Harga Minyak Dunia Turun usai Dekati Level Tertinggi dalam 6 Bulan
JAKARTA, iNews.id - Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah melonjak mendekati level tertinggi dalam enam bulan pada akhir pekan lalu. Meski begitu, serangan kelompok Houthi di Arab Saudi membuat kekhawatiran terhadap pasokan energi global masih membayangi pasar.
Melansir Reuters, minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI) turun 2,14 dolar AS atau 2,07 persen menjadi 101,13 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent melemah 2,12 dolar AS atau 1,82 persen menjadi 114,60 dolar AS per barel.
Pada perdagangan Jumat, harga minyak ditutup naik hampir 3 dolar AS per barel setelah serangan Houthi di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Sepanjang pekan lalu, harga Brent menguat sekitar 6 persen, sedangkan WTI naik 2,3 persen.
Serangan berlanjut selama akhir pekan. Houthi mengklaim telah menyerang bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi pada Sabtu, sementara pemerintah Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat lebih banyak rudal dan drone pada Minggu.
Arab Saudi, yang merupakan eksportir minyak terbesar dunia, mulai mengoperasikan kembali sebagian aktivitas di bandara utamanya pada Minggu setelah fasilitas tersebut mengalami kerusakan akibat serangan Houthi sebelumnya. Kelompok tersebut juga berjanji akan terus menargetkan fasilitas itu.
Di tengah risiko gangguan pasokan, Arab Saudi berencana mulai menyimpan minyak mentah di Singapura pada paruh kedua 2027. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan energi Arab Saudi di kawasan.
Rencana itu diumumkan oleh menteri energi kedua negara pada Senin. Penyimpanan minyak di Singapura diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga keandalan pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik.
Sementara itu, di Amerika Serikat, Departemen Energi pada Jumat menyatakan telah mengizinkan pelepasan 400.000 barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
Pelepasan cadangan tersebut dilakukan untuk mengatasi gangguan pasokan yang terjadi di sebuah kilang minyak di Louisiana. Langkah ini menjadi salah satu upaya pemerintah AS untuk merespons gangguan pasokan energi.










