.

1. Sering menyipitkan mata

Anak menyipitkan mata ketika melihat televisi, membaca tulisan di papan tulis, atau memperhatikan objek dari kejauhan. Kebiasaan ini dapat menjadi petunjuk adanya kesulitan melihat dengan jelas.

2. Mendekatkan buku ke wajah

Anak terbiasa memegang buku terlalu dekat atau duduk dekat dengan televisi. Jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan, meskipun tidak selalu menandakan gangguan penglihatan.

3. Kesulitan melihat tulisan di papan tulis

Anak mungkin sering meminta bantuan teman, berpindah ke bangku depan, atau kesulitan menyalin tulisan dari papan tulis. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah gangguan penglihatan jarak jauh.

4. Sering mengucek mata

Anak berulang kali mengucek mata, terutama ketika membaca atau mengerjakan tugas. Keluhan ini dapat berkaitan dengan mata lelah, iritasi, alergi, atau masalah lainnya.

5. Mengeluhkan sakit kepala

Sakit kepala yang berulang setelah membaca atau melakukan aktivitas melihat dekat perlu diperhatikan. Meski tidak selalu disebabkan gangguan mata, keluhan tersebut dapat menjadi alasan untuk menjalani pemeriksaan.

6. Memiringkan kepala atau menutup salah satu mata

Anak mungkin melakukan kebiasaan tersebut saat melihat objek tertentu. Jika terus berulang, orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya.

Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti anak mengalami kelainan refraksi. Namun, jika muncul berulang kali atau mengganggu aktivitas belajar, pemeriksaan mata dapat membantu memastikan kondisi penglihatannya.

Mengapa Gangguan Penglihatan pada Anak Perlu Dideteksi Dini?

Gangguan penglihatan yang tidak terkoreksi dapat membuat anak kesulitan membaca, melihat materi pelajaran, dan mengikuti kegiatan di sekolah. Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu kenyamanan anak saat beraktivitas.

Dalam beberapa kasus, masalah penglihatan pada masa kanak-kanak memerlukan penanganan khusus. Ambliopia atau mata malas, misalnya, merupakan kondisi ketika perkembangan penglihatan pada salah satu atau kedua mata tidak berlangsung secara normal. Penanganan sejak dini penting untuk membantu mengoptimalkan perkembangan penglihatan.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai anak mengeluhkan pandangan kabur. Perubahan perilaku ketika membaca, menonton, atau melihat objek dari kejauhan juga perlu menjadi perhatian.

Pentingnya deteksi dini turut terlihat dari data skrining kesehatan mata Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dari sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun yang menjalani skrining pada 2025, sekitar 17 persen ditemukan mengalami gangguan penglihatan, termasuk miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.

Angka tersebut merupakan hasil skrining pada kelompok usia di atas tujuh tahun, bukan angka khusus anak-anak. Meski demikian, temuan itu menunjukkan pentingnya mengenali gangguan penglihatan dan memastikan masyarakat mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.

Prof Tjahjono menekankan pemeriksaan mata secara berkala diperlukan untuk mendeteksi gangguan penglihatan sedini mungkin.

Dia menyebutkan pemeriksaan mata dapat diulang setiap enam bulan hingga satu tahun, sesuai kondisi mata dan anjuran dokter.

Kapan Anak Harus Dibawa ke Dokter Mata?

Orang tua sebaiknya membawa anak untuk menjalani pemeriksaan jika kebiasaan menyipitkan mata, kesulitan melihat papan tulis, atau keluhan penglihatan lainnya terjadi berulang kali.

Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan ketika anak sering mengeluhkan pandangan kabur, sakit kepala saat membaca, atau kesulitan melihat objek pada jarak tertentu. Dokter akan mengevaluasi kondisi mata dan menentukan apakah anak membutuhkan kacamata atau penanganan lain.

Selain memperhatikan gejala, orang tua dapat membiasakan anak beristirahat secara berkala saat menggunakan perangkat digital, menjaga jarak pandang yang nyaman, serta melakukan aktivitas di luar ruangan secara teratur.

Waktu di luar ruangan diketahui berkaitan dengan penurunan risiko munculnya miopia pada anak. Namun, kebiasaan tersebut tidak menggantikan pemeriksaan mata jika anak sudah menunjukkan tanda gangguan penglihatan.

Jika anak mengalami penurunan penglihatan secara mendadak, nyeri mata berat, atau mata merah disertai gangguan penglihatan, segera cari pertolongan medis.

Mengenali perubahan perilaku anak sejak awal dapat membantu orang tua mengambil langkah yang tepat. Dengan pemeriksaan mata dan penanganan sesuai kebutuhan, gangguan penglihatan dapat diketahui lebih dini sehingga tidak terus menghambat aktivitas belajar dan keseharian anak.

Topik Menarik