Miris! 70.239 Balita Kena ISPA akibat Karhutla, Paru Terancam Rusak
JAKARTA, iNews.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat, terutama bayi dan balita. Mengapa begitu?
Asap yang dihasilkan dari karhutla dapat mengandung partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Dan, dampaknya patut menjadi perhatian serius.
Sebanyak 70.239 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita tercatat di wilayah terdampak karhutla berdasarkan data per 17 Oktober 2026. Angka tersebut merupakan bagian dari 311.363 kasus ISPA yang dilaporkan di tujuh provinsi terdampak.
Meski demikian, angka tersebut tidak berarti seluruh kasus ISPA pada balita dipastikan disebabkan langsung oleh paparan asap karhutla. Data itu menggambarkan beban gangguan pernapasan di wilayah terdampak yang perlu diwaspadai.
Lantas, bagaimana asap karhutla dapat memengaruhi kesehatan paru-paru, khususnya pada anak usia dini? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini.
Dampak Asap Karhutla bagi Paru Balita
Asap karhutla mengandung campuran partikel halus dan gas yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru.
Berikut sejumlah dampak paparan asap karhutla bagi sistem pernapasan anak.
1. Mengiritasi saluran pernapasan
Paparan asap dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Gejalanya bisa berupa batuk, tenggorokan terasa perih, serta peningkatan produksi lendir.
Pada anak-anak, keluhan tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat mereka merasa tidak nyaman, terlebih jika paparan asap berlangsung terus-menerus.
2. Memicu peradangan pada paru
Partikel halus dalam asap dapat masuk hingga bagian paru tempat pertukaran oksigen berlangsung. Paparan tersebut dapat memicu respons peradangan dan mengganggu fungsi normal sistem pernapasan.
Risiko gangguan kesehatan dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lamanya paparan, serta kondisi kesehatan masing-masing anak.
3. Memperburuk asma dan memicu sesak napas
Asap karhutla juga dapat memicu penyempitan saluran pernapasan, terutama pada anak yang memiliki asma atau penyakit paru sebelumnya.
Gejalanya dapat berupa mengi, batuk, dada terasa sesak, hingga kesulitan bernapas. Anak dengan riwayat gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
4. Meningkatkan risiko gangguan pernapasan
Paparan asap dapat memperburuk gejala pernapasan dan berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan seperti ISPA. Namun, infeksi pernapasan dapat disebabkan oleh berbagai faktor sehingga tidak semua kasus di wilayah karhutla dapat langsung dikaitkan dengan asap.
Orang tua perlu memperhatikan apabila anak mengalami batuk yang tidak kunjung membaik, napas lebih cepat dari biasanya, atau keluhan pernapasan yang semakin berat.
5. Berpotensi mengganggu perkembangan paru
Bayi dan balita termasuk kelompok rentan, karena paru serta sistem pernapasannya masih berkembang.
Paparan polusi udara yang pekat, berulang, atau berlangsung dalam jangka panjang menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan gangguan fungsi paru dan masalah pernapasan di kemudian hari.
Meski demikian, risiko tersebut tidak berarti setiap balita yang terpapar asap pasti mengalami kerusakan paru permanen. Dampaknya bergantung pada tingkat paparan dan kondisi kesehatan anak.
Mengapa Balita Lebih Rentan terhadap Asap Karhutla?
Balita memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap dampak polusi udara. Jika dibandingkan berdasarkan berat badan, anak-anak juga menghirup lebih banyak udara daripada orang dewasa.
Kondisi tersebut membuat paparan partikel halus menjadi perhatian khusus ketika kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Anak yang memiliki asma, penyakit paru, atau masalah kesehatan tertentu juga berpotensi mengalami gejala lebih berat ketika terpapar polusi udara.
Karena itu, perlindungan terhadap bayi dan balita perlu menjadi prioritas selama karhutla masih berlangsung.
Cara Melindungi Balita dari Paparan Asap
Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mengurangi paparan asap karhutla pada anak.
Pertama, batasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika memungkinkan, anak sebaiknya tetap berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih.
Kedua, tutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan rumah. Penggunaan alat penyaring udara dengan filter yang sesuai juga dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.
Ketiga, hindari aktivitas yang menghasilkan polusi tambahan di dalam rumah, seperti membakar sampah atau menggunakan sumber asap lainnya.
Keempat, jangan mengandalkan masker kain atau masker bedah untuk melindungi anak dari partikel asap yang sangat halus. Untuk balita, langkah utama adalah mengurangi paparan dan mencari tempat dengan kualitas udara lebih baik.
Terakhir, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, napas cepat atau sulit, maupun gejala yang semakin memburuk.
5 Tips Tetap Fit selama Musim Pancaroba
Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan kerusakan hutan. Asap yang menyebar juga menjadi ancaman kesehatan yang perlu diantisipasi, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi dan balita. Melindungi mereka dari paparan asap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan pernapasan saat kebakaran masih terjadi.










